Rabu, 21 September 2016

KPAI - Awkarin - Anya Geraldine





Membaca berita tentang pelaporan KPAI terhadap akun instagram Awkarin dan Anya Geraldine terus terang membuat saya hanya sanggup mengelus dada.  KPAI beralasan tindakan ini diambil untuk  sebagai tmenyikapi laporan para orang tua mengenai efek akun media sosial tersebut terhadap remaja Indonesia.

Awkarin dengan pengikut kurang-lebih 1 juta dan unggahan foto menurut para orang tua versi KPAI terlalu vulgar. Sedangkan Anya Geraldine dengan pengikut sekitar puluhan ribu, juga dengan alasan yang sama, bedanya Anya Geraldine menampilkan hidup kesehariannya.

KPAI menilai gaya hidup kedua selebgram itu menjadi contoh buruk bagi remaja Indonesia, sehingga perlu diambil langkah demi memastikan perlindungan anak yang berkaitan dengan informasi yang mendidik.

Pertanyaan saya, orang tua yang mana yang melaporkan hal itu? orang tua yang tergabung dalam AILA Indonesia?  Atau segerombolan orang tua pemerhati masalah moral? Apakah sudah terbukti unggahan foto mereka berdua merusak moral remaja Indonesia? 

Bicara mengenai moral remaja Indonesia, berarti bicara mengenai pendidikan yang diberikan oleh orang tua terhadap anak-anak mereka sendiri. Pendidikan moral dari sejak saya kecil tidak pernah diberikan oleh negara. Sekolah? berapa lama sih pendidikan moral itu

Orang tualah panutan anak jika kita berbicara soal moral. Anak melihat contoh nyata tentang moral dari hidup keseharian orang tua mereka, dari contoh-contoh kehidupan yang dibagikan ketika keluarga berkumpul bersama.

Jadi jika KPAI mengatakan perilaku kedua selegram itu amoral, sebenarnya KPAI lupa pada tugas utama mereka, MEMBERIKAN PERLINDUNGAN KEPADA ANAK. Jika KPAI benar-benar melaksanakan tugasnya, tentu pendekatan yang dilakukan tidak dengan melaporkan instagram mereka kepada KOMINFO. KPAI tentu akan menutup identitas mereka dan mengambil jalan yang lebih arif dan tidak serta-merta membeberkan kepada media.

Dan terlepas dari semuanya, pertanyaan saya, apakah sedemikian rusaknya moral remaja Indonesia, sehingga mereka tidak mampu mencerna mana yang patut dijadikan panutan, mana yang patut dijadikan bahan cerita remaja? 

Ketika Awkarin mulai naik daun, saya bersama putri saya bahkan menonton bersama-sama vloger Awkarin. Saya mendengarkan komentar teman-teman putri saya yang berseliweran di 'snapchat' dan juga tentu saja menyimak komentar si kecil, sambil tersenyum simpul. 

Apakah setelah itu mereka menjadi terpengaruh? 

Awkarin dan vlogernya hanyalah selingan sesaat bagi putri saya dan teman-temannya.  Setelah itu mereka sibuk mengejar impian mereka memasuki dunia kuliah, belajar jungkir-balik demi memenangkan kursi dan mengejar beasiswa.

Harus diakui gaya hidup Awkarin dan Anya Geraldine bukanlah gaya hidup orang kebanyakan, dan inilah alasan unggahan foto itu hanya dianggap sebagai selingan, bukan konsumsi sehari-hari, apalagi jika tugas kuliah dan sekolah sudah sedemikian banyaknya.

Bagi saya, yang lebih memprihatinkan adalah anak-anak yang tidak memiliki masa depan, yang tinggal sepelemparan batu dari kediaman dan kantor para orang tua yang mengeluhkan Awkarin dan Anya Geraldine.

Pernahkah para orang tua dan KPAI yang prihatin dengan moral remaja, menengok daerah di Jakarta Utara, dimana septi tank dan sumur atau pompa air hidup berdampingan? 

Atau pergilah ke daerah gang-gang sempit di Jakarta, dimana hanya ada 1 kamar tidur yang tersedia, sehingga anak-anak mereka dapat melihat tontonan hidup tentang hubungan seks dan kemudian menerjemahkannya ke dalam kehidupan mereka sehari-hari

Atau jika ingin pergi sedikit lebih jauh, berkunjunglah ke Subang. Lihatlah dan dengarkanlah suara hati remaja yang memiliki impian tetapi terpaksa harus mengubur dalam-dalam impian mereka demi sesuap nasi.  Bagaimana orang tua mereka lebih bahagia jika anak mereka menikah dalam usia muda agar terbebas dari beban hidup, atau bagaimana anak-anak kecil terpaksa membiarkan diri mereka untuk diraba-raba selama 5 menit demi membantu orang tua mereka.

Atau coba tengok sekolah di daerah Karawang, yang jumlah jambannya hanya satu, sehingga anak-anak sekolah itu memilih menahan keinginan mereka untuk buang air kecil. Satu jamban untuk ratusan anak sekolah, tentu bisa dibayangkan tingkat kebersihan dan kenyamanannya.

Banyak hal yang harus dicarikan jalan keluarnya daripada mengurusi akun instagram yang jumlah pengikutnya satu juta dan puluhan ribu.  Masih ada Awkarin dan Anya Geraldine lain yang unggahannya mampu membuat para orang tua dan KPAI mendapat serangan jantung. 

Jadi berhentilah menjadi polisi moral, sebaiknya berkonsentrasilah mendidik anak sendiri, jika tidak bisa mendidik anak sendiri, jangan mengkambinghitamkan orang lain.

