Jumat, 24 Februari 2017

Ketika SURGA tidak ditentukan AGAMA



Pernyataan yang tidak jauh berbeda, pernah dilontarkan oleh Alm. Pater Drost SJ, kepala sekolah SMA Kanisius, pemerhati pendidikan dan kebetulan dosen agama katolik saya.

Saat itu, saat masa kuliah, seperti biasa, ketika istirahat tiba, saya kerap bertemu Alm. Pater Drost SJ untuk sekedar mengobrol ngalor-ngidul atau pun berdiskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan agama. Entah mengapa hari itu saya memberanikan diri bertanya kepada beliau tentang persyaratan masuk Surga.

Saya masih ingat dengan jelas pertanyaan saya saat itu,  “Pater, siapakah yang akan masuk surga, mereka yang tidak beragama tetapi menjalankan hukum utama Kristiani yaitu Cinta Kasih, dibandingkan mereka yang beragama Kristen/Katolik, rajin ke gereja, mengikuti semua peraturan gereja, tapi tidak mengamalkan Cinta Kasih.”

Jawaban beliau membuat saya tercengang, “Mereka yang tidak beragama akan masuk surga lebih dulu daripada mereka yang beragama Katolik tapi tidak mengamalkan Cinta Kasih.”

Lanjutnya lagi, “Untuk apa kamu beragama, tapi kamu tidak memperlakukan sesamamu seperti halnya kamu ingin diperlakukan mereka? Untuk apa kamu beragama, ke gereja setiap kali, tapi kamu mengambil hak mereka? Untuk apa kamu beragama, ke gereja setiap kali, mengaku dosa, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kamu korupsi, membeda-bedakan orang berdasarkan tingkat kekayaan mereka, menista kaum yang termarjinalkan?”

Saya mencoba mendebat dengan janji-janji yang diberikan agama Katolik yang saya pelajari sejak kecil, bahwa apa pun yang terjadi di hari Kebangkitan, kita semua akan masuk surga.

Tetapi beliau tetap berpegang teguh dengan apa yang disampaikannya, ujarnya, “Ke gereja penting, mengikuti peraturan-peraturan gereja juga penting, tetapi di atas semuanya itu menjalankan hukum Cinta Kasih adalah yang terpenting. Agama adalah cara kamu untuk mengenal Tuhan dan sarana untuk berbincang dengan-Nya. Gereja adalah tempat dimana kamu dapat bersekutu dan menyatu dengan Tuhan. Tetapi persekutuan itu hanya dapat terjadi jika kamu ‘jujur’ dihadapan-Nya.”

Bagi anak kuliahan yang baru lulus SMA, diskusi kami sore itu melampaui batas pemahaman saya tentang ‘AGAMA’.  

Bagaimana tidak sejak kecil, saya diajar bahwa pada saat meninggal nanti, saya pasti masuk Surga, karena itulah yang dijanjikan Tuhan untuk umatnya. Dan tiba-tiba saja, ulama Katolik yang saya hormati dan kagumi, Pater Drost SJ, meruntuhkan semua ajaran itu, menggantinya dengan sebuah cakrawala baru, bahwa bukan AGAMA yang menjadi tiket masuk ke surga, tetapi pengejewantahan CINTA KASIH lah sesungguhnya tiket utama surga itu.

Saya seperti tersadarkan bahwa menepati aturan beribadah setiap hari Minggu, berpuasa dan berpantang selama 40 hari, berdoa setiap pagi-siang-sore, berdoa sebelum makan, bersedekah bukanlah tiket utama untuk masuk surga.  Namun mengejewantahkan Cinta Kasih lewat perbuatan dan tindak-tanduk kita terhadap sesamalah porsi terbesar jalan ke surga.

