Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2017

Indonesia Kini dari Kacamata si Minoritas


Mendengarkan pidato perpisahan mantan Presiden Obama di pangkalan militer Joint Base Andrews sesaat sebelum beliau menaiki helikopter untuk berlibur, membuat saya merenungkan negara yang saya cintai ini, Indonesia.

‘I said before and I will say again that when we started on this journey, we did so with an abiding faith in the American people and their ability, our ability, to join together and change the country in ways that would make life better for our kids and grandkids. Change didn’t happen from the top down, but it happened from the bottom up.’ …

Jika kita melihat kembali, jauh ke belakang, ke masa-masa dimana kakek dan nenek kita masih belia, apa yang diucapkan oleh mantan Presiden Obama sama persis dengan cita-cita yang mereka perjuangkan dengan darah dan keringat mereka.

Mereka memiliki kepercayaan dan keyakinan yang kuat bahwa bersama-sama, terlepas dari apa pun agamanya, terlepas dari apapun sukunya, mereka mampu mengubah daerah jajahan Belanda dan Jepang ini menjadi negara yang merdeka, negara yang mampu memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak – cucu – cicit mereka dibandingkan kehidupan mereka sendiri.

Dan sejarah pun membuktikan bahwa perubahan itu hanya dapat terwujud bukan dari pucuknya saja tetapi dari bawah hingga ke atas.

Tentu saja, ketika mereka bersama-sama memperjuangkan hal ini, mereka tahu bahwa komposisi perbedaan agama, bisa menghambat cita-cita mereka. Namun mereka pun sadar bahwa satu-satunya cara untuk terlepas dari belenggu penjajahan adalah dengan bersatu, melepas keegoisan demi kesejahteraan hidup anak, cucu bahkan cicit mereka.

Dan demi  kesetiaan mereka terhadap cita-cita mereka mewujudkan negara zamrud katulistiwa ini, mereka pun sepakat untuk tidak menjadikan negara ini milik segolongan agama. Mereka sadar, agama – jika dipergunakan sebagai alat kekuasaan – akan beralih menjadi senjata makan tuan bagi cita-cita mulia mereka.

Mulia bukan cita-cita mereka?

Besar dengan cerita-cerita heroik kakek dan paman saya dalam memperjuangkan negara ini yang sama sekali jauh dari keegoisan agama, membuat saya melihat perbedaan agama adalah hal biasa. Bahkan menjadi cerita kebanggaan saya setiap kali saya bertemu dengan rekan dari belahan lain bumi Indonesia; kebanggaan yang akhir-akhir ini menguap, berganti dengan kekecewaan.

Kecewa? Ya, saya kecewa, karena Indonesia dulu yang saya kenal dan saya alami ketika kecil dan remaja, berbeda 180 derajat dengan wajah Indonesia saat ini.

Saya masih ingat dengan jelas, tetangga saya, orang Indonesia keturunan Arab, saya memanggilnya Abah dan Umi, mengikuti anak-anak mereka memanggil orangtuanya. Saat Ramadhan tiba, saya dengan leluasa bermain di rumah mereka, menunggu si Umi memasak penganan dan hidangan untuk berbuka. Bahkan jika penganan mereka sudah matang, dengan senang hati si Umi memberikan penganan itu untuk saya nikmati. Jika lebaran tiba, rasanya seperti di langit ketujuh, makanan kiriman dari Abah dan Umi berlimpah-ruah.

Saya masih ingat, ketika nampan berisi piring-piring kiriman si Abah dan Umi yang ditutup serbet bermotif tiba di rumah, maka nenek saya akan sibuk mencuci piring-piring tersebut, mengisinya dengan masakan untuk dikirim kembali.

Sebaliknya ketika natal tiba, kami pun mengirimkan kue natal kami kepada Abah dan Umi, dan ritual yang sama pun berulang, nampan kami kembali dengan masakan balasan.

Bukan hanya bertukar makanan, kami pun bertukar selamat, saling bertemu di pintu rumah masing-masing.

Beranjak remaja, kali ini tetangga saya sudah berganti, bukan lagi Abah dan Umi, tetapi orang Betawi dan orang Jawa, dengan ritual yang sama berulang kembali. Bedanya kali ini masakannya tentu saja sesuai dengan daerah asal tetangga kami, semur ala betawi, ketan tape uli, opor dan ketupat.

Bertukar selamat? Tentu saja, ritual ini masih sama. Bukankah ini ciri khas orang Indonesia, bertukar-makanan, bertukar selamat. Indah bukan?