  





Kamis, 25 September 2014

Perzinahan Panjang - UU Pernikahan Beda Agama


 Beberapa waktu lalu, ketika saya sedang membaca ulasan mengenai pengajuan uji materi UU Pernikahan menyangkut pernikahan beda agama yang diajukan seorang mahasiswi hukum, tiba-tiba putri bungsu saya bertanya, "Bunda, memangnya benar ya, bahwa pernikahan beda agama itu sama saja dengan perzinahan ? Berarti aku ini produk perzinahan panjang dong. Soalnya kan ayah dan bunda beda agama. Dan menurut MUI mereka yang beragama Islam itu melakukan perzinahan jika menikah dengan mereka yang bukan Islam."


Semula saya tertawa mendengar kata 'perzinahan panjang' tetapi kemudian saya terdiam karena memikirkan efek dari 'perzinahan panjang' itu terhadap kelangsungan hidup si putri bungsu. Biar bagaimana pun ini Indonesia, dimana hasil perzinahan selalu memiliki efek negatif terhadap si pemilik 'cap hasil perzinahan'.

Si putri bungsu kemudian bercerita tentang diskusi saat pelajaran agama mengenai isu pernikahan beda agama yang terjadi akhir-akhir itu. Dan ketika tinjauan tersebut dibahas dari sudut agama Islam, beberapa anak yang lahir dari orangtua yang berbeda agama kemudian memutuskan bahwa mereka itu - dilihat dari sudut agama Islam - merupakan produk perzinahan panjang.

Sebelum saya bisa menyela, si bungsu melanjutkan komentarnya, 'Enak aja aku dibilang produk perzinahan panjang, Memangnya kita ini hasil dari tindakan perkosaan atau tindakan yang melawan etika. Memangnya mereka itu siapa sehingga berhak memberi label seperti itu.'

Saya pun tersenyum dan menegaskan bahwa dia bukanlah hasil dari perzinahan, karena kedua orang tuanya menikah di tahun dimana fatwa MUI soal perzinahan itu belum ada. Dan saat itu, kami pun menikah dengan dua upacara agama, setelah melewati proses yang cukup panjang sesuai dengan agama yang saya anut.

'Jadi nak, jangan kamu pikirkan label perzinahan panjang yang diberikan MUI. Biarkan saja MUI memberikan label itu, dalam agamamu, kamu adalah anak yang sah,'tandas saya

Saya pun jadi teringat cerita teman satu kantor tentang teman masa kuliahnya yang dikucilkan oleh para sahabatnya hanya karena ia menikah dengan pasangan yang berbeda agama. Pengucilan yang tanpa hati, apalagi jika melihat perhatian yang diberikan teman tersebut saat para sahabatnya menikah. Si teman tadilah yang dengan ringan tangan dan tulus hati mencurahkan waktu dan tenaganya menyiapkan pesta lajang dan hadiah pernikahan bagi para sahabatnya itu. Dan ironisnya, para sahabatnya pun dengan tenangnya menistakan temannya itu dengan berkomentar, 'Ah, untuk apa kita datang, orang dia itu melakukan perbuatan terkutuk yang dosanya pun harus ditanggung hingga hari kiamat.'

Sebenarnya apa sih yang ditakuti para pemuka agama jika pernikahan beda agama terjadi ? Saya yakin setiap agama akan mengeluarkan pendapatnya masing-masing. Tapi bagi saya ketakutan itu semata hanyalah ketakutan akan hilangnya sebuah angka.

Angka yang berharga untuk kepentingan politik, angka yang berharga untuk suatu kekuasaan, angka yang berharga - mungkin - untuk kepentingan ekonomi.

Tetapi jika kita melihat kembali dimana letak agama dalam kehidupan manusia, seharusnya siapa pun itu sadar bahwa agama itu diperuntukkan untuk individu dan bukan massa, untuk 1 orang dan bukan banyak orang.

Karena di setiap agama tercatat, jika saatnya nanti kita menghadap Sang Khalik, maka pertanggungjawaban yang kita berikan adalah  pertanggungjawaban kita sebagai pribadi dan bukan hasil tanggung-renteng. 

Indonesia bukan negara sekuler dan juga bukan negara agama, Indonesia adalah negara yang Berketuhanan Yang MahaEsa dengan pengejewantahannya tercantum dalam UUD '45 pasal 29. 

Sehingga terasa aneh pernyataan Menag Agama yang menyatakan bahwa negara juga berhak mengatur perkawinan, karena peran vital agama dalam kehidupan bersama termasuk pernikahan, 

Benar bahwa setiap agama memiliki landasan religiusnya masing-masing, tetapi landasan religius itu adalah landasan yang dipakai dalam mengatur hubungan pribadi antar pribadi, terlepas dari hidup dalam suatu pernikahan, atau hidup bermasyarakat, 

Bahwa setiap individu harus merasa agamanyalah yang paling benar, itu adalah keharusan, kalau tidak dimana letaknya iman ? 

Tetapi pertanyaan selanjutnya, kalau begitu kenapa Tuhan membiarkan cinta tumbuh di antara manusia yang berbeda agama ? Apakah cinta itu bukan datang dari Tuhan ? Lalu jika bukan dari Tuhan dari siapakah ?

Dan pertanyaan berikutnya, jika nanti beda agama bagaimana landasan keluarga tersebut dibentuk ? Agama harus menjadi landasan di setiap kehidupan manusia. Jika berbeda bagaimana membentuk landasan tersebut ? Siapa yang harus dimenangkan ? Agama A atau B ?

