Senin, 23 November 2009

Mempertahankan Cinta


Di buku Senandung Cinta dari Rumah Kayu, karangan Dee dan Kuti, ada artikel yang menarik judulnya “ Disana, Mereka Berjuang demi Cinta”.

Dalam artikel tersebut, Dee (?) menanyakan sebuah pertanyaan yang sejak jaman saya belum lahir selalu muncul di setiap perbincangan mengenai Cinta. Dee (?) menulis tentang betapa mudahnya seseorang melepaskan pasangannya yang dulu dipilih sendiri untuk dicintai dan dinikahi, sementara di belahan bumi yang satunya lagi, banyak orang harus berjuang untuk cinta mereka.

Betapa di belahan bumi ini, seseorang tidak berusaha berjuang untuk bertahan, mempertahankan cinta mereka, sementara di belahan bumi disebaliknya banyak orang yang meneteskan air mata demi cinta mereka.

Saya pun kemudian merenung, mencoba mengingat-ingat cerita tentang cinta yang saya temui sepanjang perjalanan hidup saya.

Benarkah demikian, bahwa pernikahan yang gagal karena mereka yang terlibat di dalamnya tidak mempertahankan cinta yang mereka pilih dulu, bahwa mereka dengan mudahnya melepaskan cinta itu ?

Mungkin saja, jika pernikahan itu setara dengan ilmu pasti, dimana 2 x 2 = 4.

Tetapi menurut saya, pernikahan adalah sesuatu yang abstrak, sesuatu yang tidak bisa dirumuskan dengan rumus apa pun. Pernikahan adalah hubungan dua anak manusia yang diciptakan Tuhan berbeda satu dengan lainnya. Hubungan yang diawali dengan rasa, bukan logika.

Sehingga ketika rasa yang pertama itu itu bertabrakan dengan rasa yang datang kemudian, apakah dapat diartikan sebagai pertahanan yang rapuh ? apakah dapat diartikan sebagai kemudahan membiarkan diri tergoda ? Benarkan demikian ?

Siapakah yang mampu menjelaskan kesamaan rasa itu ? Siapakah yang mampu menjelaskan rasa yang pertama dan rasa yang datang kemudian ?

Si empunya perasaan ? ataukah mereka yang tidak terlibat di dalamnya dan hanya mampu memandang dari kejauhan ?

Siapapun akan berkata, hanya si empunya rasalah yang mampu menjelaskan itu semua, dengan sejuta alasan pembenaran. Sejuta alasan yang mungkin tidak dapat menjelaskan rasa itu sendiri.

Sejuta alasan pembenaran yang kemudian dicarikan padanannya dalam logika oleh mereka yang tidak terlibat dan hanya melihatnya dari kejauhan.

Logika yang kemudian melahirkan anggapan bahwa ketidakmampuan mempertahankan cintalah yang menjadi penyebab sang pemilik membuang cinta yang lebih dulu ada. Logika yang kemudian menjadi rumus untuk setiap kegagalan pernikahan.

Namun, benarkah demikian ? Bahwa pernikahan yang gagal karena mereka yang terlibat di dalamnya tidak mempertahankan cinta yang mereka pilih dulu ? bahwa mereka dengan mudahnya melepaskan cinta itu ?

Saya hanya tahu satu hal, jika saja logika mampu menjelaskan rasa itu, tentu tidak ada sejuta kata tentang cinta, tentu tidak ada sejuta kata tentang air mata, tentu tidak ada sejuta kata tentang rasa, tentu tidak ada sang pemilik lakon dan sang penonton.

Dan logika sampai kapan pun tidak mampu menjelaskan mengapa seseorang membiarkan rasa yang datang kemudian mengalahkan rasa yang datang pertama.

Siapa pun dapat memiliki sejuta alasan untuk ketidakmampuan mempertahankan cinta, siapa pun dapat memiliki sejuta jawaban untuk sejuta alasan ketidakmampuan mempertahankan cinta.

Saya tidak berusaha mengabaikan jawaban atas alasan ketidakmampuan mempertahankan cinta, tetapi menurut saya, ketika rasa yang kemudian datang mengalahkan rasa yang pertama ada, mungkin pada saat itu sang rasa telah kehilangan maknanya. Bukan karena sang rasa memutuskan untuk pergi, atau karena sang empunya rasa tidak berusaha, tetapi mungkin karena Sang Pencipta merasa perlu mengganti lakonnya.