Ketika saya beranjak dewasa dan berkeluarga, tetangga saya pun berganti, dan saya pun menjadi satu-satunya orang yang beragama Katolik di antara mereka yang beragama Islam.

Ritual masa kecil yang terpatri dalam ingatan saya, pelan-pelan punah. Dari semula setiap hari natal saya mendapat ucapan selamat natal, pelan-pelan mereka menghilang. Hanya tersisa satu keluarga saja yang masih setia menyampaikan ucapan selamat natal. Perubahan yang semula terheran-heran mendadak menjadi maklum dan masa bodoh.

Bagaimana dengan Ramadhan? Sama saja. Dari bulan yang sangat indah di ingatan masa kecil saya, menjadi bulan yang ditingkahi dengan permintaan penutupan warung makan, pemakaian tirai, bahkan diwarnai dengan tindakan kekerasan aparat dan segolongan ormas. Hal yang tidak pernah saya temui di masa kecil dulu.

Kebaya mendadak menjadi pakaian yang ‘kurang’ sopan, bahkan tidak sesuai dengan kaidah agama. Kesenian tradisional, warisan turun-temurun nenek moyang kita, mendadak tidak sesuai dengan syariat agama.  Bahkan di satu daerah, kesenian tradisioanal mendadak punah. Kerudung khas wanita Indonesia mendadak berganti menjadi Hijab. Ucapan selamat ulang tahun, atau ucapan simpati jika seseorang sakit dalam Bahasa Indonesia, mendadak berganti dengan Bahasa Arab.

Pendirian rumah ibadah? Ah, inilah awal mula perbedaan ini dimulai, ketika SKB 3 menteri dikeluarkan demi langgengnya kekuasaan.

Hari Natal? Sejak kejadian pengeboman terhadap gereja, untung ada pemuda Banser NU yang dengan setia menjaga ketenangan kami beribadah, pemandangan yang sudah tidak asing lagi dan bahkan sangat dinanti.

Perbedaan agama semakin lama semakin meruncing, justru ketika Indonesia sudah melesat jauh dibandingkan ketika kakek dan paman saya berjuang untuk mendirikan negara ini. 
Generasi yang lahir kemudian, yang mengenyam pendidikan tinggi, mendadak lupa tentang asal-usul dan budaya mereka. Bagi mereka Indonesia hanyalah sekedar nama, bukan negara yang harus dijaga warisan dan budayanya. Mereka bahkan menafikan budaya Indonesia yang dijadikan alat siar agama yang mereka anut.

Dan yang lebih menyedihkan, melihat kenyataan bahwa generasi saya pun, yang seharusnya menjadi pengayom mereka yang lahir kemudian, mendadak terserang amnesia. Bahkan mereka tidak mampu memilah siapa yang harus didengar dan dipercayai. Atau benarkah pernyataan yang disampaikan.

Berdiri di sisi minoritas – dari sisi agama – mendadak saya rindu Indonesia yang saya kenal ketika kecil dulu. Indonesia dengan pakaian tradisionalnya yang mampu mengeluarkan keelokan dan keanggunan perempuan Indonesia. Indonesia dengan budayanya yang dikagumi seantero dunia. Indonesia yang mengedepankan rasa hormat dan menghargai terhadap mereka yang berbeda keyakinan.

Melihat Indonesia dari kacamata minoritas, saya jadi teringat pembicaraan tadi siang, ketika kami yang saling berbeda keyakinan berdiskusi tentang negara tercinta ini.

‘Kebayang gak, bagaimana Indonesia lima tahun dari sekarang,’ujar salah seorang teman.

‘Lihat saja bagaimana mereka yang berpendidikan tinggi mendadak kehilangan akal sehatnya, mengidolakan budaya Arab, tanpa sadar bahwa yang diidolakan itu bahkan sekarang berganti kalender, dari Hijriah menjadi Gregorian.’ujar yang satunya lagi

Saya pun hanya sanggup memandang keluar sambil memandang jalan Sudirman yang lengang, sementara pikiran saya melayang jauh, ke negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Negeri yang entah kapan pernah sangat menghargai dan bangga akan budayanya sendiri.


Entah kenapa, mendadak saya jadi teringat pidato perpisahan mantan Presiden Obama sesaat sebelum lepas landas dan wajah mendiang kakek dan paman saya. Pasti di atas sana bersama para pejuang lainnya, mereka menangisi cucu mereka yang lupa akan pengorbanan dan perjuangan mereka mendirikan negara ini, cucu mereka yang amnesia bahwa agama bukanlah alat untuk melanggengkan kekuasaan, bahwa mayoritas itu bukan berarti meniadakan hak minoritas, cucu mereka yang lupa bahwa INDONESIA ITU TIDAK SERAGAM MELAINKAN BERAGAM BUDAYA, BERAGAM SUKU DAN BERAGAM AGAMA.

