Tampilkan postingan dengan label cerita konyol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita konyol. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2014

Loyalitas Karyawan

Beberapa waktu yang lalu ketika saya sedang mendiskusikan program loyalti untuk suatu produk, tiba-tiba salah seorang teman saya dari bagian sumber daya manusia mengajukan ide untuk mendisain program loyalti untuk karyawan perusahaan dimana saya bekerja.

Saya yang sedang berdiskui mengenai program loyalti tertegun sebentar sebelum mengajukan pertanyaan mendasar,'kenapa mendadak ingin mengadakan program tersebut.'

Saya tahu bahwa program loyalti tidak terbatas untuk konsumen saja tetapi juga bisa diterapkan pada karyawan suatu perusahan, tetapi tentu saja jenis program tersebut bukan poin reward, karena prinsip dari poin reward adalah memberikan reward kepada konsumen terhadap barang yang dibeli sehingga nantinya si konsumen - jika tertarik disamping senang menggunakan produk tersebut - diharapkan akan kembali lagi membeli produk tersebut dan tidak pindah ke lain hati.

Sementara untuk karyawan, tidak ada barang yang dibeli dari perusahaan. Justru karyawan itulah yang memberikan sesuatu atau dengan kata lain menjual pikiran dan tenaganya kepada perusahaan dan sebagai alat pembayarnya perusahaan tersebut memberikan gaji.

Nah, kembali ke topik alasan ingin mengadakan program poin reward tersebut, si rekan saya yang dari sumber daya manusia itu, tanpa jeda langsung menimpali pertanyaan saya. Katanya, program poin reward itu keliatannya ide menarik agar karyawan loyal bekerja di perusahaan tempat kita bekerja.

Saya tertegun sejenak sebelum mengeluarkan jurus senyum saya yang tidak pernah berhasil membuat atasan saya bertekut-lutut dan mengeluarkan kalimat ampuh saya, "Hah ? Gak salah tuh ? Kok poin reward sih ? Naikin aja gaji karyawan setiap kali, nanti juga loyal."

Tetapi kemudian - saat mobil saya terjebak macet - tiba-tiba ingatan saya kembali lagi ke percakapan dengan si rekan sumber daya manusia tadi.

Kalau nanti ternyata tiba-tiba si Presiden Direktur dari komunitas sableng ini tiba-tiba setuju, lalu apa kriteria pengumpulan poinnya ? Apa iya program poin reward pasti bisa membuat karyawan loyal ?

Ide untuk membuat karyawan loyal pada perusahaannya tentu saja suatu usaha yang patut mendapat acungan jempol. Tapi kenapa berpikirnya rumit sekali ya ?

Bagi saya, karyawan yang baik adalah karyawan yang loyal terhadap dirinya sendiri, karena dengan loyal terhadap dirinya sendiri, berarti dia akan memberikan totalitas terhadap tenaga dan pikirannya untuk mencapai target yang diterapkan perusahaan terhadap dirinya. Loyal terhadap diri sendiri berarti tidak akan membiarkan dirinya 'gagal' sehingga ujung-ujungnya tentu saja menguntungkan perusahaan disamping tidak akan merugikan dirinya sendiri sebagai seorang 'karyawan'.

Nah, lalu apa bedanya dengan saya loyal terhadap perusahaan saya ? Loyal terhadap perusahaan berarti apa pun yang terjadi saya tetap akan bekerja di perusahaan itu, walaupun ada kesempatan yang lebih bagus dari perusahaan lain, saya tetap tak bergeming. Cinta saya hanya kepada perusahaan itu. Cinta yang bagi saya membahayakan karena ketika perusahaan itu tiba-tiba mati, pastinya saya akan merana setengah mati.

Rasanya, saya ingin kembali dan berdebat dengan si rekan sumber daya manusia tadi, dan bertanya kriteria pengumpulan poinnya mau dilihat dari sisi apa, lama masa bekerja, lamanya menghabiskan waktu di kantor, waktu kedatangan, waktu kepulangan, tidak pernah sakit, tidak pernah izin ?

Sampai tahun jebot pun, andaikata kriteria tersebut di atas digunakan dan kemudian diterapkan, rasanya tingkat 'turn-over' perusahaan tersebut tidak akan berubah, mengalami peningkatan ya, tapi tidak akan mengalami penurunan.

Hari gini, coba deh introspeksi diri dulu, apakah saya sudah memberikan yang seharusnya kepada karyawan untuk membuat karyawan nyaman bekerja di perusahaan saya ?

Ah, namanya juga komunitas sableng, tidak heran ide-idenya juga sableng.

Sabtu, 16 Mei 2009

Zeppelin vs Jeppelin


Pada suatu sore, ketika kami sedang bertukar-cerita, tiba-tiba anak tercinta saya mengeluhkan rasa kesalnya karena guru IPA-nya menyalahkan jawaban kuis yang diberikan oleh gurunya.

Menurut si kecil, kesalahan bukan terletak pada dirinya melainkan pada sang guru yang tidak dapat melafalkan huruf Z dengan baik, sehingga se-isi kelas salah mencatat nama penemu balon gas.

Saat itu si guru sedang mendiktekan catatan IPA mengenai para penemu, salah satunya penemu balon gas. Ketika itu, menurut si kecil, sang Guru melafalkan nama si penemu balon udara dan ditangkap oleh semua, sebagai Jeppelin dan sebagai anak yang patuh pada gurunya, dengan tenangnya mereka mencatat sesuai lafal, “JEPPELIN”.

Hingga tibalah saat kuis saat sang guru hendak mengecek “pendengaran” dan “perhatian” yang diberikan murid-murid kecilnya. Sang guru dengan lantangnya bertanya, siapa penemu balon udara, dan sesuai pendengaran dan perhatian para murid, mereka menulis “Jeppelin”.

Tentu saja bukan kuis namanya kalau tidak diperiksa saat itu juga dan tentu saja pemeriksaan sampailah kepada soal siapa penemu balon udara. Para murid kecil itu tidak menyangka ketika sang guru menyalahkan mereka. Menurut si Pak Guru IPA itu, jawaban yang benar adalah “Zepellin” bukan “Jepelin”.

Kontan si murid-murid kecil itu protes, mereka bersikeras Pak Guru tidak bisa sewenang-wenang menyalahkan mereka. Kata mereka, “Pak Guru yang bener dong kalau ngomong. Zeppelin dengan Jeppelin kan beda. Z itu lafalnya beda dengan “J” a.k.a. “DJ”.

Si kecil pun protes ke saya, katanya “Pak guru itu koq aneh ya, memangnya jaman dulu orang-orang itu tidak bisa bilang “Z” ya ?

Saya pun tertawa miris karena si kecil lupa, paman dan bibinya” dari pihak ayahnya sampai sekarang pun kalau memanggil anaknya “Redja” walupun tertulis “Reza”. Sampai si Reza sudah kuliah, semua memanggil si Reza dengan “Eja”.

Lebih mirisnya lagi karena saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anak saya.

Untung suami saya bisa menjelaskan bahwa kemungkinan besar karena dalam bahasa daerah, lafal “Z” itu nyaris tidak pernah disebutkan dan walaupun saat ini sudah zaman modern, tetap saja bahasa daerah tidak pernah kehilangan esensinya. Akibatnya, generasi saya pun tidak bisa menghilangkan kebiasaan mereka mengganti “Z” menjadi “J” dan parahnya lagi itu diturunkan ke generasi anak saya.

Saya jadi teringat ketika zaman kuliah Bahasa Perancis dulu, bagaimana si dosen setengah hidup harus mengajarkan mahasiswanya yang berasal dari suku X untuk melafalkan “Zye” untuk “Je” atau saya dalam bahasa Perancis. Lucunya, bahkan ketika saya mengikuti kursus Bahasa Perancis pun beberapa tahun kemudian, salah seorang peserta kursus dari suku X itu tetap masih mengalami masalah yang sama.

Hingga kini saya masih terngiang-ngiang suara si dosen dan guru kursus Bahasa Perancis saya yang dengan gigihnya mengajarkan teman saya untuk mengucapkan “Zye” .

Akhirnya saya pun menutup kuliah suami saya dengan menyampaikan wejangan saya, “Orang lain boleh tidak dapat menyampaikan lafalnya dengan baik, tetapi karena kamu tahu, kamu tidak boleh ikut-ikutan dengan mereka yang tidak dapat melafalkannya dengan baik.”

Minggu, 26 April 2009

Ketika Sang Dewa Turun Gunung


Pernah baca postingan saya yang judulnya “Kamisan”, nah kali ini “Kamisan” saya sudah berganti judul menjadi “Harian”, ya … Harian persis seperti buruh harian. Dari semula meeting hari Kamis sore menjadi “Harian Pagi”, persis seperti jadwalnya Harian Kompas, Tempo, Sindo, yang terbitnya pagi hari di jam yang kurang lebih sama.