Pertanyaan yang sulit dicari jawabannya jika acuannya adalah 'angka', jika acuannya adalah 'menang atau kalah', jika acuannya adalah 'pengaruh'.

Namun, jika acuannya bukan 'angka' atau 'menang-kalah' atau 'pengaruh' tetapi kedekatan hubungan Ibu dan Anak, atau keikhlasan dalam berbagi, maka kehidupan tidak menjadi rumit.

Ketika saya memutuskan untuk menikah dengan pasangan yang berbeda agama, orang tua saya kebetulan termasuk golongan moderat, mereka melarang pasangan saya untuk berpindah agama mengikuti saya, karena bagi mereka, agama itu adalah hubungan pribadi dengan Tuhannya. Perpindahan agama karena perkawinan adalah kebohongan semata, kecuali jika kebetulan orang tersebut tidak memiliki keyakinan yang kuat dalam agamanya - begitu pendapat orang tua saya.

Kami pun menikah dengan tetap mempertahankan agama kami masing-masing, dalam perjalanan selanjutnya ketika saya hamil, kami pun harus membuat  keputusan agama apa yang harus dimiliki oleh sang anak.

Kebetulan saat itu saya memiliki dua contoh nyata tentang agama yang harus dianut oleh sang anak.

Pertama contoh yang diberikan oleh dokter ginekologi saya yang kebetulan juga menikah beda agama. Sang dokter bercerita bahwa dalam kehidupan seorang anak maka Ibulah yang menjadi pusat kehidupan utama sang anak, karena dari sang Ibulah si anak belajar tentang kehidupan. Sehingga ketika si anak lahir, berangkat dari pemahaman tersebut dokter ginekologi saya memutuskan bahwa anak-anaknya harus mengikuti agama ibunya.

Contoh kedua lewat keluarga teman saya yang juga lahir dari pasangan yang berbeda agama. Orang tua teman saya itu, dengan adil memilihkan agama bagi anak-anaknya secara bergantian. Teman saya kebetulan beragama Kristen sedangkan adiknya beragama Islam.

Nah bagaimana dengan saya, setelah melewati pemikiran yang cukup mendalam, akhirnya disepakati bahwa pilihan yang diambil adalah contoh nyata yang diberikan dokter ginekologi saya. 

Sehingga ketika kedua putri saya lahir, kami pun sepakat bahwa mereka mengikuti agama saya, dengan catatan, ayahnya harus konsisten mengingatkan anak-anaknya untuk beribadah sesuai dengan agama yang dianut kedua putrinya.

Dan saya pun sepakat bahwa saya akan menghormati kaidah-kaidah agama yang dianut oleh suami saya dengan tidak menghidangkan atau pun menyediakan makanan yang haram di rumah saya.

Itu kaidah agama, tetapi bagaimana landasan berkehidupan yang diterapkan ? Landasan kehidupan yang kami berikan adalah 'mengasihi sesama seperti kamu mencintai sesamamu sendiri'.

Karena dasar dari seluruh kehidupan manusia adalah cinta kasih, 



Senin, 01 September 2014

Flo dan Dunia Maya

Social Media Marketing Los Angeles Membaca berita tentang Flo yang  sumpah serapahnya di dunia maya membawanya ke dalam lingkaran hukum di Indonesia sungguh mengenaskan.

Hanya karena sumpah serapahnya kepada masyarakat Jogja, maka Flo mendapat ancaman dari segala penjuru dunia - dalam hal ini penjuru Indonesia - dari mulai yang sekedar mengecam hingga mengancam hendak memperkosa, dari yang semula mengancam memperkarakan ke ranah hukum hingga akhirnya benar-benar memperkarakan Flo hingga berakibat Flo harus berkenalan dengan si bui.

Bagi saya yang membaca berita tentang Flo dari sebuah laman teman di Facebook, dan mengikuti beritanya pun melalui link di beberapa laman teman di Facebook, terheran-heran dengan tindakan LSM dan pihak kepolisian Jogja.

Pertama, dari sudut pandang saya yang bukan ahli hukum, Flo menistakan masyarakat Jogja dalam umpatannya. Sehingga, sudah sepatutnya dan seharusnya yang merasa terhina adalah pimpinan tertinggi di Jogja, dalam hal ini Gubernur Daerah Istimea Yogyakarta atau Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Namun entah kenapa, LSM yang namanya saja baru saya ketahui setelah membaca berita, mendadak-sontak bisa mewakili masyarakat Jogja, dapat memperkarakan Flo.

Sekali lagi, dari sudut pandang saya yang bukan ahli hukum, ya wajar-wajar saja sih LSM tersebut memperkarakan - itu hak mereka koq. Walaupun saya sendiri bertanya-tanya, mandat apakah yang diberikan Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada mereka ? Dan masyarakat Jogja yang manakah yang diwakili ?

Kedua,  ini yang  membuat saya terhenyak.  Pihak kepolisian Jogja, tidak saja menerima pengaduan tersebut tetapi segera menahan Flo, dengan menggunakan Pasal 27 ayat 3, pasal 28 ayat 2 UU ITE Nomor 11 tahun 2008 jo pasal 210 dan pasal 311 KUHP.

Apa sih persisnya isi dari UU ITE pasal 27, ayat 3 itu ? "Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik."

Kemudian isi dari KUHP pasal 310, ayat 1, "Barangsiapa sengaja merusak kehormatan atau nama baik seseorang dengan jalan menuduh dia melakukan suatu perbuatan dengan maksud yang nyata akan tersiarnya tuduhan itu, dihukum karena menista, dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4,500,-.