Jumat, 03 Januari 2014

Tahun Baru = Resolusi Baru ?

Seperti biasa saat memasuki awal tahun baru, maka bermunculanlah resolusi-resolusi yang kita percayai akan menjadi awal langkah keberhasilan kita menjadi manusia baru membuang manusia lama kita.

Ada banyak cara yang disampaikan mereka – si pembuat resolusi – agar mereka dikuatkan dan diteguhkan sehingga mampu menuliskan saat tahun yang baru tersebut berakhir, entah lewat blog atau twitter, atau facebook. Salah satu rekan di kantor, bahkan menuliskan resolusinya di buku agenda kantornya, dengan alasan lebih mudah diingat dan dijalankan karena dibuka setiap hari.

Saya dan ternyata ada banyak juga teman-teman saya juga yang ternyata tidak memiliki resolusi apa pun untuk tahun yang baru ini.

Saya tidak tahu alasan teman-teman yang tidak memiliki resolusi apa pun, tapi bagi saya alasannya sederhana saja, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, kita tetap harus berniat mengalahkan hal-hal yang kita anggap sebagai penghalang kita menjadi manusia baru.

Benar bahwa memasuki tahun masehi yang baru, seperti menggunakan buku baru yang halamannya masih putih bersih, tetapi apa yang kita tuliskan sebenarnya sama, pelajaran yang kita catat pun sama, bahkan peristiwanya pun nyaris sama untuk tidak dikatakan sama. Yang berbeda hanyalah cara kita menyikapinya, rasa aka emosi yang menyertai peristiwa itu.

Dulu – bahkan tahun lalu – saya masih memiliki segudang resolusi, di antaranya dengan mencantumkan jumlah buku yang hendak saya baca di tahun 2013, jumlah buku yang berkurang dibandingkan tahun 2012. Tapi rupanya resolusi yang sudah saya perbaharui itu pun kandas di tiga bulan pertama saat tahun yang baru tersebut mulai menggulirkan bulan-bulannya.

Belajar dari kegagalan demi kegagalan yang saya alami dengan resolusi-resolusi tahun baru tersebut, dan setelah mendengarkan khotbah Romo menjelang tahun yang lama berakhir, saya pun menyadari bahwa kita tidak perlu menunggu tahun yang baru untuk membuat target baru, untuk menjadikan diri kita manusia yang lebih baik lagi, karena setiap hari adalah hari baru.

Kita tidak perlu menunggu 1 tahun untuk melihat kembali buku catatan kita, dan kemudian bersepakat dengan diri sendiri untuk membuat buku catatan baru kita penuh dengan tinta dan gambar yang berwarna-warni.

Kita bisa memulainya setiap saat, seperti saat kita bersekolah dulu, ketika kita merasa buku kita sudah tua, usang, kemudian kita membuangnya dan menggantinya dengan buku yang baru, dengan kertas yang indah, serta mengisinya dengan penuh kehati-hatian agar buku tersebut tidak bernasib seperti buku tua dan usang itu.

Kapan saat yang tepat, itu kembali lagi kepada diri kita sendiri, tergantung kepada disiplin yang kita terapkan pada diri kita sendiri, disiplin untuk berhenti sejenak, merenung, dan melihat buku catatan kita.

……. Selamat tahun baru …….

Jumat, 20 November 2009

Hidup ini Pilihan ...


Klise ? Mungkin, tetapi ketika kalimat itu dipergunakan di saat yang tepat, maka akan terasa kebenaran maknanya.

Coba kita hitung berapa kali pilihan yang kita ambil dalam jangka waktu 1x24 jam ? Dari sejak Tuhan mengizinkan kita membuka mata hingga saat Tuhan membiarkan kita tidur ?

Rasanya tak terhitung, dari mulai memutuskan bangun, mandi, berangkat kantor, kerja atau main, marah atau diam, makan siang di luar atau di dalam, pulang cepat atau sesuai aturan, makan malam atau tidak, tidur cepat atau tidak, menonton siaran stasiun A atau B, nyaris tidak ada yang tidak harus dimulai dengan pilihan.

Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa ketika kita memilih, ketika kita memutuskan, kita juga memikirkan dampaknya terhadap relasi kita dengan rekan sepermainan, rekan sekerja, atau pun keluarga kita ?

Jawabannya bisa ya, bisa tidak.