Mungkin ....


Jumat, 20 November 2009

Hidup ini Pilihan ...


Klise ? Mungkin, tetapi ketika kalimat itu dipergunakan di saat yang tepat, maka akan terasa kebenaran maknanya.

Coba kita hitung berapa kali pilihan yang kita ambil dalam jangka waktu 1x24 jam ? Dari sejak Tuhan mengizinkan kita membuka mata hingga saat Tuhan membiarkan kita tidur ?

Rasanya tak terhitung, dari mulai memutuskan bangun, mandi, berangkat kantor, kerja atau main, marah atau diam, makan siang di luar atau di dalam, pulang cepat atau sesuai aturan, makan malam atau tidak, tidur cepat atau tidak, menonton siaran stasiun A atau B, nyaris tidak ada yang tidak harus dimulai dengan pilihan.

Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa ketika kita memilih, ketika kita memutuskan, kita juga memikirkan dampaknya terhadap relasi kita dengan rekan sepermainan, rekan sekerja, atau pun keluarga kita ?

Jawabannya bisa ya, bisa tidak.

Beberapa waktu lalu, ketika terjadi perubahan kepemimpinan di tempat saya bekerja, salah seorang rekan saya dengan gencarnya melakukan gerakan ’menjilat atasan’. Saya tidak tahu apakah dia sadar atau tidak, tetapi tindakannya itu bisa dilihat dengan mata telanjang. Entah memang Tuhan yang sedang berpihak kepadanya, tetapi setiap kali dia melakukan gerakan ”menjilat atasan” selalu saja berhasil.

Bahkan gerakan itu tidak berhenti sampai disitu saja, dia pun dengan tenangnya menyatakan berhak atas salah satu bagian pekerjaan yang sebenarnya bukan hak miliknya.

Gerakannya yang menghebohkan itu tentu saja mengundang angin segar untuk berdiskusi, diskusi yang berujung pada sebuah kesimpulan bahwa jika kami ingin berhasil, kami harus bisa seperti dia.

Saat diskusi mencapai kata akhir, saya hanya diam dan tersenyum.

Bukan karena saya setuju atau tidak setuju, tetapi lebih semata karena saya tidak memiliki keahlian penjilat. Namun setelah saya renungkan lebih dalam lagi, rasanya bukan karena saya tidak memiliki keahilan itu, jawaban yang lebih tepat adalah karena saya memilih untuk tetap menjadi diri saya sendiri. Memilih untuk hidup tenang, tidak harus berpikir gerakan apa yang harus yang harus saya ambil jika terjadi perubahan mendadak atau berusaha menutupi ketidakmampuan saya mencapai hasil yang ditargetkan.

Dan salah seorang rekan saya yang menahan kekesalan hatinya akibat tingkah laku sang ahli gerakan penjilat itu pun tiba-tiba berkata, ”Setelah saya pikir-pikir, untuk apa saya sakit hati, malah akan merugikan kesehatan saya.” dan sambil tersenyum ia melanjutkan, ”Saya sudah memilih, saya tidak akan sakit hati lagi. Minimal dengan pilihan ini saya bisa hidup tenang, tidak menyakiti hati orang lain.”

”Bukannya hidup itu adalah pilihan” ujarnya lagi.

Saya pun mengiyakan kalimat klise yang mendadak kehilangan rasa kadaluwarsanya, kalimat yang meninggalkan seribu makna di luar kekliseannya.

Sepanjang sisa hari itu, dan keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, maknanya meninggalkan seribu satu cerita, tentang hari yang dimulai dan diakhiri dengan pilihan, tentang dampak yang ditimbulkan dari pilihan-pilihan yang kita buat dalam hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan atau tahun.

Saya pun mencoba menghitung, mencoba menginventarisasi berapa banyak jiwa yang menderita, yang sakit hati, yang menangis, yang mengutuk, yang bergembira, yang berterima kasih, yang tertawa, yang mendoakan, akibat pilihan-pilihan yang saya buat dalam hidup ini.

Namun, hingga tulisan ini dibuat, saya tidak bisa mencatatnya.