Dan isi pasal 311, ayat 1, "Barangsiapa melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan tuduhannya itu, jika ia tidak dapat membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah memfitnah dengan hukum penjara selama-lamanya empat tahun

Saya kemudian jadi berpikir, salahkah Flo ?

Ya tentu saja salah, pertama pihak yang menjadi sasaran murkanya. Seharusnya dia memaki Pertamina dan Pemerintah yang membiarkan kelangkaan BBM bersubsidi bukan kota Jogjakarta yang notabene menjadi muntahan kebijakan Pertamina dan Pemerintah yang tidak bisa memperkirakan kekacauan yang ditimbulkannya.

Kedua, ya tentu saja isi makiannya. Meluapkan emosi tentu saja ada banyak caranya, dari yang paling kasar hingga ya tentu saja sesuai stereotype daerah dimana Flo menuntut ilmu. Tapi seperti kata pepatah 'Mulutmu adalah Harimaumu' - dalam kasus Flo - seharusnya Flo mencermati kata-kata yang dipilih saat ia meluapkan emosinya.

Tetapi kemudian, apakah itu salah Flo semata ?

Bagi saya tentu saja tidak. Seperti kita ketahui, Flo meluapkan amarahnya melalui Path - channel teraman yang sekarang sudah tidak aman lagi. Seharusnya lingkaran pertemanan Flo di dunia maya aka Path, juga ikut diperiksa pihak kepolisian Jogja, mengingat pesan yang berputar seperti layaknya viral ini, pastinya disebarkan oleh salah satu dari mereka.

Dan apakah wajar UU ITE itu dpergunakan ?

Bagi saya tidak ada lawakan yang paling lucu di dunia ini selain lawakan kasus Flo. Mungkin kita semua lupa, tetapi ketika kampanye pilpres yang baru saja berlalu ini, berapa banyak berita fitnah bertebaran di dunia maya ? Tidak terhitung banyaknya.

Apakah para penyebar fitnah itu ditindaklanjuti ? Boro-boro ditindaklanjuti, yang jelas-jelas saja sudah diketahui orangnya didiamkan koq.

Kenapa tidak ada yang merasa harus mewakili salah satu dari calon pilpres itu ?  Mungkin karena mereka juga takut, di belakang layar si penyebar fitnah, ada orang yang memiliki kuasa lebih dari para penegak hukum yang membuikan Flo.

Lalu, jika sekarang kita semua ribut-ribut, sudah sepantasnyalah Flo mendapat kecaman dari masyarakat, apakah kita semua pernah berkaca, saat pilpres kemarin dan bahkan hingga sekarang ini, apakah kita juga tidak melakukan hal yang sama seperti Flo.

Flo memang sudah dewasa, seharusnya dia tahu apa yang pantas dan tidak. Tetapi dia pun belajar dari mereka yang jauh lebih dewasa dari dirinya, bahwa sah-sah saja memuntahkan murkanya selama muntahan itu dilakukan di halaman rumahnya sendiri.

Seharusnya sebagai mahasiswi S2 UGM, Flo tahu bagaimana mencermati keadaan, menyampaikan ketidaksukaannya, seharusnya.

Tetapi Flo pun belajar bahwa mereka yang jauh lebih terpelajar dari dirinya, sah-sah saja dan aman-aman saja ketika menghina Ulama Tafsir Quraish Shihab sebagai syiah sesat dan menyebarkannya lewat dunia maya dan di share oleh 10 ribu lebih facebookers. Atau petinggi PKS yang menghina santri seluruh Indonesia dengan ucapan 'SINTING' lewat akun twitternya. Atau dua tersangka kasus tabloid Obor Rakyat - Setyardi Budiono dan Darmawan Sepriyossa sampai saat ini masih aman tentram di luar bui.

Sehingga tidak salah jika Flo menganut premis, sah-sah saja melontarkan amarahnya lewat dunia maya, mereka saja aman tentram sejahtera koq hingga sekarang.

Sayangnya Flo lupa, ini Indonesia, hukum di Indonesia pilih kasih.

Namun di atas semuanya, seperti yang dituliskan Nukman Lutfi, 'Tak Ada yang Tertutup di Media Sosial', sudah sepantasnya dan sepatutnya kita sadar bahwa pembatasan yang kita lakukan di dunia maya tidak pernah benar-benar terbatas. Kita lupa, media sosial tidak mengenal ruang dan waktu, tidak mengenal kata 'rahasia'.  Dan karena tidak ada 'rahasia' sudah sewajarnya pula kita pandai memilih kata yang kita gunakan kala emosi sudah tak tertahankan.

I


Sabtu, 30 Agustus 2014

Dunia Baru Menjadi Konsultan

Sejak saya mulai bisa bermimpi untuk menjadi 'seseorang', saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang konsultan. Bagaimana bisa bermimpi, worng kata 'konsultan' itu pun baru saya dengar dan saya pahami saat bank pemerintah dimana saya bekerja menggunakan konsultan ternama untuk perubahan besar-besaran yang hendak mereka lakukan. Saat itu bagi saya, konsultan itu tidak lebih dari si kepo alias si tukang ingin tahu.

Betapa tidak, saat saya sedang sibuk-sibuknya bekerja, si konsultan bisa tiba-tiba datang dan meminta waktu saya untuk bertanya ini-itu. Atau meminta saya memvalidasi rangkaian proses kerja dari hulu ke hilir.

Sebenarnya tidak begitu buruk juga sih, di antara pembicaraan yang nyaris membosankan dan menegangkan, ada saat-saat dimana topik pembicaraan layaknya dua orang teman lama saling berbagi cerita masa lalu.