Bedanya dengan Harian Pagi hanya di waktu persiapannya. Kalau harian pagi dicetak pagi hari sekitar pukul 23.00 – 01.00, nah kalau Harian Pagi kantor saya pukul 09.30 hingga waktu tak terbatas, tergantung suasana hati si Dewa.

Selain itu rapat untuk isi Harian Pagi selalu disiapkan dari hari sebelumnya, di pagi hari. Nah kalau Harian Pagi Kantor Saya, persiapannya selalu tergantung hari itu pembicaraannya apa. Malah lebih sering persiapannya berdasarkan pertanyaan Dewa yang tidak dapat dijawab pada saat itu juga.

Bayangkan saja, ketika Dewa turun gunung 1 minggu 1 kali, para raja dan panglima kerajaan sudah dibuat lumpuh sebelah, karena tidak ada apa pun yang bisa dikerjakan selama 3 hari sebelum hari Kamis; mereka sibuk mengerjakan laporan buat Dewa.

Nah sekarang setelah setiap hari Dewa turun gunung, bisa dibayangkan bukan, bagaimana raga dan jiwa para Raja dan Panglima Kerajaan. Kalau sebelumnya sudah lumpuh sebelah sekarang malah mati suri. Mati suri karena tidak ada gunanya lagi berpikir, mana ada strategi kerajaan kalau tiap hari kerjanya sudah seperti Harian Pagi Kompas, Tempo, Sindo.

Kalau dulu para penjilat dan pemanfaat situasi a.k.a kaum oportunis seperti si JK, bermain secara halus, sekarang sudah tidak malu-malu lagi, tidak perduli lawan bicaranya masih ingat apa yang mereka katakan 2 hari lalu. Selama pernyataan mereka bisa menjamin kelangsungan pasokan beras di rumah, maka sah-sah saja sikap mereka itu.

Kalau dulu, semua seperti koor kalau ditanya, sekarang kalau bisa persis seperti anak umur 6 tahun yang sedang di tes sama gurunya. Harus ditanya berkali-kali baru bersedia menjawab.

Kepala yang menduduk pura-pura sibuk membaca blackberry atau pura-pura sibuk menatap layar laptop, hihihihi….tak terkira jumlahnya. Sayang si Dewa tidak punya kemampuan memandang langsung isi blackberry atau laptop anak buahnya. Jika saja si Dewa memiliki mata yang jeli, pastilah karyawan Harian Pagi akan kena pecat, karena sibuk dengan Facebook dan Plurk.

Kalau dipikir-pikir, kepala para peserta meeting Harian Pagi seperti kura-kura, keluar-masuk, keluar-masuk, tergantung situasi dan kondisi di luar “batok” mereka.

Yang menarik adalah ketika si Dewa bertanya tepat di hari ke-14 meeting Harian Pagi diadakan, “Bagaimana ? Apakah kalian merasakan adanya perubahan dengan meeting yang saya lakukan setiap hari ini.”

Semua kepala langsung masuk ke dalam batoknya dan pelan-pelan keluar lagi. Bukan untuk bilang “Ya Pak, kami merasakan adanya perubahan.” Tetap saling tengak-tengok, melihat arah angin jawaban yang diberikan sesama kura-kura.

Saya ? Hehehehe....saya pun seperti mereka, golongan kura-kura juga tetapi kura-kura yang punya prinsip, karena setidaknya saya masih menggumam, “Bagaimana ada perubahan, kalau setiap hari kerjanya meeting, setengah hari habis hanya untuk main facebook. Kapan saya mikirnya Pak.”

Gumaman yang membuat rekan kura-kura di samping saya menyodok saya supaya diam, karena takut si Dewa malah mengeluarkan lagi kata-kata saktinya, “Revenue tidak apa-apa turun, yang penting masih ada arah positif. Kalian hanya jago buat produknya saja tetapi tidak pernah memikirkan akhirnya.”

Sebenarnya saya kepingin bilang sama Dewa, “Pak, dimana-mana semua itu harus pakai strategi. Kalau strategi kita salah, ya ditunjukkan saja bagaimana cara kita melihat atau mendesain suatu produk sehingga terjadi peningkatan revenue.” Dan bicara soal strategi, “Itu kan bukan pekerjaan sangkuriang, sehari jadi. Orang itu harus berpikir, harus melihat data, melihat kegagalan produk yang lampau dimana.” Nah, bagaimana kita bisa berpikir, kalau kerjanya “Bentuk team kecil ya.., lusa saya mau kalian presentasi rencana kerjanya.”

Tadi, ketika saya menonton Red Cliff 1 dan II, saya menemukan kata-kata bijak, contoh soal, yang rasanya ingin saya bawa ke dalam rapat Harian Pagi kantor saya.

Sebagai si lemah, kerajaan yang nyaris tidak diperhitungkan, tentu saja kita tidak bisa membabi-buta menghabiskan semua peluru kita untuk menumpas si musuh.

Pertama, kita harus mampu mengenali siapa musuh kita sebenarnya. Kemudian menaksir kekuatan mereka dibandingkan dengan kekuatan kita. Setelah itu bagaimana membuat strategi perang yang pihak lawan pun termakan oleh strategi tipuan kita.

Nah, di film yang keren itu, bagaimana menentukan strategi perang tidaklah hasil berpikir semalam, tetapi hasil pembahasan berkali-kali, membaca karakter lawan, melihat kelemahan lawan dimana, dan melihat “alam” a.k.a situasi sekeliling.

Tapi berhubung saya bukan saudara Dewa, juga bukan anggota Tim Kecil si Dewa, maka percuma juga saya berbicara, paling-paling yang ada saya akan kena muntahannya dia lagi. Muntahan yang baru akan dengan senang hati disemprot dengan Glade, si pengharum ruangan, jika ternyata Dewa melihat dengan mata kepalanya dia sendiri bahwa apa yang saya sampaikan benar-benar menjadi kenyataan.

Jadi ? Bagaimana ?

Hahahaha…terpaksa saya harus menunggu sampai Dewa bosan. Semoga ketika si Dewa bosan, saya masih punya tenaga untuk berpikir….


Rabu, 15 April 2009

Catatan yang tertinggal dari Misa Paskah Anak-Anak


Hari Minggu lalu, 12 April 2009, adalah hari Paskah bagi seluruh umat kristiani di dunia. Bagi pemeluk agama Katolik, Misa Paskah bahkan lebih penting dari Misa Natal.

Paskah adalah perayaan terakhir dari 3 hari suci (Trisuci), Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah (Upacara Cahaya). Sehingga, mengingat panjangnya rangkaian upacara itu, maka khusus pada Hari Paskah (hari Minggu) diadakan misa tersendiri bagi anak-anak.

Diharapkan dengan diadakannya Misa Paskah bagi Anak-anak maka anak-anak dapat mulai belajar mengenai tata cara ibadah dan mendapatkan pemahaman yang sesuai dengan kapasitas umur mereka.

Maklum saja, jika bukan Misa Paskah Anak-Anak, tentu liturgi dan khotbahnya dikonsumsikan bagi para orang tua, yang akan sangat membosankan bagi anak-anak. Alih-alih mereka duduk dengan tenang, yang ada malah mereka mencari cara untuk keluar dari aura kebosanan. Akibatnya, orang tua sibuk menyuruh anak untuk duduk manis dan tidak mendengarkan khotbah atau mengikuti liturgi dengan baik.

Saya seumur-umur baru 1 kali menghadiri Misa Paskah Anak-Anak, bukan karena tidak sempat tapi karena malas. Maklum saja, pengalaman pertama menghadiri Misa Paskah Anak-Anak ketika si sulung masih berumur 6 tahun dan yang kecil baru 1 tahun, dan harus mengawasi mereka seorang diri, membuat tenaga saya terkuras habis.

Maka dari itu, ketika putri bungsu saya, jauh-jauh hari menginformasikan bahwa dia terpilih sebagai anggota Paduan Suara untuk Misa Paskah, pengalaman masa lalu terbayang kembali. Tetapi kalau diingat si kecil sekarang sudah berumur 11 tahun dan posisinya saat ini adalah “Anggota Paduan Suara”, maka saya membulatkan tekad untuk menghadiri Misa Paskah Anak-Anak untuk mengikuti Misa Paskah sekaligus memberi semangat baginya.

Sebagai Ibu, tentu saja saya ingin duduk di tengah di barisan terdepan. Tetapi karena kali ini gereja diprioritaskan untuk anak-anak, saya harus duduk di pinggir di barisan Lansia. Walaupun harus tebal muka karena wajah saya belum sekeriput si Inang boru Simanjuntak yang duduk di sebelah saya, demi anak saya acuh saja.