Beberapa waktu lalu, ketika terjadi perubahan kepemimpinan di tempat saya bekerja, salah seorang rekan saya dengan gencarnya melakukan gerakan ’menjilat atasan’. Saya tidak tahu apakah dia sadar atau tidak, tetapi tindakannya itu bisa dilihat dengan mata telanjang. Entah memang Tuhan yang sedang berpihak kepadanya, tetapi setiap kali dia melakukan gerakan ”menjilat atasan” selalu saja berhasil.

Bahkan gerakan itu tidak berhenti sampai disitu saja, dia pun dengan tenangnya menyatakan berhak atas salah satu bagian pekerjaan yang sebenarnya bukan hak miliknya.

Gerakannya yang menghebohkan itu tentu saja mengundang angin segar untuk berdiskusi, diskusi yang berujung pada sebuah kesimpulan bahwa jika kami ingin berhasil, kami harus bisa seperti dia.

Saat diskusi mencapai kata akhir, saya hanya diam dan tersenyum.

Bukan karena saya setuju atau tidak setuju, tetapi lebih semata karena saya tidak memiliki keahlian penjilat. Namun setelah saya renungkan lebih dalam lagi, rasanya bukan karena saya tidak memiliki keahilan itu, jawaban yang lebih tepat adalah karena saya memilih untuk tetap menjadi diri saya sendiri. Memilih untuk hidup tenang, tidak harus berpikir gerakan apa yang harus yang harus saya ambil jika terjadi perubahan mendadak atau berusaha menutupi ketidakmampuan saya mencapai hasil yang ditargetkan.

Dan salah seorang rekan saya yang menahan kekesalan hatinya akibat tingkah laku sang ahli gerakan penjilat itu pun tiba-tiba berkata, ”Setelah saya pikir-pikir, untuk apa saya sakit hati, malah akan merugikan kesehatan saya.” dan sambil tersenyum ia melanjutkan, ”Saya sudah memilih, saya tidak akan sakit hati lagi. Minimal dengan pilihan ini saya bisa hidup tenang, tidak menyakiti hati orang lain.”

”Bukannya hidup itu adalah pilihan” ujarnya lagi.

Saya pun mengiyakan kalimat klise yang mendadak kehilangan rasa kadaluwarsanya, kalimat yang meninggalkan seribu makna di luar kekliseannya.

Sepanjang sisa hari itu, dan keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, maknanya meninggalkan seribu satu cerita, tentang hari yang dimulai dan diakhiri dengan pilihan, tentang dampak yang ditimbulkan dari pilihan-pilihan yang kita buat dalam hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan atau tahun.

Saya pun mencoba menghitung, mencoba menginventarisasi berapa banyak jiwa yang menderita, yang sakit hati, yang menangis, yang mengutuk, yang bergembira, yang berterima kasih, yang tertawa, yang mendoakan, akibat pilihan-pilihan yang saya buat dalam hidup ini.

Namun, hingga tulisan ini dibuat, saya tidak bisa mencatatnya.

Dan saya pun berkesimpulan, hanya Tuhan yang tahu karena Tuhanlah yang memberikan kita Hidup dengan Pilihan.



.... Renungan untuk sebuah cerita yang tidak pernah selesai ....

Sabtu, 21 Februari 2009

Pintu Kebahagiaan - Gede Prama



Pintu ketiga untuk menuju keindahan dan kebahagiaan berawal dari :
Semakin gelap hidup Anda,
Semakin terang cahaya Anda di dalam.
Perhatikanlah bintang di malam hari, tampak bercahaya, jika langitnya gelap.
Sedangkan lilin di sebuah ruangan akan bercahaya bagus, jika ruangannya gelap.
Artinya, semakin Anda berhadapan dengan masalah dan cobaan dalam hidup, semakin bercahaya Anda dari dalam.
.. Gede Prama ..


Menurut Gede Prama ada 5 pintu untuk menuju keindahan dan kebahagiaan. Pintu Pertama adalah “Berhenti Membandingkan”. Pintu kedua adalah “Memberi”, Pintu Ketiga adalah “Berawal dari Kegelapan”, Pintu Keempat adalah “Surga bukanlah Tempat melainkan adalah Rangkaian Sikap” dan Pintu Kelima adalah “Tahu Diri Kita”.

Dari kelima Pintu untuk menuju keindahan dan kebahagiaan, pintu ketigalah yang membuat saya terhenyak dan merenungi makna Berawal dari kegelapan semakin bercahayalah kita.


Benarkah saya akan menjadi lebih bercahaya ? Bukannya kulit wajah kita pada saat didera penderitaan menjadi kusam, sorot mata pun tidak memiliki jiwa ?