Ironisnya, ketika saya sudah terbiasa dengan gangguan si konsultan, proyeknya pun berakhir. 

Pengalaman ini kemudian membentuk persepsi saya bahwa pekerjaan konsultan adalah pekerjaan tingkat tinggi dibandingkan pekerjaan lainnya. Apalagi jika melihat slide-slide pembahaan masalah dan solusi yang diberikan dalam bentuk grafik ataupun materi presentasinya, rasanya kepala saya langsung dipenuhi bintang-bintang - seperti yang kerap digambarkan di komik anak-anak.

Hingga tibalah suatu hari ketika sebuah perusahaan pencari kerja menemukan profil saya dan menawarkan pekerjaan sebagai seorang konsultan loyalty di suatu perusahaan multinasional.

Entah sedang kesambet setan atau memang adrenalin saya sedang membutuhkan tantangan baru, saya segera mengiyakan tawaran tersebut untuk diproses lebih lanjut.

Singkat kata, termakan bujuk rayu, website si perusahaan multinasional, dan tantangan yang membuat adrenalin saya mengalir dengan cepat, saya pun akhirnya bekerja di perusahaan tersebut, dengan title yang lumayan membuat orang keblinger membacanya - walaupun bagi saya itu hanyalah sebuah title.

Dan tibalah hari yang selanjutnya merubah perjalan hidup saya menjadi amburadul. Betapa tidak amburadul, dari sisi mobilitas, dari sisi cara berpakaian, dari sisi pekerjaan, semuanya menjadi bertolak-belakang.

Pertama, gaya berpakaian, dari semula resmi dan formal menjadi berubah seperti cara berpakaian anak-anak ahensi periklanan. Menurut teman-teman saya di tempat baru ini, cara berpakaian saya hingga saat ini masih terkesan 'resmi'. Walaupun menurut saya, cara saya berpakaian sudah jauh berubah. Dari semula sibuk dengan blazer ataupun gaun-gaun yang resmi, sekarang blazer ditinggalkan, atau dari gaun resmi sekarang pelan-pelan beralih ke gaun-gaun yang lebih 'santai' atau 'sleeveless', dari sepatu yang selalu tertutup di bagian depan aka 'pump shoes' sekarang sudah berani menggunakan sepatu yang terbuka bagian depannya aka 'high heels sandals'.

Kedua,  sisi pekerjaan, dari semula berada di kantor sepanjang masa, sesekali bepergian ke luar kota atau mengontrol pekerjaan ahensi aka vendor. Sekarang hidup saya dihabiskan dengan berkelana dari gedung ke gedung. Dari semula perjalanan ke Bandung pasti menginap 1 malam, sekarang layaknya eksekutif kelas kakap, perjalanan ke Bandung pulang-pergi, hanya untuk meeting 1,5 jam saja.  Dari semula yang mengkontrol pekerjaan si ahensi aka vendor, sekarang berbalik saya yang dikontrol oleh mereka. Hehehe dari semula, 'memarahi' sekarang menjadi 'yang dimarahi'. Dari semula dikejar 'vendor' untuk segera melunasi tagihan mereka sekarang menjadi yang mengejar 'klien' untuk segera membayar pekerjaan yang sudah diselesaikan.

Ketiga, absensi, dari semula absensi hampir tidak pernah kelihatan wujud nyatanya, sekarang mendadak ada dunia baru bernama 'time-sheet'. Wujud baru yang membuat saya seperti berada di dalam penjara. Rasanya tidak ada gerak langkah saya yang tidak diikuti sipir penjara. Setiap hari  saya harus mengisi elektronik 'time sheet' yang mencatat semua langkah saya pada hari itu, berapa jam yang saya habiskan dengan klien A, atau klien B, berapa jam yang saya habiskan untuk mengurus masalah administrasi atau 'internal meeting' dengan team membahas klien A atau B. Tidak harus persis tetapi dari selembar catatan itulah, keuntungan yang didapatkan dari menjadi konsultan dihitung.

Belum lagi slides-slides presentasi yang harus dikerjakan, lengkap dengan gambar-gambar canggih dan memantaskan ide-ide atau laporan yang harus disampaikan ke klien, disamping 'research' yang harus dilakukan agar tidak ketinggalan berita atau ide, membuat saya terengah-engah sendiri.

Wong biasanya slides yang saya buat bukan a la konsultan sekarang harus dengan template konsultan. Terus terang sampai sekarang saya masih bingung, koq mudah sekali ya rekan kerja saya mengerjakan puluhan slides yang rumit dan bisa-bisanya dia bisa punya ide menggunakan gambar-gambar atau chart-chart indah.

Disamping menghitung biaya atau 'retainer fee' untuk sebuah proyek, membuat saya harus mampu berimajinasi, pekerjaan tersebut sebenarnya melibatkan siapa saja, jam yang dihabiskan oleh mereka yang terlibat, komponen apa saja yang harus ada - tidak hanya manusia tetapi sistem di belakangnya. Biaya yang menjadi penentu saat saya mengajukan proposal kerja kepada si klien. Biaya yang tidak saja harus menguntungkan buat si konsultan tetapi di satu sisi juga 'murah dan berkualitas' dari pandangan si klien.

Ya dunia baru, yang membuat saya tunggang-langgang dan membuat saya kerap bertanya-tanya dimana ya perasaan gembira ketika bertemu hari Jumat.