Mengingat namanya misa anak-anak, tentu saja suasananya hingar bingar, apalagi banyak orang tua yang tidak ingin meninggalkan zona kenyamanannya, sehingga bolak-balik petugas tata tertib harus memberikan pengumuman agar para orang tua sadar bahwa misa pagi itu adalah misa anak-anak.

Keributan kecil khas anak-anak pun mulai terdengar. Dari anak-anak yang tidak dapat duduk diam hingga keluar dari bangku dan mulai berlari-lari di dalam gereja saat Misa dimulai sehingga membuat seorang Ibu lari-lari mengerja si anak, hingga memberitahu anak-anak sikap berdoa saat upacara berlangsung.

Keributan ini hanya berhenti saat Pastor berkhotbah. Maklum saja, khotbah dibuat dalam bentuk sesi tanya-jawab, sehingga mereka harus menyimak pertanyaan si Pastor. Pada saat itulah, tiba-tiba saya teringat masa-masa ketika kedua putri saya seumur anak-anak itu.

Judulnya saja Anak-Anak tentu bisa dibayangkan bukan jawaban mereka, polos dan tidak berdosa. Kejujuran mereka juga luar biasa, kejujuran yang sesuai dengan pemahaman mereka.

Ada 1 anak yang menarik perhatian saya, bukan karena dia semangat menjawab, tetapi karena dia semangat mengangkat tangannya, tanpa memperdulikan benar atau salah. Ketika Pastor bertanya siapa yang suka berkelahi, dengan tenangnya dia mengangkat tangannya, sementara anak-anak lainnya duduk manis menyembunyikan tangannya.

Ketika Pastor bertanya “Siapa yang cinta Tuhan Yesus ?” semua anak termasuk si anak itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Kemudian ketika sang Pastor bertanya lagi, “Siapa yang mencintai Iblis ?” hanya 1 tangan yang teracung; pemiliknya siapa lagi kalau bukan si anak itu.

Bisa dibayangkan bukan suasana di dalam gereja saat Pastor dan para orang tua melihat adegan itu.

Jawaban mereka pun juga lucu-lucu, jawaban yang jujur dan sesuai dengan pemahaman mereka.

Saat Pastor bertanya, “Anak-anak, kita harus rajin apa ?” Dengan spontan anak-anak itu menjawab, “Harus rajin berdoa. Harus rajin ke gereja. Harus rajin belajar.” Dan ketika Pastor bertanya lagi, masih kurang satu harusnya, si anak kecil yang rajin mengacungkan tangannya dengan sigap berkata “Rajin makan Pizza, Romo”.

Ketika dilanjutkan “Siapa yang rajin membantu orang tua”, hanya sebagian yang mengangkat tangan. Ketika dilanjutkan dengan pertanyaan membantu orang tua yang seperti apa, dengan tenangnya salah satu anak yang cukup gembul menjawab, “membantu orang tua menghabiskan makanan.”

Atau ketika Pastor bertanya, “Siapa yang sudah melihat telur Paskah raksasa ?” mereka berebut ingin melihat. Tapi ketika Pastor mengatakan bahwa telur Paskahnya sudah tidak ada dan bertanya kenapa sudah tidak ada, dengan tenangnya mereka menjawab “Telur Paskahnya dicuri..!”

Dan orang tua yang sudah tidak sanggup lagi menahan tawanya, serempak tertawa mendengarkan jawaban anak-anak mereka.

Khotbah yang bagi orang dewasa kadang menjadi bagian yang mengantukkan, ternyata di mata-anak-anak seperti mendengarkan dongeng. Tetapi justru dengan cara seperti itu, ketika Pastor bertanya mengenai arti Paskah, mereka dapat menjawab dengan benar, dan serempak pula.

Melihat suasana hari Paskah anak-anak pada hari itu, membuat saya tiba-tiba rindu celotehan putri sulung saya yang sebentar lagi memasuki masa remaja, membuat saya terhenyak menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi si bungsu menjadi ABG. Rasanya baru kemarin saya mengandung mereka. Rasanya baru kemarin saya menggendong mereka dalam pelukan saya saat menghadiri Misa, mencatatkan khotbah Pastor untuk tugas agama mereka. Rasanya baru kemarin saya mengajarkan mereka cara beribadah. Dan saat itu rasanya saya ingin memeluk mereka erat-erat dan tidak ingin melepaskan mereka.

Tahun ini Paskah saya menorehkan catatan tersendiri di dalam hati saya dan saat ini ketika saya menuliskan kembali catatan yang tertinggal di benak saya, sekelebat kutipan puisi Kahlil Gibran melintas di depan saya, “Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri Sang Hidup, ......”

Jumat, 10 April 2009

Cerita Di Balik TPS


Sepanjang hidup saya mempergunakan hak pilih saya sebagai seorang warga negara Indonesia, baru kali ini TPS menjadi tempat yang penuh warna, tempat dimana saya menemukan cerita-cerita lucu. Cerita yang dibandingkan dengan 4 (empat) tahun lalu tidak seunik saat ini.

Pagi itu, tanggal 09 April 2009, sambil menikmati embun pagi dan bau tanah basah, ditemani kedua anjing tercinta saya, Lady dan Whitey, saya berdebat dengan diri saya sendiri, apakah saya ingin menggunakan Hak Pilih saya atau memilih menjadi Warga GolPut. Mungkin karena suasana pagi dan tempat TPS yang hanya dihiasi kursi-kursi yang masih kosong, akhirnya saya memutuskan menggunakan Hak Pilih saya.

Alasannya sederhana, agar saya bisa memprotes jika negara ini dijalankan tidak sesuai dengan janji-janji yang telah diberikan.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi, matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya ketika saya berjalan ke lokasi TPS, tempat dimana saya memberikan suara saya.

Dalam perjalanan menuju lokasi TPS, tiba-tiba telinga saya menangkap serombongan anak kecil berceloteh

Cerita Pertama

Anak I : “Gue pikir TPS itu seperti apa tempatnya, nggak tahunya cuma begitu aja ya.”
Anak II : “ Iya, dindingnya dari kaleng lagi.”
Anak III : “ Gue males ah nemenin nyokap gue disana.”
Anak IV : “Main sepeda aja yuk, biarin aja orang tua pada milih.”


Tiba-tiba saya disapa oleh si Abang, anak tetangga saya yang masih duduk di kelas 3 SD

Abang, “Tante ... tante mau nyoblos ya ?”
Saya , “Bukan nyoblos Abang, tapi contreng.”
Abang, “Tante mau nyontreng siapa ?”
Saya, “Rahasia dong Bang, menurut Abang, Tante harus milih siapa ?”
Abang, “Tante harus contreng Demokrat ya, ingat lho Demokrat.”

Saya jadi tersenyum mendengar pesan si Abang, setelah sebelumnya saya dititipi untuk memilih teman yang menjadi caleg dari Partai A dan B, kali ini saya malah dititipi pesan sponsor dari si Abang, yang ada di rombongan peninjau TPS.

Ketika saya tiba di lokasi TPS, ternyata petugas masih sibuk memilah-milah surat suara yang lumayan banyak.

Makan waktu sekitar 30 menit kemudian barulah waktu memilih dibuka dengan Assalamualaikum, diiringi permintaan maaf, bahwa waktu untuk memilih terpaksa harus mundur sekitar 1 jam. “Maklum Bapak/Ibu, surat suaranya banyak sekali, mudah-mudahan 4 tahun lagi, mereka yang partai kecil sadar, nggak usah bikin partai lagi.”kata si Ketua TPS

Benar-benar kalimat pembuka yang ampuh, kontan para pemilih berkomentar menanyakan bagaimana cara mencontreng.

“Bapak/Ibu, mumpung masih ada waktu sedikit, silakan melihat-lihat gambar caleg dari partai-partai yang ada, supaya bisa mencontreng dengan yakin.”kata si Ketua menimpali

Tanpa diberi aba-aba lagi, para Bapak/ibu yang sudah masuk kategori “Dewasa” tadi, langsung menyerbu ke papan tempat dimana foto para caleg terpampang.

“Ah …sudahlah, kalau susah, contreng saja partainya. Atau cap-cip-cup saja nama orang dari Partai yang kita pilih,” terdengar suara seorang Bapak. “Ayo Pak, kita mulai saja deh, daripada tambah pusing,” sahut seorang Ibu-ibu

Dan sambil menunggu giliran saya, inilah hasil rekaman saya :

Cerita Pertama

Si Anak : “Papa .. aku boleh nyontek Papa nggak ? Aku sama Papa aja deh contrengnya, boleh
nggak ?
Si Ayah : “Lho, nggak boleh dong sayang. Kamu harus milih sendiri.”
Si Anak : “Aku bingung nih Pa, aku nggak tahu harus contreng yang mana.”

Cerita Kedua

Si Istri : “Ingat lho Mas, kalau bisa contreng Partai Anu ya Mas.”
Si Suami : “Iya ..sudah saya mau contreng dulu.”