Dan saya pun berkesimpulan, hanya Tuhan yang tahu karena Tuhanlah yang memberikan kita Hidup dengan Pilihan.



.... Renungan untuk sebuah cerita yang tidak pernah selesai ....

Jumat, 30 Oktober 2009

Renungan Tentang Sumpah Pemuda



Di hari Sumpah Pemuda lalu, salah seorang senior saya, Eko Endarmoko, penulis Tesaurus Bahasa Indonesia, pagi-pagi sudah menulis di status facebooknya, “Delapan puluh satu tahun silam, para pemuda se-Nusantara yang berkumpul di sebuah gedung di Jalan Kramat Raya, Jakarta, elok sekali merumuskan pernyataan “menjunjung” – bukan “mengakui” – bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dan kearifan mereka itu membuat saya tak pernah habis pikir, sampai detik ini.”

Status yang membuat saya merenung, betapa dewasanya para pendahulu saya, mengakui dengan gagah berani bahwa mereka, para pemuda itu, berbeda satu sama lain, tidak hanya bahasa, suku tetapi juga agama mereka. Perbedaan yang tidak menjadikan mereka saling mencerca, namun justru menjadi pendorong untuk mewujudkan keinginan luhur mereka, Indonesia.

Suatu kebesaran hati yang mereka hadiahkan bagi generasi penerus mereka, kebesaran hati yang mampu menjembatani seluruh perbedaan yang ada. Semua ego yang mereka miliki mereka taruh di urutan paling belakang, demi mengedepankan cita-cita mulia mereka.

Kebesaran hati yang tersirat lewat pernyataan para pemuda, “menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.”

Saya tidak dapat membayangkan apa yang akan mereka pikirkan jika mereka melihat peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, di negeri yang mereka cintai.

Rasanya persatuan yang menjadi tujuan mereka dulu, perlahan mulai memudar, tepat ketika pendidikan yang juga menjadi salah satu unsur perjuangan mereka dulu, semakin terbuka, dan jumlah yang mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi semakin bertambah.

Kita cenderung melupakan unsur yang paling hakiki dari semangat “menjunjung” tinggi tadi, kita mendadak lupa makna tersirat dari "menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan" yaitu saling menghormati dan menghargai, sehingga yang terjadi kini adalah pembenaran terhadap fanatisme yang berlebihan terhadap keyakinan yang dianut, tanpa menyadari justru perbedaan itulah yang menjadikan Negeri kita Negeri yang Kaya.

Mungkin jika para pendahulu kita, yang menaruh ego perbedaan itu di urutan paling akhir untuk dikedepankan, berkunjung ke masa kini, akan terhenyak mendapati perjuangan mereka pelan tapi pasti berubah dari tujuan semula.

Pertanyaan demi pertanyaan saling berlomba untuk sampai di pemikiran saya, namun tidak ada satu jawaban pun yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Semua kembali lagi ke muaranya, tanda tanya dan bukan titik.

Betapa di hari itu saya merindukan para pendahulu saya, untuk membangunkan kami, generasi adik saya, generasi anak saya , seperti seruan Chaseiro lewat lagunya – Pemuda – pada hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2009, saat konser di Rolling Stones, Kemang, “Bersatulah semua, seperti dahulu. Lihatlah ke muka, keinginan luhur kan terjangkau semua. Pemuda mengapa wajahmu tersirat dengan pena yang bertinta belang, cermin nan tindakan akan perpecahan, bersihkanlah nodamu semua.” Lirik yang ternyata tetap menggetarkan batin saya, seperti dahulu ketika saya mendengarkan lagu ini beberapa dekade lalu.

Entah apa yang dapat menghidupkan kembali semangat yang dimiliki oleh Soegondo Djojopoespito – Ketua (PPPI), Djoko Marsaid – Wakil Ketua (Jong Java), Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen (Sekretaris), Amir Sjarifudin dari Jong Sumatranen (Bendahara), Djohan Mu Tjang (Jong Islamieten), Kontjosoengkono dari P.I, Senduk dari Jong Celebes, Leimena dari Jong Ambon dan Rohyani dari Pemoedaa Kaum Betawi, Mr Sartono, Mr.Muh Nazif, A.I.Z Mononutu, Mr.Soenario, S. Mangoensarkoro, Ki Hadjar Dewantoro dan Djokosarwono, Kartakusumah (PNI Bandung), Abdulrachman (B.O Jakarta), Karto Soewirjo (P.B Sarekat Islam), Muh. Roem, Soewirjo, Sumanang, Masdani, Anwari, Tamzil, AK Gani, Kasman Singodimedjo, Saerun (wartawan Keng Po), WR Supratman. Soerjono dan Soekawati .