Pemahaman baru yang dibagikan Alm. Pater Drost SJ mengenai konsep orang Atheis lebih dulu masuk surga dibandingkan mereka yang beragama, membuat saya tidak lagi mengartikan perintah  untuk tidak mencuri misalnya sebagai pengertian mencuri secara lahiriah. Melainkan harus dimaknai secara luas, bagaimana kita sebagai manusia harus selalu memberikan apa yang menjadi hak orang lain. Hak disini tidak semata dalam bentuk uang, tetapi hak-hak mereka sebagai manusia, hak untuk hidup secara layak, hak untuk mendapatkan pendidikan. Bagaimana kita sebagai manusia harus mampu berkata TIDAK saat tawaran untuk berlaku curang datang.

Bagaimana bersikap Adil diterjemahkan lewat cara kita menghormati sesama kita tanpa mempedulikan keyakinan, ras, pangkat dan harta orang tersebut.  Bagaimana kita harus merangkul mereka yang terpinggirkan, bukan membuang mereka yang terpinggirkan. Bahwa kedudukan kita sama di mata Tuhan.

Dan apakah kemudian saya menganggap agama saya yang paling benar? Kali ini saya harus mendengar nasihat Ibu saya yang saya amini hingga kini, “Kamu harus fanatik terhadap agamamu tetapi bukan berarti agama lain salah, karena setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bertemu dengan Tuhannya.”

Nasihat yang membuat saya hingga kini menghormati agama dan kepercayaan apa pun yang ada di muka bumi ini. Nasihat yang membuka mata hati saya ketika menemukan ajaran dari agama lain yang tidak berbeda dengan apa yang diajarkan oleh agama saya sendiri.

Bagaimana dengan pencerahan yang diberikan Alm. Pater Drost SJ saat saya duduk di semester I? Harus saya akui pencerahan yang diberikan beliau membentuk perspektif saya tentang konsep AGAMA.

Sejak sore itu, akhirnya saya menyadari bahwa AGAMA adalah sarana untuk berhubungan dengan Tuhan – hubungan vertikal. Sedangkan pengejewantahan AGAMA bersifat horizontal – yaitu bagaimana kita sebagai manusia memperlakukan sesama kita.

Dan hingga kini, bukan hubungan vertikal yang sulit saya terapkan, melainkan hubungan horisontal. Mengejewantahkan AGAMA melalui hubungan saya dengan sesamalah yang membuat saya jatuh bangun setiap kali.


Dan benarlah adanya, tiket untuk ke surga bukanlah AGAMA tetapi bagaimana kita sebagai manusia memperlakukan sesama kita seperti halnya kita ingin diperlakukan mereka. Perbuatan baik yang sekedar dari pengertian lahiriah.

Senin, 23 Januari 2017

Indonesia Kini dari Kacamata si Minoritas


Mendengarkan pidato perpisahan mantan Presiden Obama di pangkalan militer Joint Base Andrews sesaat sebelum beliau menaiki helikopter untuk berlibur, membuat saya merenungkan negara yang saya cintai ini, Indonesia.

‘I said before and I will say again that when we started on this journey, we did so with an abiding faith in the American people and their ability, our ability, to join together and change the country in ways that would make life better for our kids and grandkids. Change didn’t happen from the top down, but it happened from the bottom up.’

Jika kita melihat kembali, jauh ke belakang, ke masa-masa dimana kakek dan nenek kita masih belia, apa yang diucapkan oleh mantan Presiden Obama sama persis dengan cita-cita yang mereka perjuangkan dengan darah dan keringat mereka.

Mereka memiliki kepercayaan dan keyakinan yang kuat bahwa bersama-sama, terlepas dari apa pun agamanya, terlepas dari apapun sukunya, mereka mampu mengubah daerah jajahan Belanda dan Jepang ini menjadi negara yang merdeka, negara yang mampu memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak – cucu – cicit mereka dibandingkan kehidupan mereka sendiri.

Dan sejarah pun membuktikan bahwa perubahan itu hanya dapat terwujud bukan dari pucuknya saja tetapi dari bawah hingga ke atas.

