Jumat, 05 September 2008

Kamisan (baca : Kemisan)


Sudah dua bulan terakhir ini, di kantor ada jadwal baru, yang dengan semena-mena mengusik rutinitas "gym" saya, judulnya "Kamisan" (baca : Kemisan).

Mengusik, karena acara kamisan tercinta ini adalah meeting dengan Presiden Komisaris serta para petinggi lainnya.

Mengusik, karena setiap hari Rabu malam, beberapa rekan saya termasuk saya sendiri, sudah mulai mengalami insomnia dan semangat luar biasa, contohnya saya dan salah satu rekan saya, sejak hari Rabu, kami berdua sudah mulai membicarakan apa yang harus dipresentasikan, membicarakan kemungkinan pertanyaan, puncaknya hari Kamis pagi, sejak dini hari, tepatnya pukul 03 pagi, acara rutin bangun setiap jam menjadi penanda datangnya hari Kamis.

Rekan saya yang lain lagi, khusus setiap Rabu, mulai tidak fokus dan sibuk beranjang-sana ke "cubical" rekannya lain dan tepat hari Kamis pagi - puncaknya hari Kamis sore, beralih menjadi ibu hamil muda, mual-mual. Lucunya baru kemarin dia sadar, mual-mual itu akibat dari stress, yang berasal dari naiknya si asam lambung.

Tidak ada satu pun yang tidak ketar-ketir menghadapi acara Kamisan itu.

Bahkan BOD sampai menggelar acara "try-out" menghadapi "meeting" Kamis sore. Lengkap dengan segala analisa, apa yang akan menjadi titik perhatian para petinggi itu.

Jam meeting Kamisan itu pun tidak pernah sama, tapi tidak akan jauh dari pukul 05.00 sore. Selesainya pun juga tidak pernah sama, yang pasti meeting tersebut lamanya 2 jam. Hingga kemarin, rekor meeting terlama terjadi 3 minggu lalu, selesai pukul 09.00 malam.

Di dalam ruang meeting pun, para peserta rapat yang nota bene adalah para "pemimpin kecil", tindak-tanduknya kembali menjadi anak kecil. Berlomba-lomba naik lift menuju ruang meeting, memilih posisi aman (jauh dari bapak Presiden atau minimal tidak dalam jangkauan pandangan langsung).

Yang lucu adalah salah satu direktur kami, dia selalu memilih tempat duduk yang terujung (pak Presiden tidak pernah duduk di ujung meja, selalu di posisi samping meja), dengan alasan agar pandangannya tidak terhalang jika para "pemimpin kecil" sedang presentasi. Kami tidak boleh duduk di kursinya, siapa pun akan diusirnya, termasuk saya yang waktu itu kehabisan kursi favorit.

Saya, setelah dua kali mencoba menghindar dari jangkauan pandangan langsung, tetapi selalu saja disebut (walaupun di bagian akhir), akhirnya memutuskan untuk menduduki tempat yang jauh namun dalam radius pandangan langsung.

Yang tidak kalah serunya, si "Group Head Sales" dan "Group Head Sales Strategy", setiap minggu, alasan mereka jika sales tidak naik, sebenarnya selalu itu-itu saja, tapi mereka pintar mengemasnya dengan tata bahasa Indonesia "ngeles".

Salah satu contohnya : "Sebenarnya, sudah dalam pantauan, tetapi untuk daerah yang itu pak, memang agak terlewat walaupun sudah dipantau." atau "Masalahnya karena produk penunjang baru tersedia minggu lalu, sehingga sales menjadi terganggu, walaupun sisa produk penunjang juga masih ada di pasar, tetapi ya itu tadi, karena yang baru baru dilepas, susah pak naiknya."

Kalau saya sih, karena sudah pernah kena "arahan panjang" dari bapak Presiden, yang mengakibatkan beberapa bapak direktur juga kena "arahan" gara-gara saya, punya kalimat ampuh, judulnya "Ya, Ya, Ya, Baik Pak".

Tapi di antara yang tidak enak, satu hal yang selalu ditunggu-tunggu peserta rapat, makan malam gratis. Biasanya kalau meetingnya terpaksa harus lanjut setelah pukul 07 malam, maka dihidangkanlah makan malam a la jawa timuran (yang ini sih tidak ditolak tapi menghancurkan diet) dan para peserta rapat yang perutnya sudah mulai mengeluarkan musik "keroncong" langsung menyerbu ketika Bapak Presiden mengeluarkan tanda untuk "menyantap".

Serunya adalah kalau Bapak Presiden, sudah mengeluarkan kalimat, "Baik, saya rasa sudah cukup, tapi tolong diingat ya, strategi yang saya sampaikan tadi. Tidak ada lagi yang hendak disampaikan kan ?" Wah ... pernah lihat senam anggukan kepala ? Nah, saat itulah seluruh peserta dengan senyum lebar dan anggukan kepala yang seirama, mengeluarkan kalimat "Ya Pak, sudah tidak ada Pak."

Nah pernah lihat anak SD bubar ketika lonceng pulang sekolah berbunyi, datang saja ke acara Kamisan itu, riuh-rendahanya persis anak SD bubaran. Rebutan lift, "High Five" karena selamat, atau saling dorong-mendorong dan setelah sampai di bawah, di lantai tempat kami semua bekerja, yang nyaris senyap karena penghuninya sudah pulang, para peserta rapat biasanya melanjutkan acara reunian, sambil berteriak minta ditungguin, supaya bisa se-lift.

Saya, setelah itu selalu menerima pesan singkat dari team saya, kalimatnya pun sama dari minggu ke minggu, "Aman kan mbak ?".

Salah satu cerita yang nikmat untuk dikenang dari kantor tercinta.
Posting Komentar