Dan hari ini saya tergerak memperdengarkan lagu Pengungkapan, Chaseiro, kepada kedua putri saya, yang sangat menghayati betapa indahnya menghormati perbedaan itu.

Kamis, 03 September 2009

Ketika Agama bukanlah Baju kita


Tiga hari yang lalu, di tengah-tengah kesibukan saya bekerja, tiba-tiba ada sebuah surat masuk ke dalam inbox email pribadi saya, sebuah email yang ditulis oleh salah seorang pembaca blog saya tentang Catatan Saya dari Misa Paskah Anak-anak.

Email yang membuat saya terhenyak, tertawa dan kemudian merenung dalam-dalam. Email yang kemudian membawa ingatan saya kembali ke awal masa-masa kuliah.

Saya cukup beruntung mendapat dosen agama yang membuat saya seperti sekarang ini, dosen agama yang berpandangan luas, yang selalu terbuka menerima pertanyaan-pertanyaan mahasiswinya, yang dengan bijaksana membuka mata batin saya, yang sering saya mintai uang buat jajan dan terutama yang mengajarkan agama dari cara pandang Fisika (kuliah agama yang selalu membuat para mahasiswanya mengerutkan dahi).

Saya masih ingat pertanyaan saya tentang Surga dan Neraka di suatu sore kepada Dosen agama saya yang baik dan pintar itu, Alm. Pater Drost SJ, pendidik dan pemerhati masalah pendidikan, “Pater, apakah kita semua akan masuk surga ? Kalau ada orang yang tidak beragama tetapi menerapkan Hukum Cinta Kasih dalam kehidupannya dan kemudian ada orang yang sangat taat beragama tetapi tidak menerapkan Hukum Cinta Kasih, siapa yang akan masuk surga ?

Jawabannya saat itu membuat saya terhenyak, “Semua orang akan masuk surga, tetapi siapa yang paling dahulu, tentu saja yang tidak beragama tetapi menerapkan prinsip-prinsip cinta kasih dalam kehidupannya. Sedangkan dia yang beragama tetapi tidak menerapkan prinsip-prinsip Cinta Kasih dalam kehidupannya akan berada di urutan paling belakang di antrian pintu surga.”

Dan seperti kebiasaan jelek saya yang tidak pernah hilang, saya membantahnya, “Kalau begitu, lebih baik saya tidak ke gereja, tidak beragama, tetapi menerapkan prinsip-prinsip Cinta Kasih dong Pater.”

Bantahan yang kemudian dijawabnya dengan arif bijaksana, “Tidak bisa seperti itu, justru kamu tetap harus ke Gereja, sehingga jiwa kamu diselamatkan dan selalu mendapat tuntunan untuk menerapkan hukum Cinta Kasih. Jika kamu tidak beragama atau tidak ke gereja, kemungkinannya untuk tergelincir jauh lebih besar.”

Pertanyaan iseng-iseng berhadiah di sore saat saya kehabisan uang jajan yang akhirnya menguatkan iman dan mengubah pandangan saya tentang Agama hingga saat ini.

Di suatu sore lainnya, ketika uang jajan saya utuh dan saya rindu dengan perbincangan kecil kami, saya pun bertandang ke tempatnya yang menjadi satu dengan gedung kuliah saya saat itu di jalan Menteng Raya, Kanisius.

“Pater, saya mau belajar agama lain ah. Saya ingin mempelajari agama Islam dengan lebih mendalam, karena pacar saya (yang sekarang menjadi suami saya) beragama Islam.”ujar saya sambil bersiap-siap kena kuliah agama dari Alm. Dosen kesayangan saya

Namun ternyata jawabannya sekali lagi di luar dugaan saya, “Oh itu bagus, dengan demikian kamu akan lebih mengenal agama Islam sebelum kamu memutuskan untuk berpindah agama.”
Sesuatu yang tidak masuk akal bukan, seorang Pater, pemimpin agama, memberikan izinnya untuk mempelajari agama lain, tanpa sepatah kata pun menyampaikan keberatannya ataupun kehebatan agama yang saya anut.