Tentu saja, ketika mereka bersama-sama memperjuangkan hal ini, mereka tahu bahwa komposisi perbedaan agama, bisa menghambat cita-cita mereka. Namun mereka pun sadar bahwa satu-satunya cara untuk terlepas dari belenggu penjajahan adalah dengan bersatu, melepas keegoisan demi kesejahteraan hidup anak, cucu bahkan cicit mereka.

Dan demi  kesetiaan mereka terhadap cita-cita mereka mewujudkan negara zamrud katulistiwa ini, mereka pun sepakat untuk tidak menjadikan negara ini milik segolongan agama. Mereka sadar, agama – jika dipergunakan sebagai alat kekuasaan – akan beralih menjadi senjata makan tuan bagi cita-cita mulia mereka.

Mulia bukan cita-cita mereka?

Besar dengan cerita-cerita heroik kakek dan paman saya dalam memperjuangkan negara ini yang sama sekali jauh dari keegoisan agama, membuat saya melihat perbedaan agama adalah hal biasa. Bahkan menjadi cerita kebanggaan saya setiap kali saya bertemu dengan rekan dari belahan lain bumi Indonesia; kebanggaan yang akhir-akhir ini menguap, berganti dengan kekecewaan.

Kecewa? Ya, saya kecewa, karena Indonesia dulu yang saya kenal dan saya alami ketika kecil dan remaja, berbeda 180 derajat dengan wajah Indonesia saat ini.

Saya masih ingat dengan jelas, tetangga saya, orang Indonesia keturunan Arab, saya memanggilnya Abah dan Umi, mengikuti anak-anak mereka memanggil orangtuanya. Saat Ramadhan tiba, saya dengan leluasa bermain di rumah mereka, menunggu si Umi memasak penganan dan hidangan untuk berbuka. Bahkan jika penganan mereka sudah matang, dengan senang hati si Umi memberikan penganan itu untuk saya nikmati. Jika lebaran tiba, rasanya seperti di langit ketujuh, makanan kiriman dari Abah dan Umi berlimpah-ruah.

Saya masih ingat, ketika nampan berisi piring-piring kiriman si Abah dan Umi yang ditutup serbet bermotif tiba di rumah, maka nenek saya akan sibuk mencuci piring-piring tersebut, mengisinya dengan masakan untuk dikirim kembali.

Sebaliknya ketika natal tiba, kami pun mengirimkan kue natal kami kepada Abah dan Umi, dan ritual yang sama pun berulang, nampan kami kembali dengan masakan balasan.

Bukan hanya bertukar makanan, kami pun bertukar selamat, saling bertemu di pintu rumah masing-masing.

Beranjak remaja, kali ini tetangga saya sudah berganti, bukan lagi Abah dan Umi, tetapi orang Betawi dan orang Jawa, dengan ritual yang sama berulang kembali. Bedanya kali ini masakannya tentu saja sesuai dengan daerah asal tetangga kami, semur ala betawi, ketan tape uli, opor dan ketupat.

Bertukar selamat? Tentu saja, ritual ini masih sama. Bukankah ini ciri khas orang Indonesia, bertukar-makanan, bertukar selamat. Indah bukan?

Ketika saya beranjak dewasa dan berkeluarga, tetangga saya pun berganti, dan saya pun menjadi satu-satunya orang yang beragama Katolik di antara mereka yang beragama Islam.

Ritual masa kecil yang terpatri dalam ingatan saya, pelan-pelan punah. Dari semula setiap hari natal saya mendapat ucapan selamat natal, pelan-pelan mereka menghilang. Hanya tersisa satu keluarga saja yang masih setia menyampaikan ucapan selamat natal. Perubahan yang semula terheran-heran mendadak menjadi maklum dan masa bodoh.

Bagaimana dengan Ramadhan? Sama saja. Dari bulan yang sangat indah di ingatan masa kecil saya, menjadi bulan yang ditingkahi dengan permintaan penutupan warung makan, pemakaian tirai, bahkan diwarnai dengan tindakan kekerasan aparat dan segolongan ormas. Hal yang tidak pernah saya temui di masa kecil dulu.