Tapi terlepas dari dunia amburadul itu, harus saya akui, hidup saya sekarang lebih berwarna, karena walaupun hidup saya seperti orang dikejar anjing gila, namun saya berkesempatan hidup di dunia yang berbeda-beda setiap saat. Dulu bekerja di industri yang sama sepanjang masa, sekarang dalam hitungan waktu, saya bisa berada di dua industri yang berbeda, membahas masalah yang sama, dengan pendekatan yang berbeda.

Rasanya seperti dokter yang mempelajari penyakit pasiennya, mencari formula atau pilihan obat dari buku MIMS yang tebal agar penyakit pasien bisa segera disembuhkan dan pasien bisa kembali beraktifitas.

Bagaimana tidak, setiap saat, saya harus mempelajari si klien, harus mampu menanyakan pertanyaan yang tepat agar bisa mendapatkan informasi yang tepat tentang keinginan si klien, yang pada umumnya tidak tahu persis apa yang mereka inginkan.

Saya pun jadi bertambah pengalamannya menjelajah jalanan rimba kota Jakarta, pertemanan saya dengan Waze dan Google Map pun semakin erat. Suatu ketika pernah pagi hari saya harus bepergian ke daerah industri di Bekasi dan siang harinya sudah harus berada di daerah TB. Simatupang. Atau pagi hari harus meeting di daerah Senopati, pindah berdiskusi di sebuah cafe di jalan yang sama, siang hari pindah ke kantor untuk bertemu team yang berbeda dan menjelang sore hari bertemu dengan klien di daerah Sudirman.

Penjelajahan yang membuat saya berpikir, kalau nanti saya pensiun sebagai konsultan, saya bisa melamar menjadi supir taksi Blue Bird yang canggih. Bagaimana tidak, saya harus berpacu dengan waktu, memilih jalan yang efisien agar bisa sampai di tempat klien dengan dandanan yang terjaga, senyum yang selalu mengembang setiap saat - walaupun harus diakui ada saat dimana saya pernah beberapa kali terpaksa harus menyimpan senyum saya di kedua sudut mulut saya - dan tentu saja tetap fokus terhadap kemauan klien.

Dan akhirnya saya pun berkesimpulan, pekerjaan dimana saja sama, tetapi kalau boleh memilih, rasanya saya ingin kembali ke 'client side' istilah yang dipergunakan bagi pekerja dengan status konsultan. Lama-lama lelah juga menjadi penjelajah Jakarta.






Senin, 17 Maret 2014

Parkir Khusus Perempuan

Akhir-akhir ini marak disediakan tempat parkir khusus bagi pengemudi perempuan, Fasilitas yang beberapa tahun lalu bahkan oleh para perempuan tidak pernah terpikirkan akan ada.

Saya tidak tahu siapa yang memulai menyediakan tempat parkir khusus untuk perempuan, tetapi siapa pun itu, idenya patut untuk dihargai. Minimal dengan disediakannya tempat parkir khusus itu, setidaknya para pengemudi wanita yang terpaksa pulang larut malam, bisa merasa aman.

Tapi sejalan dengan fasilitas yang menguntungkan perempuan, di satu sisi fasilitas tersebut tampaknya menimbulkan rasa iri kaum pria.

Buktinya, semakin banyak kaum pria yang mendadak berubah jenis kelaminnya menjadi perempuan demi memperebutkan sepotong lahan parkir. Dan mendadak belagak acuh ketika tertangkap basah oleh kaum perempuan.

Bagi mereka, daripada harus berputar-putar menghabiskan bensin dan tenaga, lebih baik menjadi perempuan sejenak.

Ironis tapi nyata.

Namun itu belum seberapa dibandingkan dengan peraturan yang setengah hati dijalankan demi sepotong pengakuan.

Gedung Menara Jamsostek di jalan Gatot Subroto, salah satu contohnya. Entah ingin sekedar dianggap sebagai gedung yang mengikuti trend gedung perkantoran lainnya atau ingin berbela-rasa terhadap kaum perempuan, manajemen gedung tersebut menetapkan memberi sepertiga lahan parkirnya khusus bagi kaum perempuan.

Usaha yang patut dihargai sebenarnya, jika dilihat dari kebaikan hati memberikan  sepertiga dari satu lantai, tetapi jika dilihat dari apa yang terjadi dari 2/3 area lantai tersebut, tetap terasa sebagai keputusan setengah hati.

Mengapa setengah hati ? Karena  2/3 dari lantai yang dikhususkan sebagai area parkir tersebut menjadi area mushola yang pada hari jumat, sepertiga lahan area parkir khusus perempuan mendadak hilang sontak, direlakan menjadi area sholat jumat.

Sebenarnya sih - sebagai kaum perempuan yang merasa mendadak didiskriminasi oleh perlakuan setengah hati itu - tidak apa-apa juga pengelola gedung menerapkan hal itu, tetapi mbok ya pada saat area itu berubah mendadak jadi arena sholat jumat, ya jangan goler-goleran lah para kaum pria tadi.

Lagipula, kalau ingin menjadikan area tersebut sebagai area sholat atau mushola, pilihlah lantai yang memang diperuntukkan khusus untuk kaum pria.

Tindakan setengah hati tadi menunjukkan betapa perempuan tetap dianggap sebagai kaum marjinal, kaum yang tidak layak mendapat perlakuan sebanding dengan kaum pria. Perlakuan khusus yang diberikan pun hanya sekedar mengikuti trend - agar tidak dianggap sebagai gedung yang ketinggalan jaman.

Di satu gedung perkantoran yang menjadi satu dengan mall, khusus di lantai parkir perkantorannya disediakan parkir khusus kaum perempuan sementara musholanya berada di area parkir lantai yang berbeda, dimana jika hari Jumat tiba maka yang mendadak kehilangan hak parkir tentu saja kaum prianya.