Mendapat lampu hijau, saya pun dengan bersemangat mempelajari agama Islam, tentu saja dengan membaca buku-bukunya dan bertanya-tanya kepada pacar saya.

Hubungan saya dengan Pater Drost, tetap berjalan seperti adanya, tidak ada yang berubah, saya tetap minta uang jajan kepada beliau, tetap menyapanya setiap sore jika kebetulan saya sedang berada di area tempat tinggal beliau. Tidak ada satu patah kata pun menanyakan perkembangan keinginan saya itu.

Hingga akhirnya, di suatu sore, sebelum saya ujian kenaikan tingkat, saya memutuskan untuk bertandang ke tempat beliau, menyampaikan kabar bahwa saya ternyata tidak bisa pindah ke lain hati. Saat itu yang beliau tanyakan hanyalah bagaimana saya berproses.

“Tidak ada yang salah dalam agama Islam, Pater. Tetapi ada satu titik dalam pengalaman batin saya, yang kemudian membuat saya paham bahwa sebenarnya saya sudah menemukan kedamaian dengan cara saya berdialog dengan Tuhan,”ujar saya menjawab pertanyaannya

Setelah itu, sesuai dengan namanya “Pater Drost”, tentu saja pertemuan itu diakhiri dengan doa bersama, doa berupa ucapan terima kasih karena Tuhan telah membimbing saya mendapatkan jawaban yang selama ini saya cari. Bukan karena tetap memilih agama Katolik sebagai jalan hidup saya, tetapi karena saya telah menemukan jawaban atas kebimbangan saya.

Pengalaman batin itu kemudian menyadarkan saya bahwa agama adalah sesuatu yang tidak dapat dipaksakan. Agama adalah pengalaman batin. Agama bukanlah baju kita, agama adalah diri kita sendiri.

Sejak saat itu, tidak pernah sebersit pun terlintas dalam diri saya untuk meminta atau mempengaruhi mantan pacar saya agar berpindah agama mengikuti agama yang saya anut. Bagi saya, selama ia telah menemukan kedamaiannya dengan Tuhan melalui agama yang dianutnya, sudah cukup.

Mengenai nantinya akan masuk neraka atau surga, bagi saya surga dan neraka sudah ada di bumi ini, ketika kita hidup dan menjalani kehidupan kita sehari-hari. Setiap hari kita bertemu dengan dengan surga dan neraka. Apa yang kita perbuat di hari kemarin, akan kita tuai mungkin di hari ini, atau hari esok.



Sabtu, 29 Agustus 2009

Ganyang Malaysia atau Indonesia Wannabe ?


Hm..menarik sekali melihat interview Permadi dengan salah satu stasiun TV swasta kemarin malam. Gayanya yang berapi-api dengan kata, “Biadab…Biadab….Biadab, “ saat ditanya pendapatnya mengenai perlakukan polisi Malaysia terhadap salah seorang tenaga kerja Indonesia di sana.

Selanjutnya seperti mendengar retorika pepesan kosong, seperti mendengar kampanye yang baru saja usai beberapa waktu lalu.

Bukannya saya tidak setuju dengan pendapatnya Permadi, tetapi mendengar pendapatnya yang berapi-api dan bagi saya tanpa adanya solusi yang berarti, membuat saya pada akhirnya memutuskan untuk mengganti saluran TV saya ke saluran HBO.

Marahkan saya soal Simpadan-Ligitan ? soal Batik ? soal Angklung ? soal Tari Pendet ? soal lagu Indonesia Raya yang diganti kalimatnya ? soal perlakuan polisi Malaysia atas salah seorang tenaga kerja Indonesia di sana ?

Kemarahan saya rasanya sama dengan Permadi. Sebagai bangsa Indonesia, saya sama sekali tidak rela lagu kebangsaan saya diinjak-injak, kebudayaan saya diakui sebagai kebudayaan mereka. Sebagai bangsa Indonesia, hati saya sakit melihat bangsa saya dipukuli, ditendang, seperti sampah.