Kebaya mendadak menjadi pakaian yang ‘kurang’ sopan, bahkan tidak sesuai dengan kaidah agama. Kesenian tradisional, warisan turun-temurun nenek moyang kita, mendadak tidak sesuai dengan syariat agama.  Bahkan di satu daerah, kesenian tradisioanal mendadak punah. Kerudung khas wanita Indonesia mendadak berganti menjadi Hijab. Ucapan selamat ulang tahun, atau ucapan simpati jika seseorang sakit dalam Bahasa Indonesia, mendadak berganti dengan Bahasa Arab.

Pendirian rumah ibadah? Ah, inilah awal mula perbedaan ini dimulai, ketika SKB 3 menteri dikeluarkan demi langgengnya kekuasaan.

Hari Natal? Sejak kejadian pengeboman terhadap gereja, untung ada pemuda Banser NU yang dengan setia menjaga ketenangan kami beribadah, pemandangan yang sudah tidak asing lagi dan bahkan sangat dinanti.

Perbedaan agama semakin lama semakin meruncing, justru ketika Indonesia sudah melesat jauh dibandingkan ketika kakek dan paman saya berjuang untuk mendirikan negara ini. 
Generasi yang lahir kemudian, yang mengenyam pendidikan tinggi, mendadak lupa tentang asal-usul dan budaya mereka. Bagi mereka Indonesia hanyalah sekedar nama, bukan negara yang harus dijaga warisan dan budayanya. Mereka bahkan menafikan budaya Indonesia yang dijadikan alat siar agama yang mereka anut.

Dan yang lebih menyedihkan, melihat kenyataan bahwa generasi saya pun, yang seharusnya menjadi pengayom mereka yang lahir kemudian, mendadak terserang amnesia. Bahkan mereka tidak mampu memilah siapa yang harus didengar dan dipercayai. Atau benarkah pernyataan yang disampaikan.

Berdiri di sisi minoritas – dari sisi agama – mendadak saya rindu Indonesia yang saya kenal ketika kecil dulu. Indonesia dengan pakaian tradisionalnya yang mampu mengeluarkan keelokan dan keanggunan perempuan Indonesia. Indonesia dengan budayanya yang dikagumi seantero dunia. Indonesia yang mengedepankan rasa hormat dan menghargai terhadap mereka yang berbeda keyakinan.

Melihat Indonesia dari kacamata minoritas, saya jadi teringat pembicaraan tadi siang, ketika kami yang saling berbeda keyakinan berdiskusi tentang negara tercinta ini.

‘Kebayang gak, bagaimana Indonesia lima tahun dari sekarang,’ujar salah seorang teman.

‘Lihat saja bagaimana mereka yang berpendidikan tinggi mendadak kehilangan akal sehatnya, mengidolakan budaya Arab, tanpa sadar bahwa yang diidolakan itu bahkan sekarang berganti kalender, dari Hijriah menjadi Gregorian.’ujar yang satunya lagi

Saya pun hanya sanggup memandang keluar sambil memandang jalan Sudirman yang lengang, sementara pikiran saya melayang jauh, ke negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Negeri yang entah kapan pernah sangat menghargai dan bangga akan budayanya sendiri.


Entah kenapa, mendadak saya jadi teringat pidato perpisahan mantan Presiden Obama sesaat sebelum lepas landas dan wajah mendiang kakek dan paman saya. Pasti di atas sana bersama para pejuang lainnya, mereka menangisi cucu mereka yang lupa akan pengorbanan dan perjuangan mereka mendirikan negara ini, cucu mereka yang amnesia bahwa agama bukanlah alat untuk melanggengkan kekuasaan, bahwa mayoritas itu bukan berarti meniadakan hak minoritas, cucu mereka yang lupa bahwa INDONESIA ITU TIDAK SERAGAM MELAINKAN BERAGAM BUDAYA, BERAGAM SUKU DAN BERAGAM AGAMA.