Tiba-tiba ketika suami sedang di Bilik Suara, si Istri datang …

Si Istri : “Mas ..lihat dong pilihannya, biar aku nggak salah”
Si Suami : “Hus …sana, balik ke tempatmu. Sudah .. kamu milih sendiri”

Cerita Ketiga

Istri, “Pak..aku koq deg-deg-an ya .., aku boleh nyontrengnya deket kamu nggak ?
Suami, “Ya sudah, sini di belakangku saja, Bu.”

Saat sedang mencontreng

Istri, “Pak, tolong periksa kertasku, bener nggak aku nyontrengnya. Milih yang ini kan ?
Suami, “Iya sudah, nggak usah aku periksa lagi, sudah bener koq Bu.”

Cerita Keempat

Ibu-ibu, “Pak ..aku koq nggak bisa ngelipetnya sih. Heran ini bagaimana sih yang bikin suratnya, koq susah banget sih.”
Petugas TPS, “Susah ya Bu, sini saya bantuin lipat. Saya petugas pelipat kertasnya.”

Tak lama kemudian, terdengar suara ketua TPS :

“Bapak/Ibu, kalau kesulitan untuk melipat kertas suaranya, kami sudah menyediakan petugas khusus pelipat kertas suara.”

Akhirnya tibalah giliran saya a.k.a cerita penutup :

Saya, “Pak, ada ballpoint lain Pak ?”
Petugas TPS, “Lho, kenapa Bu, ballpointnya macet disana ?”
Saya, “Bukan Pak, tapi karena saya kidal, bapllpointnya kan diikat, talinya tidak sampai Pak, saya nggak bisa nyontrengnya Pak."
Petugas TPS, “Hahahaha….ada yang punya ballpoint merah nggak ? Harus warna merah lho.” Ini Bu, pakai yang ini saja dulu.”

Akhirnya saya pun menggunakan Hak Pilih saya dengan ballpoint warna merah …..


Saya pun pulang ke rumah, mensyukuri keputusan saya menggunakan Hak saya sebagai seorang warga negara sehingga bisa menikmati sejumput cerita di Balik Bilik TPS.

Senin, 15 Desember 2008

Martabak Angin


Bagi mereka yang pernah pulang ke Jakarta melewati jalan darat, tepatnya jalur utara, pasti pernah mendengar daerah yang bernama Jatibarang.

Tidak ada yang istimewa dari daerah itu, apalagi kalau kita melintasi daerah itu pada pagi/siang hari, benar-benar gersang dan nyaris nama daerahnya saja pun tidak terbaca.

Saya sendiri pun, yang sudah berkali-kali melintasi dari daerah itu, baik pagi maupun malam, tidak sekalipun melihat istimewanya daerah itu, hingga hari Jumat malam minggu lalu, ketika tiba-tiba adik ipar saya bercerita kalau di daerah tersebut ada tukang Martabak Angin.

Tukang martabak angin tersebut sangat istimewa karena dia tidak pernah berhenti membuat martabak, seperti halnya tukang martabak yang kerap kita temui di Jakarta. Martabak buatannya selalu laris, tidak ada kata Martabak Nganggur digerobaknya.

Apa sih istimewanya martabak angin itu ?

Rupanya selain harganya yang murah, hanya Rp 3.000,- saja, isinya pun juga sederhana, hanya daun bawang, disamping telur tentunya.

Tetapi kenapa disebut martabak angin ?

Hehehe, ya itu tadi, karena begitu martabak tersebut selesai dibuat, secepat angin pula martabak tersebut berpindah-tangan dari si pembuat ke si pembeli.

Hebatnya lagi, si tukang martabak tersebut mempunyai daya ingat yang luar biasa, adik ipar saya saja yang sudah 1 bulan tidak mampir, ketika ia mampir lagi membeli martabak angin tersebut ditegur oleh si penjual martabak.

Katanya, “Wah tumben sudah lama tidak mampir. Nggak pulang ke Jakarta ya ?”

Benar-benar service yang luar biasa, cepat, murah dan mampu mengingat pelanggannya yang hanya datang membeli 1 minggu sekali.

Lalu, siapa yang memberi nama Martabak Angin ?

Kata adik ipar saya, habis apa lagi dong namanya ? Dia sih nggak tahu kalau gue julukin si abang martabak angin. Habis memang kayak angin kan ? Wes .. Wes …. Nggak pernah nunggu deh martabaknya, selesai dibikin sudah ada yang ambil.

Jadi kangen nih sama si Martabak Angin….

Mau tahu tempatnya, cari saja Tukang Martabak yang mangkalnya di sebelah Toko Alfamart, pastinya ya hanya dia. Tidak ada tukang martabak lain.

Sabtu, 04 Oktober 2008

Salam Tempel dan Anak-Anak


Lebaran di mata orang dewasa tidak pernah semeriah Lebaran di mata anak-anak. Bagi mereka, lebaran itu identik dengan baju baru, kue-kue kering kesukaan mereka, makanan yang berlimpah dan tentu saja si “salam tempel”.

Nah, untuk urusan salam tempel ini, Lebaran kali ini ada sesuatu yang menarik untuk disimak, karena peristiwa ini terjadi di depan mata saya sendiri, peristiwa celoteh anak-anak saya dan sepupu-sepupu mereka a.k.a keponakan saya.

Seperti biasa, sebelum melakukan ritual salam tempel, para ibu saling bertukar informasi mengenai besarnya uang yang akan dibagikan. Biasanya kelompok tersebut terbagi dua, kelompok sosialis dan non-sosialis. Kelompok sosialis menganut asas pemerataan, sedangkan kelompok non sosialis, tentu saja kebalikannya, pembagian uang dilihat dari tingkatan pendidikan mereka.

Khusus untuk tahun ini, karena situasi ekonomi yang kurang mendukung, kami pun sepakat harus menurunkan nilai salam tempel. Maksud hati sih untuk mengajarkan mereka bahwa adakalanya prihatin itu perlu.

Nah, ketika acara salam tempel berlangsung, mereka pun seperti biasa bersorak-sorak, ternyata yang namanya anak-anak dimanapun tetap sama, selalu saja ada hal yang tak terduga yang terjadi.

Adegan I, saat salam tempel :

“Lho, koq aku dapat yang sama dengan yang SMP, aku kan sudah bukan anak kecil lagi Oom, aku kan sudah SMA. Tambahin lagi dong Oom.”

“Lho, koq Bagus yang belum bisa dapat jalan dapatnya nggak beda jauh sama aku ?”

“Aku kan belum kerja, masih kuliah, koq kali ini aku nggak dapet sih ? Nggak mau ah, aku juga harus dapat.”

Adegan II, sesudah salam tempel terjadi, ketika para pedagang kecil itu menghitung uang hasil perolehan mereka.

“Wah, tahun lalu kita bisa dapat sampai 300 ribuan, koq tahun ini 100 ribu saja tidak sampai sih ?”

“Siapa yang belum datang ya ? Tapi kalau Tante A dan Oom B datang pun, jumlahnya tidak akan sampai sebesar tahun lalu.”

“Oh, rupanya si Oom C belum ngasih, padahal tahun lalu kita semua kebagian dari Oom C”

“Mau beli apaan dong ? Main ke Time Zone saja tidak cukup uangnya.” Terus yang satu menimpali “Apalagi buat beli Tamiya”.

“Memangnya tahun ini ada apa sih sampai mereka nggak bisa ngasih salam tempelnya banyak ?”

Adegan terakhir, saat kita semua pergi berjalan-jalan, dan para orang tua menginstruksikan mereka untuk menggunakan uang hasil salam tempel, jawaban mereka, “ah, uangnya tidak sebanyak dulu, tidak cukup untuk dipakai main atau beli barang. Kita semua minta dibayarin aja deh.”

Saya tidak tahu benar-tidaknya, tetapi ketika saya sedang berdua dengan si kecil, rupanya kejadian salam tempel tahun ini berbekas dalam dirinya. Katanya,”koq lucu ya Bunda, setiap tahun jumlah uang salam tempel ku naik, kenapa tahun ini turun ya ?”

Dan ketika saya menjelaskan mengenai situasi ekonomi yang terjadi tahun ini, seperti biasa dia hanya diam dan memainkan rambutnya. Saya pikir dia sedang mencerna, tetapi ternyata caranya mencerna, cara khas anak-anak, “Tapi kita tetap nonton film Laskar Pelangi ya ? dan hadiah ulang tahun ku juga ada kan ?”

Saya hanya bisa terdiam, sambil membatin, dasar anak-anak jaman sekarang, salam tempel yang cuma tradisi koq dijadikan perhitungan seperti jual-beli barang. Tahun lalu untung X rupiah, tahun ini rugi karena pendapatannya hanya Y rupiah.