Tetapi, kalau kita melihat ke belakang dan berkaca kembali, seharusnya kita sadar dan malu bahwa bukan bangsa Malaysia yang melakukan hal itu, tetapi Bangsa Indonesia itu sendiri.

Soal kebudayaaan, pernahkah kita membuat iklan pariwisata seperti Malaysia, “Truly Malaysia” ? Pernahkah kita membuat iklan pariwisita mengenai Indonesia dengan keanekaragamannya, dari Sabang sampai Merauke ?

Beberapa waktu lalu saya menyaksikan iklan pariwisata Malaysia, dimana salah satu adegannya ditampilkanlah kebudayaan Kalimantan, lengkap dengan pakaian adatnya dan tariannya.

Saat itu saya tercenung dan menyadari bahwa kesalahan kita selama ini adalah kita membiarkan diri kita “dicuri”, kita terlena dengan Pulau Dewata, kita lupa untuk melihat keunikan bangsa kita sendiri. Kita sibuk dengan permasalahan kita sendiri, sibuk saling cakar antar kita, tanpa kita sadari bahwa demam “Indonesia Wannabe” (meminjam istilah senior saya, Putu Laxman Pendit) sudah menggeliat.

Soal Simpadan dan Ligitan ? Pernahkah kita benar-benar mengetahui berapa banyak pulau terluar kita, yang menjadi batas antara negara kita dengan negara lain ? Bagaimana budayanya, keunikannya, keistimewaannya, masyarakatnya ?

Ketika buku Tepian Tanah Air, 92 Pulau Terluar Indonesia bagian Barat diperkenalkan oleh Ipong Witono, saat itulah saya tersadar, betapa miskinnya pengetahuan saya tentang tanah air tercinta. Tidak heran Simpadan dan Ligitan terlepas begitu saja, bagi sebagian besar orang, mungkin pulau itu hanya terdengar gaungnya setelah diakui penggemar “Indonesia Wannabe”.

Terakhir, soal Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, rasanya tidak ada lagi penghinaan yang lebih nista dari penghinaan terhadap lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Tetapi sebagai Bangsa Indonesia, pernahkah kita benar-benar menghormati Lagu Kebangsaan kita sendiri ? ketika Lagu tersebut dikumandangkan di “rumah kita sendiri” ? Jawabannya tidak.

Kenapa tidak ? Mungkin ada baiknya kita berkaca, bagaimana sikap kita ketika menyanyikan lagu tersebut dan jawablah pertanyaan itu kepada diri kita sendiri.

Bandingkanlah sikap bangsa Indonesia ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan bangsa Amerika (walaupun itu hanya melalui televisi dan film).

Jadi, ketika Permadi menyatakan pemerintah kita kurang bersikap, pemerintah kita lambat untuk bertindak, saat itu ingin sekali saya kembali bertanya kepada Beliau. Sebagai orang yang mempunyai akses bertemu dengan para pemimpin, dengan para pejabat, apakah yang sudah dilakukan beliau agar permasalahan “Indonesia Wannabe” ini selesai ?

Saya setuju bahwa pemerintah kita kurang bertindak tegas, jawabannya seperti jawaban anak yang baru lulus kuliah, tetapi lalu apa yang harus kita lakukan ? Hanya berdiam diri saja ?

Janganlah membandingkan dengan zaman Soekarno, setiap zaman mempunyai warnanya sendiri, zaman Soekarno berbeda dengan kondisi saat ini, kondisi dimana belahan dunia jauhnya hanya selemparan batu.

Ganyang Malaysia seperti zaman Soekarno bukanlah jalan keluar yang tepat, karena saat ini nama kita sendiri pun sudah tercemar akibat ulah para teroris Indonesia.

Inilah saatnya kita mengenalkan Indonesia dengan kacamata yang berbeda, Indonesia bukan terdiri dari Pulau Bali saja.

Bagaimana kalau kita bahu-membahu membuat iklan Pariwisata yang menarik, bukannya memperkaya para anggota dewan, atau membuat seragam yang jumlah dananya milyaran.

Bagaimana kalau kita pun bertindak tegas terhadap semua pelanggaran yang dilakukan oleh bangsa asing terhadap kita. Bukan hanya meminta pemerintah mereka meminta maaf, seperti soal Tari Pendet itu, dimana iklan tersebut dilakukan oleh pihak swasta.