Sebenarnya ada atau tidak area parkir khusus untuk perempuan tidak menjadi masalah bagi saya, karena sejak bekerja di kantor terdahulu pun, jarang sekali saya menggunakan area khusus perempuan. Bukan karena sombong, tetapi karena tanpa harus menggunakan area khusus tersebut, kedatangan saya yang selalu lebih awal dari yang lain, membuat saya selalu mendapatkan spot yang terbaik.

Dan bagi saya, jika memang ingin memberi tempat parkir khusus untuk perempuan, berikanlah dengan ikhlas, jangan setengah hati.

Senin, 24 Februari 2014

Perusahaan dengan budaya Kodok Melompat

Pernah melihat katak atau kodok melompat ? Kedua kakinya mencari pijakan sebagai ancang-ancang sebelum melompat jauh, dengan kata lain, si katak berhasil melejit sementara tempatnya berpijak tetap ditempatnya.

Saya pernah mendengar perumpaan ini ketika salah seorang rekan saya memberikan pelatihan tentang 'Team Work". Kalimat tepatnya saya lupa, tetapi intinya seperti ini, 'Bersaing untuk peningkatan karir itu penting, tetapi jangan sampai menghalalkan segala cara, mencari keuntungan bagi diri sendiri dan mengabaikan kerjasama tim demi peningkatan karir.'

Kalau dipikir-pikir, dimana pun kita bekerja, mereka yang masuk dalam kategori jenis katak ini selalu ada, dalam setiap jenjang, baik dari mereka yang baru meniti karir hingga mereka yang sudah masuk kategori mid senior level ke atas. Tinggal dipilih jenis operandi mereka, masing-masing punya gaya khasnya sendiri-sendiri.

Sebenarnya, sah-sah saja mereka memilih gaya katak lompat ini, selama si pemimpin yang melihat pertunjukan gaya katak melompat ini bisa cermat melihat dan tidak terpana melihat lompatan si katak. Namun, karena pemimpin juga manusia, yang kadangkala juga bisa silau, lompatan si katak kadang tidak terlihat.

Sepanjang perjalanan saya bekerja di berbagi perusahaan - lokal maupun multinasional - pertemuan saya dengan mereka yang memiliki lompatan katak semakin sering saat saya menduduki posisi manajerial.

Saya nyaris tidak dapat mendeteksi modus operandi mereka - bahkan saya sendiri pun tertipu oleh keahlian mereka yang luwes itu. Hingga suatu peristiwa yang hampir menyeret saya ke dalam lubang kejatuhan, menyadarkan saya bahwa anak buah saya ini tidak semanis yang saya duga.

Sejak peristiwa itu, saya benar-benar menjaga 'hati' agar tidak terperosok dan mengakrabkan diri dengan rekan-rekan sejawat.

Namun, berdasarkan pengalaman pula, budaya katak melompat ini tidak pernah menjadi budaya perusahaan, karena pelakunya tidak memiliki power yang luar biasa, masih ada sistem lainnya yang bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut yang mementahkan kekuatan si pelaku katak melompat tadi.

Hingga tibalah saya di suatu perusahaan multinasional, yang justru memiliki budaya katak melompat untuk bertahan hidup. Anehnya, budaya tersebut tidak memilih-milih strata, dari level yang paling bawah sampai seniornya, hampir semua menerapkan budaya katak tadi.

Hanya mereka yang sanggup menerapkan budaya katak tadilah yang bertahan hidup, sesulit apa pun tekanan yang mereka miliki. Hebatnya lagi, para karyawan baru pun - terutama mereka yang memiliki gen katak melompat tadi - langsung bisa mendeteksi cara survival itu.

Mereka yang menerapkan budaya katak tersebut tidak secara otomatis langsung naik pangkat, ada yang tetap menempati posisinya, ada yang naik pangkat.

Mereka yang tidak menerapkan budaya katak, secara otomatis berada dalam kangkangan si katak, tetap berada di kotaknya, tanpa ada kesempatan untuk 'naik' karena sudah terlanjut masuk dalam 'cap tidak kompeten, tidak bisa berkembang, kemampuannya ya hanya sampai disitu'.

Kenyataan yang mampu membuat saya seperti disetrum jutaan watt listrik dan membuat saya bertanya-tanya, fenomena apakah ini.

Saya pun kemudian melakukan pengamatan dengan lebih mendalam, memperhatikan setiap intrik, mendengarkan setiap cerita, dan akhirnya memetik kesimpulan, budaya tersebut memang sengaja diterapkan si pemimpin perusahaan, agar perusahaannya tetap jaya dan agar tidak ada yang sanggup menggeser kedudukan si pemimpin.

Kekuatan super power si pemimpin rupanya telah dibangun sejak perusahaan tersebut masih berstatus 'lokal', sehingga tidak aneh jika tidak ada satupun orang yang sanggup melawannya, tidak dulu, tidak pula sekarang saat perusahaan tersebut sudah berganti wajah menjadi perusahaan multi nasional.

Tidak heran peusahaan tersebut memiliki tingkat 'turn over' yang sangat tinggi, bukan karena paketnya yang kurang menarik, tetapi lebih karena rasa aman dan penghargaan terhadap kinerja, tidak tersedia.

Akhirnya saya berkesimpulan bahwa sifat inferioritas si pemimpin perusahaan lah yang menyebabkan budaya katak melompat berkembang biak.