Jadi teringat salah satu pertanyaan di Dunia Plurk, “Apakah salam tempel itu mengajarkan anak-anak mengenal dunia KKN ?” dan ada yang menjawab “Yang pasti mengajarkan anak-anak menjadi peminta-minta, seperti saya ini.”

Mungkin saya harus mengkaji lebih dalam aspirasi anak-anak saat mereka mendapatkan salam tempel, siapa tahu saya bisa memberikan masukan kepada Kak Seto bahwa pendapat yang mengatakan betapa pun jumlah uang yang diberikan pada saat salam tempel di hari Lebaran, anak-anak tetap akan menerimanya dengan senang hati, sudah tidak berlaku lagi.

Anak-anak …dimana saja selalu ada hal-hal yang tak terduga …




Sabtu, 27 September 2008

Si Pembuat Onar - Kakaktua Jambul Kuning


Ini cerita tentang si pembuat onar di rumah kami, Kakaktua Jambul Kuning,
Burung yang semula dilecehkan karena tidak seimut dan selucu almarhum Burung Beo namun setelah perjuangan panjang akhirnya diterima menjadi penghuni rumah.

Kami memberi nama si Kakaktua Jambul Kuning, si “Kakak” atau si “Kakaktua”, soalnya ketika pertama kali kami berkenalan dengannya, ia menamakan dirinya “Kakak” atau sesekali dia memanggil dirinya sendiri “Kakaktua”.

Dari awal kedatangannya ke rumah kami, Si Kakak sudah membawa kehebohan sendiri, belum apa-apa dia sudah membuat kawah kecil di jok mobil suami tercinta. Sejak saat itu, si Kakaktua tidak diperkenankan naik mobil, kalau bisa dia ditaruh di bawah saja dan tidak boleh naik mobil saya. Soalnya nggak ada asuransi kerusakan mobil akibat Kakaktua kan ?

Ketika tiba di rumah, setelah rasa malunya hilang dan mulai merasakan aura kenyamanan, barulah dia mengeluarkan kalimat-kalimat ajaibnya, tanpa menyisakan belah kasihnya kepada si penghuni rumah lainnya.

Kelihatannya sebelum Kakaktua diberikan kepada kami, tampaknya si Kakaktua dipelihara oleh ABRI, sehingga ketika dia baru menjadi penghuni rumah saya, teriakannya tidak jauh dari “Ampun Bapak, Sakit”.

Ya kalau teriakannya ala burung beo, teriakan si Kakaktua bisa terdengar oleh penghuni blok rumah saya dan dia tidak pernah pandang bulu kalau teringat pengalaman indahnya berkumpul bersama si Abri, pernah dia teriak-teriak pagi hari sekitar pukul 05.00 pagi, bayangkan saja, itu kan jamnya tetangga rumah sedang menikmati jalan pagi di taman depan rumah. Lainnya lagi, pukul 02.00 siang, jamnya anak-anak kecil menikmati tidur siang mereka.

Tapi hebatnya, akibat teriakan si Kakak, anak-anak kecil kemudian menjadikan rumah saya sebagai persinggahan dikala pengasuh mereka kesulitan memberikan makanan kepada anak asuhnya. Maka jadilah rumah saya menjadi rumah favorit anak-anak, berwisata bersama kakaktua sambil makan siang, judul tamasyanya.

Nah, setelah tinggal cukup lama dengan kami, Kakak mengikuti irama rumah kami, teriakannya sudah terpola, dimulai tepat pada pukul 04.30 pagi, jadwal saya membangunkan putri tercinta, yang otomatis akan diikuti oleh Si Kakaktua dengan kalimat khasnya “Kakak bangun” atau “Astra, Astra” dengan suara teriakan orang hutan.

Tepat pukul 05.00, ketika tukang cuci mobil saya datang, maka si Kakak akan mengeluarkan tipuan batuknya ala Pak Timin si tukang becak. “Uhuk, uhuk, batuk yang kronis karena sering kena angin malam.” Pertama-tama kami heran, mencari di antara penghuni rumah siapa yang menderita batuk seperti itu, hingga suatu pagi saya mendengan Pak Timin batuk, barulah saya mengerti, siapa panutan Kakaktua pada pukul 05.00 pagi.

Pukul 05.30, ketika jadwal membangunkan sibungsu tercinta, maka Si Kakaktua mendadak bisa menjadi lirih suaranya “Andari, Andari”. Dan akhirnya ketika saya sedang menikmati waktu pagi hari untuk menulis – kalau malamnya terlalu lelah untuk menulis – maka dia mengelurkan kalimat ampuhnya, teriakan tanpa ampun, yang tidak seorangpun bisa mengerti.

Kakak pun punya kebiasaan aneh lainnya, suatu ketika, saat saya sedang menonton acara TV kesukaan saya di ruang keluarga yang menjadi satu dengan halaman belakang yang kecil tempat kami menaruh si kakak, tiba-tiba ada batu kecil mendarat tepat di samping saya. Spontan saya melihat ke atas, karena tepat di halaman belakang tersebut, kami biarkan terbuka. Tapi tidak ada siapa pun di sana.

Setelah ada kerikil kedua mendarat, saya pun menoleh ke Kakak, dan tepat pada saat itu, dia sedang menjatuhkan badannya, mengambil kerikil dengan paruhnya serta melemparkannya ke arah saya.

Acara TV kesayangannya adalah Film di HBO atau acara diskusi seperti Kick Andy, dia bisa diam berjam-jam, sambil menatap lurus ke arah TV. Mungkin dia sedang berpikir, orang-orang itu ngomong apaan sih, atau bagaimana ya dia bisa mengikuti adegan berantem di TV.

Saya adalah orang di rumah yang selalu ditatapnya dengan penuh kecurigaan. Pernah suatu saat ketika saya sedang mengecat pot air mancur di halaman belakang, adegan saya dan dia persis seperti adegan film India kalau si artis ketemu tiang. Bukan itu saja, si Kakak kemudian menakuti saya dengan mengambil ancang-ancang hendak terbang, karuan saja cat yang ada dikuas mengenai muka dan baju kaos saya. Si Kakak kemudian terkekeh-kekeh melihat muka dan baju kaos saya yang kena cipratan cat hitam.

Yang lebih memalukan ketika ada acara sembahyangan di rumah, si Kakak kami taruh di halaman depan, dengan memberikan Marie Regal kesayangannya. Eh .. ketika tiba di bagian berdoa, bukannya diam, dia malah ketawa-ketawa dengan suara nyaringnya. Saya hanya bisa mesam-mesem, habis mau bagaimana, dibuang tidak bisa, disuruh diam malah semakin menjadi.

Dulu, ketika ayah saya masih ada, rumah terasa sekali ramainya. Sekarang, setelah ayah saya tidak ada lagi, rumah saya menjadi sepi. Tapi untung si Kakak masih ada, kalau tidak pastinya terasa sekali sunyinya rumah saya ketika kedua putri kecil saya sekolah dan saya bekerja…

Kunjungan wisata ke rumah ? Oh itu masih, anak kecil yang lahir dari angkatan yang berbeda tetap mengidolakan si kakak.

Selasa, 23 September 2008

Ruangan Favorit


Dulu … ketika masih jaman rekiplik, saya selalu berangan-angan mempunyai ruangan ala perpustakaan - dimana saya dapat menaruh buku-buku saya yang tidak pernah rela saya buang walaupun ada yang sudah digigit tikus, tape kecil dan komputer tempat saya menulis – dan halaman yang cukup luas untuk saya melanjutkan kegemaran saya bercocok-tanam yang lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya.

Sejak kecil angan-angan itu saya pelihara dengan baik, sehingga ketika tiba saatnya saya membangun rumah, angan-angan itu saya wujudkan dalam bentuk nyata.

Sayangnya, tanah di daerah Jakarta kafir ini a.k.a pinggiran Jakarta a.k.a. Bekasi tidak seluas rumah masa kecil saya, sehingga seperti biasa, kompromi kecil-kecilan pun harus dilakukan.

Ruangan perpustakaan harus ditaruh di lantai atas, halaman belakang dijadikan halaman kering dan urusan menanam bunga cukup di halaman depan yang ukurannya hanya 10X4 meter.

Di awal-awal rumah ini berdiri, segala khayalan yang diwujudkan itu terasa indah. Tetapi, ketika si bayi perlahan-lahan merangkak remaja dan si bungsu sudah tidak menjadi bayi lagi, khayalan itu menjadi bencana.

Ruang perpustakaan tiba-tiba menjadi ruang les, lemari buku harus dibagi dua, karena si sulung koleksi bukunya pun sudah setengah lemari buku saya. Kemudian ada tambahan furniture plastik, berupa box-box plastik yang besar, isinya komik-komik mereka berdua yang isinya tidak pernah berkurang dan ruangan itu menjadi lebih tidak nyaman lagi setelah si Kakaktua menjadi penghuni rumah.