Pelecehan lagu Kebangsaan Indonesia Raya harusnya ditindak tegas, bukan hanya berkomentar, “IP nya sudah diketahui dan diblokir, tetapi kalau muncul lagi di tempat lain harus bagaimana. ?” .

Apakah kita harus menyerah ?

Bagi saya, ada cara yang lebih menarik dan terpelajar untuk Mengganyang Malaysia, karena saat ini pemerintah mereka pun sadar bahwa Mengganyang Indonesia ala Indonesia Wannabe membuat diri mereka kurang popular.

Jangan sampai akhirnya Indonesia Wannabe kalah pamor dengan Malaysia Wannabe.

Senin, 24 Agustus 2009

Nilai-Nilai Kehidupan


Beberapa waktu lalu, putri sulung saya bercerita tentang beberapa teman sekelasnya yang memiliki jiwa entrepreneur, walaupun diri mereka berkelimpahan. Ada yang berjualan gelang anyaman benang, ada yang berjualan nasi goreng, bahkan ada yang berjualan pudding.

Saya masih ingat komentarnya, “Gila Nda, si X itu tajir banget lho, tapi aku suka sama dia, soalnya dia nggak sombong, terus cuek aja lagi jualan gelangnya.” Atau “wah temenku ada yang jualan puding, enak lho Nda pudingnya.” Atau “Hihihi, tadi si A bawa nasi goreng, enak banget, dia jualin ke kita-kita, terang aja enak, dia punya restoran sea food sih.”

Mendengar celotehnya tentang temannya yang kebetulan Ibu dari temannya duduk sebagai pengurus di forum yang sama dengan saya, saya pun terkagum-kagum.

Bayangkan, uang itu bukan masalah bagi anak itu. Berlibur ke luar negeri sama saja dengan kita bepergian ke Bogor. Gadget ? Jangan ditanya, blackberry terbaru pun dia punya. Tetapi bahwa dia dengan senang hati membuat gelang dan menjualnya tanpa rasa malu adalah sesuatu yang patut mendapat acungan jempol.

Dulu, entah sekarang, sering kita mendengar komentar miring tentang etnis tertentu, tentang betapa pintarnya mereka melihat peluang atau betapa licinnya mereka berdagang. Komentar miring yang membuat kelas “pedagang” kalah pamor dengan mereka yang berada di kelas “karyawan ataupun pejabat pemerintah”. Komentar miring yang membuat para komentator selalu berlindung di balik kata “keberuntungan” jika faktor ekonomi tidak setingkat kelas “pedagang”.

Padahal, jika kita berkaca pada “sejarah keberhasilan” mereka – seperti yang diceritakan anak saya – faktor “keberuntungan” itu karena mereka telah berkali-kali gagal, berkali-kali bangkit, sebelum akhirnya menemukan harta karun. Dan bukan itu saja, mereka tidak memandang tinggi diri mereka – tingkatan ekonomi bukanlah sebagai suatu barometer bahwa mereka tidak perlu turun ke bawah untuk belajar.

Dan betapa bangganya saya ketika anak sulung saya kemudian mengutarakan niatnya untuk berjualan di sekolah. “Aku mau jualan macaroni schotel, tapi ingat ya Bunda, jangan mahal-mahal harganya.”

Betapa saya yang belum pernah menghitung untuk memberikan harga jual, kemudian belajar memberikan harga jual. Betapa anak saya yang tidak pernah memiliki pengalaman berjualan, kemudian mulai belajar melihat peluang dan mengerti bagaimana caranya berjualan yang baik, berjualan yang tidak merugikan usaha teman.

Saya tidak akan pernah lupa teleponnya di suatu siang, ketika saya masih berkutat dengan pekerjaan kantor, “Bunda ...macaroni schotelku laku semua,”ujarnya dengan gembira.

Dan di suatu sore, “Bunda,..anak-anak mulai bosan, macaroni schotelku ada yang tidak laku,”ujarnya dengan lesu

Pada saat itulah saya membenarkan renungan saya, bahwa di saat keberhasilan dan kegagalan datang, pada saat itulah anak saya belajar hakekat kehidupan berdagang. Bahwa keserakahan akan membawa pada kerugian, bahwa kesabaran akan membawa hasil selama kita dengan tekun berusaha bangkit lagi, bahwa hati nurani harus selalu digunakan bukan sesuatu yang harus ditinggalkan di suatu tempat, bahwa kepercayaan dan kejujuran adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi

Saat itu saya bersyukur bahwa anak sulung saya mendapatkan nilai-nilai kehidupan melalui kehidupan dunia nyata.