Sifat inferioritas ini semakin berurat-berakar karena perusahaa ini pun tidak memiliki nilai-nilai yang menjunjung tinggi manusia pekerjanya dan semakin kuat lagi ketika perusahaan multi nasional yang mengakuisisinya tidak berani bertindak karena, lagi-lagi, pertimbangan bisnis.

Jika ingin melihat komedi 'menjilat pantat atasan' datang saja ke meeting yang dihadiri oleh rekan sejawat dari regional dan si pemimpin. Begitu si pemimpin tidak kelihatan batang hidungnya, mereka sibuk mengejek si pemimpin budaya katak tadi, tetapi begitu dia menampakkan batang hidungnya di ruang meeting, senyum manis pun bertebaran seolah-olah mereka berhadapan dengan Sang Dewi.

Kenyataan yang mengharukan dan menyedihkan, karena tanpa disadari, mereka yang waras dan tidak memiliki minat menerapkan gaya katak tadi, tidak akan memberikan rekomendasi teman mereka yang berpotensi untuk bergabung di perusahaan itu.

Menjadi yang terpinggirkan tidak berarti kehilangan akal sehat ....

Jumat, 31 Januari 2014

Loyalitas Karyawan

Beberapa waktu yang lalu ketika saya sedang mendiskusikan program loyalti untuk suatu produk, tiba-tiba salah seorang teman saya dari bagian sumber daya manusia mengajukan ide untuk mendisain program loyalti untuk karyawan perusahaan dimana saya bekerja.

Saya yang sedang berdiskui mengenai program loyalti tertegun sebentar sebelum mengajukan pertanyaan mendasar,'kenapa mendadak ingin mengadakan program tersebut.'

Saya tahu bahwa program loyalti tidak terbatas untuk konsumen saja tetapi juga bisa diterapkan pada karyawan suatu perusahan, tetapi tentu saja jenis program tersebut bukan poin reward, karena prinsip dari poin reward adalah memberikan reward kepada konsumen terhadap barang yang dibeli sehingga nantinya si konsumen - jika tertarik disamping senang menggunakan produk tersebut - diharapkan akan kembali lagi membeli produk tersebut dan tidak pindah ke lain hati.

Sementara untuk karyawan, tidak ada barang yang dibeli dari perusahaan. Justru karyawan itulah yang memberikan sesuatu atau dengan kata lain menjual pikiran dan tenaganya kepada perusahaan dan sebagai alat pembayarnya perusahaan tersebut memberikan gaji.

Nah, kembali ke topik alasan ingin mengadakan program poin reward tersebut, si rekan saya yang dari sumber daya manusia itu, tanpa jeda langsung menimpali pertanyaan saya. Katanya, program poin reward itu keliatannya ide menarik agar karyawan loyal bekerja di perusahaan tempat kita bekerja.

Saya tertegun sejenak sebelum mengeluarkan jurus senyum saya yang tidak pernah berhasil membuat atasan saya bertekut-lutut dan mengeluarkan kalimat ampuh saya, "Hah ? Gak salah tuh ? Kok poin reward sih ? Naikin aja gaji karyawan setiap kali, nanti juga loyal."

Tetapi kemudian - saat mobil saya terjebak macet - tiba-tiba ingatan saya kembali lagi ke percakapan dengan si rekan sumber daya manusia tadi.

Kalau nanti ternyata tiba-tiba si Presiden Direktur dari komunitas sableng ini tiba-tiba setuju, lalu apa kriteria pengumpulan poinnya ? Apa iya program poin reward pasti bisa membuat karyawan loyal ?

Ide untuk membuat karyawan loyal pada perusahaannya tentu saja suatu usaha yang patut mendapat acungan jempol. Tapi kenapa berpikirnya rumit sekali ya ?

Bagi saya, karyawan yang baik adalah karyawan yang loyal terhadap dirinya sendiri, karena dengan loyal terhadap dirinya sendiri, berarti dia akan memberikan totalitas terhadap tenaga dan pikirannya untuk mencapai target yang diterapkan perusahaan terhadap dirinya. Loyal terhadap diri sendiri berarti tidak akan membiarkan dirinya 'gagal' sehingga ujung-ujungnya tentu saja menguntungkan perusahaan disamping tidak akan merugikan dirinya sendiri sebagai seorang 'karyawan'.

Nah, lalu apa bedanya dengan saya loyal terhadap perusahaan saya ? Loyal terhadap perusahaan berarti apa pun yang terjadi saya tetap akan bekerja di perusahaan itu, walaupun ada kesempatan yang lebih bagus dari perusahaan lain, saya tetap tak bergeming. Cinta saya hanya kepada perusahaan itu. Cinta yang bagi saya membahayakan karena ketika perusahaan itu tiba-tiba mati, pastinya saya akan merana setengah mati.

Rasanya, saya ingin kembali dan berdebat dengan si rekan sumber daya manusia tadi, dan bertanya kriteria pengumpulan poinnya mau dilihat dari sisi apa, lama masa bekerja, lamanya menghabiskan waktu di kantor, waktu kedatangan, waktu kepulangan, tidak pernah sakit, tidak pernah izin ?

Sampai tahun jebot pun, andaikata kriteria tersebut di atas digunakan dan kemudian diterapkan, rasanya tingkat 'turn-over' perusahaan tersebut tidak akan berubah, mengalami peningkatan ya, tapi tidak akan mengalami penurunan.

Hari gini, coba deh introspeksi diri dulu, apakah saya sudah memberikan yang seharusnya kepada karyawan untuk membuat karyawan nyaman bekerja di perusahaan saya ?

Ah, namanya juga komunitas sableng, tidak heran ide-idenya juga sableng.