Ibu saya yang kemudian tinggal bersama saya, tiba-tiba punya ide brilian, menambah meja kecil di ruang tersebut dan di atasnya ditumpuklah semua koran dan majalah-majalah kepunyaan kami semua. Tinggal pilih deh, mau kompas, atau femina, atau her world sampai ke Bocil, Ami, Kriuk apa Kruk ya (lupa mendadak) dan yang terakhir ada tambahan baru Berani dan Sindo, dan perubahan kecil dari Bocil menjadi Bobo, Her World menjadi Go Girl, Femina menjadi Cosmo Girl.

Ruangan yang diciptakan untuk memberikan ketenangan berubah menjadi Gudang Buku dan Majalah. Disain ruangan pun jadi amburadul.

Nah, bagaimana nasibnya dengan teras dan halaman tercinta ?

Untuk yang satu ini tampaknya masih sejalan, kecuali halaman tempat saya menikmati semilir angin pagi dan sore hari. Bukan apa-apa, masalahnya si pohon belimbing suka menghalangi kamboja jepang dan bunga-bunga kecil lainnya mendapatkan kasih sayang dari sinar matahari. Akibatnya setiap saat saya harus melakukan uji coba tanaman sebelum saya menemukan formula terbaik untuk penanaman tanaman berbunga.

Apakah saya telah menemukan formulanya ? Jawabannya tidak, soalnya bolak-balik mati atau mendadak menjadi kurus, karena si empunya suka angin-anginan.

Akhirnya setelah saya menghabiskan 1 hari untuk merenung, ruangan mana yang menjadi ruangan favorit saya, saya menemukan jawabannya, yaitu kamar tidur saya sendiri.


Alasannya gampang, pulang dari kantor, masuk kamar, mandi (kamar mandi di dalam kamar, jadi tidak ada alasan untuk keluar), nonton tv (di dalam kamar juga), keluar hanya kalau ingin menikmati makan malam, kalau tidak sampai pagi di dalam kamar.

Hari Sabtu dan Minggu, apalagi kalau bukan kamar tidur. Bagaimana tidak jadi tempat favorit, bangun pagi, petualangan berkunjung di blog tidak perlu jauh-jauh, cukup dilakukan di meja tulis yang ada di kamar. Atau sedang ingin menikmati film bajakan, pemutar DVD nya juga di kamar. Atau mau baca, tumpukan buku yang belum dibaca juga sudah beralih ke sudut kamar yang jadi tempat penyimpanan buku.

Bermain bersama anak-anak dan suami ? Dimana lagi kalau bukan di kamar. Entah kenapa bagi mereka, kamar tidur kami sudah berfungsi menjadi ruang keluarga. Kalau bisa segala permainan mereka lakukan di kamar tidur saya yang tidak seluar kamar “penthouse” hotel.

Puncaknya adalah ketika si kecil tiba-tiba meminta ayahnya untuk memasukkan meja belajarnya di samping meja tulis saya dan dikabulkan. Alasannya susah kalau harus belajar bareng Kakak, “susah konsentrasi, kakak suka denger musik.”

Setelah merenung dan mendapatkan jawabannya, harus saya akui bahwa dari seluruh ruangan yang ada, memang hanya kamar tidurlah tempat favorit saya, walaupun desainnya sudah berubah menjadi “avant-garde”, karena tiba-tiba ada tempelan “kalendar Bobo” di dinding kiri dan “Miniatur Spiderman” menempel di sisi kanan, mengapit Lukisan Cat Minyak Bunga.

Saya hanya berharap tidak ada lukisan abstrak warna, seperti yang dilakukan kakaknya ketika bereksperimen dalam warna, tiba-tiba memenuhi sisi lain dari dinding kamar mandi saya.

Saya hanya berharap suara nyaring saya yang melagukan “Ini kamar Bunda, bukan kamar kalian” tiba-tiba menyadarkan mereka dan kamar saya kembali ke era keemasannya yang kalau dilihat kembali membuat saya ragu bahwa saya pernah memiliki kamar itu.

Saya hanya berharap suatu saat mereka bisa dengan rela menarik kembali pernyataan mereka bahwa saya telah melakukan pembunuhan terhadap kreatifitas anak-anak ketika saya menyanyikan lagu “Ini kamar Bunda, bukan kamar kalian …”

Semoga ….

Sabtu, 13 September 2008

Sudah Pernah Muda


Beberapa bulan yang lalu, ditengah-tengah sibuknya saya mencari cara agar bisa bekerja paruh waktu, saya bertemu dengan rekan saya jaman status kami berdua masih berstatus “single”. Pada jaman itu, walaupun masih single, dia sudah menjadi atasan saya.

Ketika kami bertemu beberapa bulan yang lalu, dia sudah menduduki posisi puncak di salah satu bank asing.

Seperti biasa, kami saling bertukar-cerita, bertukar impian yang belum terwujud dan apalagi selain rasa frustasi kami terhadap beberapa hal. Salah satunya tentang perbedaan generasi, tentang anak-anak jaman sekarang. Maklum, anak buah kami berdua umurnya terpaut antara 15 – 20 tahun dengan usia kami sekarang.

Ada beberapa hal yang membuat kami terheran-heran dengan daya juang mereka, dengan cara mereka mengerjakan pekerjaan, tanggung-jawab mereka, dan cara pandang mereka ketika memecahkan suatu permasalahan.

Ketika rekan saya itu mengajukan rasa frustasinya, saya yang tadinya merasa biasa-biasa saja dengan segala permasalahan yang terjadi dengan team saya, tiba-tiba tersadar bahwa rasa gemas saya rupanya berawal dari perbedaan tersebut.

Namun, seperti biasa, saya tetap beranggapan bahwa hal itu sebenarnya terjadi dimana saja, daya juang, mengerjakan pekerjaan, tanggung jawab, mau berapa pun umurnya pasti ada saja yang serupa.

Hingga kemarin ketika saya dan rekan-rekan sekantor sedang melakukan ”brain-storming” tentang produk yang akan diluncurkan, pihak ”agency” menyampaikan beberapa fakta menarik betapa tiap generasi mempunyai gayanya sendiri-sendiri. Tidak usah menunggu sampai puluhan atau belasan tahun, perbedaan generasi saat ini hitungannya adalah tahun bukan belas.

Perbedaan generasi tersebut tentu saja menyangkut ”life-style”, ”cara pandang terhadap kehidupan”, ”cita-cita”, dan beberapa hal lagi.

Berangkat dari diskusi kemarin sore, saya jadi ingat komentar rekan saya tentang ”anak buahnya, ”Mereka itu ketika diberitahu selalu saja ada alasannya dan tidak pernah berusaha mengerti akibatnya. Mereka pikir kita tidak tahu. Mereka lupa kalau kita pernah muda dan mereka belum pernah tua.”

Saya jadi ingat ketika kemarin saya melakukan interview untuk calon team saya, tanpa harus melihat hasil psiko-testnya, saya sudah bisa menebak bahwa anak ini kurang dalam interpersonal skillnya, hanya dari cara berjalannya, berpakaian dan berbicara. Sehingga ketika pihak HR memberitahu saya mengenai kekurangan anak itu, saya langsung berkata dalam hati, ”sudah kuduga”.

Dan saya pun teringat komentar rekan a.k.a atasan saya jaman tahun kuda itu, ”kita sudah pernah muda, mereka belum pernah tua.”

Rabu, 10 September 2008

PJKA a.k.a. Pulang Jumat Kembali Ahad

Di kantor saya ada istilah PJKA dan istilah itu diberikan kepada mereka yang hidupnya bersama keluarga hanya dihabiskan di akhir pekan.

PJKA itu singkatan dari Pulang Jumat Kembali Ahad dan umumnya para anggota PJKA adalah para gender pria, maklum pria kan terkenal dengan usahanya yang gigih, lautan ku seberangi, mau untuk urusan yang berbau cinta-cintaan hingga mencari sesuap nasi.

Tapi ada juga anggota PJKA yang wanita, tidak banyak sih hanya 2 orang dan saya termasuk yang di antara 2 orang itu. Bukan sebagai peserta tetapi sebagai korban PJKA.

Menjadi korban PJKA di kantor lebih ringan celaannya dibandingkan mereka yang menjadi anggota PJKA. Sudah bukan pemandangan asing lagi di kantor kalau peserta PJKA selalu terlihat gelisah setiap hari Jumat, terlebih setelah jam makan siang, kalau bisa semua meeting dibuat lebih cepat di hari Jumat. Mereka bahkan punya alasan ampuh kalau diajak meeting di jam 4 sore. Apalagi kalau jam kantor menunjukkan pukul 05.00 sore, tidak ada pemandangan seru mendengarkan teriakan dari cubicle-cubicle tetangga yang agak menyerempet telinga, “Makanya jangan pake oli top one dong,”, “Seperti si Pak X dong, olinya cukup tahan 1 bulan” .. (yang ini dari gender pria) atau ..”Nanti aku telp ya, ntar aku bilang dari pacar jauh.” ..”Lho koq habis manis sepah dibuang, begitu jumat aku ditinggal deh.” .. (yang ini dari gender wanita) atau “travelnya nunggu di tempat biasa ya ..”, “cepetan lho, jalanan macet nanti terlambat sampai di stasiun, nanti ketinggalan kereta lho.” (nah ini komentar netral).