Sabtu, 16 Mei 2009

Zeppelin vs Jeppelin


Pada suatu sore, ketika kami sedang bertukar-cerita, tiba-tiba anak tercinta saya mengeluhkan rasa kesalnya karena guru IPA-nya menyalahkan jawaban kuis yang diberikan oleh gurunya.

Menurut si kecil, kesalahan bukan terletak pada dirinya melainkan pada sang guru yang tidak dapat melafalkan huruf Z dengan baik, sehingga se-isi kelas salah mencatat nama penemu balon gas.

Saat itu si guru sedang mendiktekan catatan IPA mengenai para penemu, salah satunya penemu balon gas. Ketika itu, menurut si kecil, sang Guru melafalkan nama si penemu balon udara dan ditangkap oleh semua, sebagai Jeppelin dan sebagai anak yang patuh pada gurunya, dengan tenangnya mereka mencatat sesuai lafal, “JEPPELIN”.

Hingga tibalah saat kuis saat sang guru hendak mengecek “pendengaran” dan “perhatian” yang diberikan murid-murid kecilnya. Sang guru dengan lantangnya bertanya, siapa penemu balon udara, dan sesuai pendengaran dan perhatian para murid, mereka menulis “Jeppelin”.

Tentu saja bukan kuis namanya kalau tidak diperiksa saat itu juga dan tentu saja pemeriksaan sampailah kepada soal siapa penemu balon udara. Para murid kecil itu tidak menyangka ketika sang guru menyalahkan mereka. Menurut si Pak Guru IPA itu, jawaban yang benar adalah “Zepellin” bukan “Jepelin”.

Kontan si murid-murid kecil itu protes, mereka bersikeras Pak Guru tidak bisa sewenang-wenang menyalahkan mereka. Kata mereka, “Pak Guru yang bener dong kalau ngomong. Zeppelin dengan Jeppelin kan beda. Z itu lafalnya beda dengan “J” a.k.a. “DJ”.

Si kecil pun protes ke saya, katanya “Pak guru itu koq aneh ya, memangnya jaman dulu orang-orang itu tidak bisa bilang “Z” ya ?

Saya pun tertawa miris karena si kecil lupa, paman dan bibinya” dari pihak ayahnya sampai sekarang pun kalau memanggil anaknya “Redja” walupun tertulis “Reza”. Sampai si Reza sudah kuliah, semua memanggil si Reza dengan “Eja”.

Lebih mirisnya lagi karena saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anak saya.

Untung suami saya bisa menjelaskan bahwa kemungkinan besar karena dalam bahasa daerah, lafal “Z” itu nyaris tidak pernah disebutkan dan walaupun saat ini sudah zaman modern, tetap saja bahasa daerah tidak pernah kehilangan esensinya. Akibatnya, generasi saya pun tidak bisa menghilangkan kebiasaan mereka mengganti “Z” menjadi “J” dan parahnya lagi itu diturunkan ke generasi anak saya.

Saya jadi teringat ketika zaman kuliah Bahasa Perancis dulu, bagaimana si dosen setengah hidup harus mengajarkan mahasiswanya yang berasal dari suku X untuk melafalkan “Zye” untuk “Je” atau saya dalam bahasa Perancis. Lucunya, bahkan ketika saya mengikuti kursus Bahasa Perancis pun beberapa tahun kemudian, salah seorang peserta kursus dari suku X itu tetap masih mengalami masalah yang sama.

Hingga kini saya masih terngiang-ngiang suara si dosen dan guru kursus Bahasa Perancis saya yang dengan gigihnya mengajarkan teman saya untuk mengucapkan “Zye” .

Akhirnya saya pun menutup kuliah suami saya dengan menyampaikan wejangan saya, “Orang lain boleh tidak dapat menyampaikan lafalnya dengan baik, tetapi karena kamu tahu, kamu tidak boleh ikut-ikutan dengan mereka yang tidak dapat melafalkannya dengan baik.”