Banyak orang yang setelah mengetahui status saya yang korban PJKA selalu melihat dengan pandangan sedih dan berpartisipasi atas penderitaan saya, sementara saya sendiri yang jadi korban tidak merasa apa-apa.

Setelah saya merenungkan kembali pandangan mereka yang penuh arti, mungkin ada perlunya saya membuat tabel pro dan kontra hidup sebagai korban PJKA.


Untungnya ....
Lebih Mandiri.
Punya waktu luang buat menyenangkan diri sendiri, ke gym atau kongkow 2 sama teman.
Tahu cara ”ngirit”, soalnya kalau ada hal-hal yang mendadak, nggak bisa minta suami, apalagi kalau malam-malam ada pengeluaran mendadak.
Kalau week-end, tuntutan jalan-jalan selalu dijatuhkan kepada sang ayah, maklum anak-anak ngerti banget ibunya dari Senin – Jumat selalu ada bersama mereka (minimal pagi dan malam sebelum tidur).
Bisa bermanja-manja kalau week end, alasannya capek seminggu harus konsentrasi jadi orang tua tunggal.
Jarang berantem, bagaimana mau berantem, jaraknya saja susah.
Inovatif, berhubung berantem susah dan mahal, jadinya punya cara baru, pertama pake provider dower trus dilanjutkan dengan sms (sakit-sakit deh si jempol).



Susahnya ....

Suka kelupaan kalau bukan “single mom”
Susah minta uang mendadak, soalnya harus telpon dulu, harus ke bank (hiii.. ribet), sementara mencari waktu untuk urusan di luar jam kantor membutuhkan keahlian balap mobil
Kalau mendadak ada tugas sekolah si anak, beli ini, beli itu, ngerjain PR matematika, sementara meeting kantor nggak selesai-selesai
Nggak ada yang mijitin kalau kaki kram atau badan pegal-pegal, nggak ada yang ngurusin kalau lagi sakit, semua judulnya ”All Alone”.
Unek-unek disimpan seminggu dan setiap minggu berikutnya, daftar unek-unek nggak pernah berkurang
Boros, bagaimana tidak boros, kompor harus punya dua, TV harus punya dua, rumah harus punya dua, persediaan baju harus punya dua. Satu-satunya yang hanya punya 1 ya itu DVD (maklum yang ini kan bisa gantian nontonnya).


Saat ini peserta PJKA sudah mulai berkurang, karena sekarang mereka sudah bisa tersenyum sambil bilang kalau sang istri sudah diboyong ke Jakarta, kecuali saya dan rekan wanita saya yang satunya lagi.

Rekan saya memang wanita perkasa, setelah melahirkan anak pertamanya yang ditunggu-tunggu, dia tetap berstatus PJKA dengan membawa anaknya yang menggemaskan itu. Si kecil setiap pagi dititipkan di tempat penitipan anak yang bikin saya ngiri, soalnya jaman kedua putri saya kecil, tempat penitipan sejenis belum ada.

List Pro dan Kontra dia lebih panjang dari saya, tapi kami, peserta maupun korban PJKA, punya banyak cerita dan kenangan yang tidak terlupakan urusan PJKA.

Sabtu, 06 September 2008

Meeting ala White Board


Kemarin ketika saya harus hadir di acara workshop para "engineer" dan "marketing" team, tiba-tiba saya melihat pemandangan yang sudah 5 bulan tidak saya temui lagi, "segerombolan orang berkerumun di depan "white-board" persis seperti sedang melihat tukang obat di pinggir jalan.

Rasanya sudah lama sekali tidak melihat 'pemandangan' seperti itu, 'pemandangan' yang membuat kami - yang terlibat dalam proyek akbar - tidak bisa cuti dengan leluasa, mendadak jadi orang yang waktu tidurnya jadi terbolak-balik dan jadi orang yang bisa menggambar.

Cerita tentang pemandangan ini dimulai di akhir tahun 2006, ketika kantor saya memutuskan untuk melakukan perubahan sistem yang cukup drastis, dimana proses penentuan vendor diawali dengan RFP kemudian presentasi para vendor atas kemampuan mereka dalam menerjemahkan permintaan kami.

Ketiga vendor tersebut bukanlah orang awak, tetapi datang dari negara nun jauh disana, orang Rusia, Korea dan Cina.

Sudah bisa dibayangkan bukan ..., bagaimana jadinya ketika mereka dan kami semua berkomunikasi.

Sudah bahasa Inggris bukan bahasa Ibu masing-masing, yang didiskusikan pun bukanlah hal yang mudah. Apalagi kami, yang notabene orang Indonesia, suka lupa kalau yang diajak diskusi bukan orang sendiri.

Ketika masih dalam tahap 'pitching' , problematika bahasa tidaklah menjadi halangan, soalnya yang muncul di layar tancap, kebanyakan gambar dicampur istilah-istilah teknis.

Tetapi ketika 'pitching' sudah selesai dan pemenang sudah ditentukan, problematika bahasa menjadi masalah yang tak berkesudahan

Dan sejak saat itulah kami punya perbendaharaan hal-hal menarik untuk dikenang :

Cerita tentang 'Pitching'.

Saat si Rusia sedang presentasi, tiba-tiba kami semua mendadak jadi 'tuli' dan terampil dalam mengolah 'mata'.

Alasannya sederhana, bahasa Inggris si Rusia mendadak terdengar seperti suara radio yang diputar tetangga, sayup-sayup bikin ngantuk. Pernah dengar orang nembang nggak, nah begitulah kami mendengar si Rusia presentasi.

Alasan berikutnya, sudah bisa ditebak, dimana-mana yang namanya engineer tidak jauh dari gender pria. Karena proyek ini adalah proyek para engineer, maka di ruang meeting, wanitanya bisa dihitung dengan jari, cuma 4 orang, yang lainnya gender pria. Nah, karena yang memberikan presentasi wanita kulit putih, cantik, seksi dan muda, yang terdengar kemudian adalah celetukan konyol dalam bahasa Indonesia (nggak ada yang ngerti kan selain yang Indonesia).

Celetukannya pun kalau didengar para feminis bisa bikin marah. Saya kutip sebagian disini "Wah, cakep banget ya", "eh mereka baru tiba pagi ini ya, sudah mandi belum ya", "sayang, cantik-cantik koq belum mandi", sampai yang paling konyol, "wah belahan bajunya rendah sekali ya", "lumayan, ada pemandangan segar".

Nggak mutu banget kan ? Si Rusia pasti berpikir kita sedang mendiskusikan sistem mereka, tapi jangankan sistem, mengerti pun tidak.

Peserta kedua, Korea.
Berhubung pesan dari kantor bahwa kita harus serius dengan Korea, maka suasana 'pitching' beralih menjadi 'tahap final' dan tempat meeting pun pindah ke hotel berbintang lima.

Pertama-tama, kami semua senang, maklum ada perbaikan gizi. Tetapi kalau selama hampir 3 minggu makan di tempat yang sama dengan menu yang itu-itu saja, perbaikan gizi menjadi siksaan yang luar biasa.

Kali ini jumlah peserta wanita agak banyak, tetap tidak berimbang, tapi lumayan lah dibandingkan saat Rusia presentasi.

Problem bahasa tidak menjadi masalah yang berarti, maklum bahasa Inggris mereka jauh lebih bagus dari si Rusia, walaupun kali ini judulnya bahasa Inggris kumur-kumur tapi lumayanlah.

Tapi kali ini yang bikin malu, bukanlah kelakuan gender pria, tapi kelakuan si gender wanita. Salah satu peserta workshop yang masih single ternyata penggemar film korea dan salah satu yang memberikan presentasi ternyata cakep buanget, sama deh dengan bintang film sinetron korea.

Komentar pun beralih menjadi "cowoq yang itu cakep banget ya, seperti bintang film korea", "eh kita nanti selesainya jam berapa ya ? jangan cepat-cepat deh, lumayan kan kalau dinner bareng dia". Dan seperti peristiwa Rusia, kali ini peristiwanya jauh lebih heboh, si peserta wanita tadi sampai bela-belain jalan sama si Korea dan foto bareng pake HP (supaya teringat terus)

Peserta ketiga, Cina.
Ternyata setelah berjalan selama hampir 3 minggu dengan peserta Korea, tiba-tiba angin segar dari kantor beralih ke Cina.

Waduh, baru istirahat dari rally panjang ngomongin sistem dengan Korea, sekarang harus rally panjang lagi dengan Cina.

Saat itulah problematika bahasa menjadi masalah yang tak kunjung selesai.

Biasanya problematika bahasa diawali dengan :

Masing-masing pihak tiba-tiba menjadi hilang ingatan. Air awet muda dari Lombok pun jadi kehilangan khasiatnya, soalnya urat emosi nggak selesai-selesai muncul di leher.

Kemudian tiba-tiba bahasa Cina atau bahasa Indonesia mulai diselipkan dalam kalimat-kalimat panjang, dan ketika rasa frustasi mulai muncul di kedua belah pihak, diskusi terbagi menjadi 2 bahasa, kelompok diskusi bahasa Cina dan kelompok diskusi bahasa Indonesia, yang dilanjutkan dengan memanggil rekan sebelah ruangan (maklum diskusinya terbagi dalam beberapa ruangan) untuk saling mendukung pendapat masing-masing pihak.

Kalau si Pim Pro tidak muncul di ruangan, bisa-bisa sampai malam kelompok diskusi itu terus saja berdebat dengan bahasa Ibu masing-masing.

Dan anehnya saat perdebatan yang nggak mutu itu terjadi, maka di setiap pintu depan ruang meeting tersebut, selalu ada saja yang pihak-pihak yang mencoba melobi (yang ini dari kedua belah pihak) dengan bahasa yang disepakati "bahasa Inggris". Kacaunya kejadian itu selalu saja terjadi di masing-masing ruangan, tinggal menunggu saat yang tepat saja.

Gencatan senjata selalu terjadi saat waktu berbuka untuk "snack" tiba. Saat itulah semua urat-urat kembali pada tempatnya dan para peserta kembali menjadi orang "Inggris", sibuk bercerita tentang hal-hal yang nggak perlu, saling bertukar perbendaharaan bahasa.

Nah, karena setiap kali seperti itu - entah siapa penemu gencatan senjata ala tukang obat - tiba-tiba ketika kami maju ke depan dan menggambarkan apa yang ada dalam kepala kami dalam bentuk kotak dan awan-awan, tiba-tiba semua kembali menjadi normal.

Sejak saat itulah, setiap kali kami berselisih pendapat dengan mereka, White Board menjadi sarana ampuh untuk mencari solusi.

Berkerumun di depan white board pun ada urutannya, pertama 1 orang yang maju, kemudian dari pihak lawan maju 1 orang. Tidak ada kata sepakat maju lagi 1 orang. Hingga akhirnya bisa 20 orang mengerubung white board.

Nggak mutu ya ? Habis mau bagaimana lagi, ketika bahasa Inggris bukanlah bahasa Ibu masing-masing, maka bahasa isyarat dalam bentuk gambar pun menjadi solusi ampuh.

Nah, kembali ke workshop kemarin, tiba-tiba saya teringat masa-masa yang dihabiskan dengan mereka selama 1 tahun 5 bulan. Rekan-rekan saya yang dulu menjadi teman seiring dalam berdiskusi sudah berganti, mereka pun demikian, tetapi tetap saja penemu solusi ala White Board tidak lekang oleh jaman.

Jumat, 05 September 2008

Kamisan (baca : Kemisan)


Sudah dua bulan terakhir ini, di kantor ada jadwal baru, yang dengan semena-mena mengusik rutinitas "gym" saya, judulnya "Kamisan" (baca : Kemisan).

Mengusik, karena acara kamisan tercinta ini adalah meeting dengan Presiden Komisaris serta para petinggi lainnya.

Mengusik, karena setiap hari Rabu malam, beberapa rekan saya termasuk saya sendiri, sudah mulai mengalami insomnia dan semangat luar biasa, contohnya saya dan salah satu rekan saya, sejak hari Rabu, kami berdua sudah mulai membicarakan apa yang harus dipresentasikan, membicarakan kemungkinan pertanyaan, puncaknya hari Kamis pagi, sejak dini hari, tepatnya pukul 03 pagi, acara rutin bangun setiap jam menjadi penanda datangnya hari Kamis.

Rekan saya yang lain lagi, khusus setiap Rabu, mulai tidak fokus dan sibuk beranjang-sana ke "cubical" rekannya lain dan tepat hari Kamis pagi - puncaknya hari Kamis sore, beralih menjadi ibu hamil muda, mual-mual. Lucunya baru kemarin dia sadar, mual-mual itu akibat dari stress, yang berasal dari naiknya si asam lambung.

Tidak ada satu pun yang tidak ketar-ketir menghadapi acara Kamisan itu.

Bahkan BOD sampai menggelar acara "try-out" menghadapi "meeting" Kamis sore. Lengkap dengan segala analisa, apa yang akan menjadi titik perhatian para petinggi itu.

Jam meeting Kamisan itu pun tidak pernah sama, tapi tidak akan jauh dari pukul 05.00 sore. Selesainya pun juga tidak pernah sama, yang pasti meeting tersebut lamanya 2 jam. Hingga kemarin, rekor meeting terlama terjadi 3 minggu lalu, selesai pukul 09.00 malam.

Di dalam ruang meeting pun, para peserta rapat yang nota bene adalah para "pemimpin kecil", tindak-tanduknya kembali menjadi anak kecil. Berlomba-lomba naik lift menuju ruang meeting, memilih posisi aman (jauh dari bapak Presiden atau minimal tidak dalam jangkauan pandangan langsung).

Yang lucu adalah salah satu direktur kami, dia selalu memilih tempat duduk yang terujung (pak Presiden tidak pernah duduk di ujung meja, selalu di posisi samping meja), dengan alasan agar pandangannya tidak terhalang jika para "pemimpin kecil" sedang presentasi. Kami tidak boleh duduk di kursinya, siapa pun akan diusirnya, termasuk saya yang waktu itu kehabisan kursi favorit.

Saya, setelah dua kali mencoba menghindar dari jangkauan pandangan langsung, tetapi selalu saja disebut (walaupun di bagian akhir), akhirnya memutuskan untuk menduduki tempat yang jauh namun dalam radius pandangan langsung.

Yang tidak kalah serunya, si "Group Head Sales" dan "Group Head Sales Strategy", setiap minggu, alasan mereka jika sales tidak naik, sebenarnya selalu itu-itu saja, tapi mereka pintar mengemasnya dengan tata bahasa Indonesia "ngeles".

Salah satu contohnya : "Sebenarnya, sudah dalam pantauan, tetapi untuk daerah yang itu pak, memang agak terlewat walaupun sudah dipantau." atau "Masalahnya karena produk penunjang baru tersedia minggu lalu, sehingga sales menjadi terganggu, walaupun sisa produk penunjang juga masih ada di pasar, tetapi ya itu tadi, karena yang baru baru dilepas, susah pak naiknya."

Kalau saya sih, karena sudah pernah kena "arahan panjang" dari bapak Presiden, yang mengakibatkan beberapa bapak direktur juga kena "arahan" gara-gara saya, punya kalimat ampuh, judulnya "Ya, Ya, Ya, Baik Pak".

Tapi di antara yang tidak enak, satu hal yang selalu ditunggu-tunggu peserta rapat, makan malam gratis. Biasanya kalau meetingnya terpaksa harus lanjut setelah pukul 07 malam, maka dihidangkanlah makan malam a la jawa timuran (yang ini sih tidak ditolak tapi menghancurkan diet) dan para peserta rapat yang perutnya sudah mulai mengeluarkan musik "keroncong" langsung menyerbu ketika Bapak Presiden mengeluarkan tanda untuk "menyantap".

Serunya adalah kalau Bapak Presiden, sudah mengeluarkan kalimat, "Baik, saya rasa sudah cukup, tapi tolong diingat ya, strategi yang saya sampaikan tadi. Tidak ada lagi yang hendak disampaikan kan ?" Wah ... pernah lihat senam anggukan kepala ? Nah, saat itulah seluruh peserta dengan senyum lebar dan anggukan kepala yang seirama, mengeluarkan kalimat "Ya Pak, sudah tidak ada Pak."

Nah pernah lihat anak SD bubar ketika lonceng pulang sekolah berbunyi, datang saja ke acara Kamisan itu, riuh-rendahanya persis anak SD bubaran. Rebutan lift, "High Five" karena selamat, atau saling dorong-mendorong dan setelah sampai di bawah, di lantai tempat kami semua bekerja, yang nyaris senyap karena penghuninya sudah pulang, para peserta rapat biasanya melanjutkan acara reunian, sambil berteriak minta ditungguin, supaya bisa se-lift.

Saya, setelah itu selalu menerima pesan singkat dari team saya, kalimatnya pun sama dari minggu ke minggu, "Aman kan mbak ?".

Salah satu cerita yang nikmat untuk dikenang dari kantor tercinta.