Pintu Ketiga bagi saya adalah Keikhlasan untuk menerima yang diberikan Tuhan kepada kita, ikhlas untuk menerima hal-hal yang tidak berkenan dengan harapan kita.

Ikhlas ketika kesusahan datang sangatlah tidak mudah. Lebih mudah mengikhlaskan kebahagiaan, kesenangan daripada kesusahan. Siapa yang ingin diterpa susah terus menerus ? Rasanya tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin diterpa kesusahan, ketidakbahagiaan dalam kehidupannya.

Saya pun menghitung kesusahan-kesusahan yang saya alami, rasanya hampir semua diawali dengan pemberontakan, dengan bertanya kenapa saya diberikan kesusahan seperti ini, kenapa saya diberikan nasib seperti ini, kenapa harus saya, kenapa tidak orang lain saja. Pemberontakan yang saya tahu tidak ada gunanya karena tidak akan meringankan beban hati saya. Walaupun pemberontakan tersebut diakhiri dengan keikhlasan dan rasa Syukur bahwa saya dipilih oleh Tuhan untuk mengalami hal-hal seperti itu.

Tetapi, benarkah dengan demikian saya menjadi bercahaya ?

Jawabannya saya temukan pagi ini lewat sepucuk pesan yang dikirimkan oleh salah satu anak buah saya. Pesan yang membuat mata saya berkaca-kaca karena saya merasa tidak pernah melakukan hal yang istimewa baginya.

Ternyata apa yang disampaikan oleh Gede Prama benar-benar terbukti. Bahwa ketika kesulitan atau pun penderitaan menimpa kita, tanpa kita sadari pada saat itulah kita belajar banyak hal yang mungkin tidak kita peroleh jika kita tidak berada di titik penderitaan tersebut.
Pelajaran yang tanpa saya sadari membuat diri saya bercahaya di mata anak buah saya.

Pintu-pintu lainnya telah lama saya yakini, terlebih pintu keempat, dimana Surga bukanlah tempat melainkan suatu rangkaian kehidupan dan sikap. Neraka dan Surga bukan ketika kita meninggalkan dunia ini. Neraka dan Surga ada di sini, di bumi, ketika kita hidup menjalani kehidupan ini.

Penderitaan akan menjadi Neraka jika kita tidak menerimanya dengan Ikhlas, Penderitaan akan menjadi Surga ketika kita bisa melewati jurang tersebut dengan penuh rasa syukur.

Tidak mudah untuk menerima penderitaan dengan ikhlas, saya pun hingga saat ini masih sering berdebat dengan setan dan malaikat di dalam hati saya. Saya bahkan tidak bisa menghitung siapakah yang memenangkan perdebatan itu, apakah setan lebih banyak dari malaikat atau sebaliknya. Yang saya tahu pasti hanyalah permintaan saya ketika malam menjelang, agar diberi kebesaran hati untuk menerima dengan ikhlas setiap nafas kehidupan yang diberikan kepada saya.

Jumat, 26 Desember 2008

Indah Pada Waktunya


Rasanya akhir-akhir ini tema khotbah di gereja maupun di misa penerimaan rapor di sekolah anak tercinta, bahkan hingga saat ceramah psikologi mengenai peneguhan kepada anak agar tidak terjerumus ke dalam kehidupan sex bebas dan narkoba, mengambil tema “Indah Pada Waktunya”.

Saya bertanya-tanya, apakah ini ada hubungannya dengan kondisi ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini ? untuk mengajarkan kita agar dapat menerima ? agar lebih lapang dada ? Atau semakin “keringnya” hubungan antar manusia ?

Mungkin ya atau mungkin juga tidak.

Seringkali ketika saat “indah pada waktunya” terjadi dalam kehidupan kita, momen itu tidak dapat ditangkap dengan “kasat mata”.

Seringkali pula kita tak mampu menunggu saat “indah pada waktunya” datang dalam kehidupan kita.

“Indah Pada Waktunya” seringkali Indah bagi Tuhan tetapi tidak Indah bagi kita, manusia. Tepat pada waktu Tuhan tetapi tidak tepat bagi kita, manusia.

Sebagai manusia, seringkali peristiwa “indah pada waktunya” baru terasa Indah ketika saya berada dalam kesendirian saya, ketika saya melihat kembali kehidupan saya dalam warna hitam-putih.

Pada saat itulah, saya seringkali berandai-andai, jika Tuhan memberikan saat itu lebih cepat, mungkin saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini atau mungkin saya menjadi sombong dan merasa bahwa semua dapat terlaksana bukan tanpa bantuan Tuhan.

Berapa kalikah saat “Indah pada Waktunya” ada dalam kehidupan saya ? Saya tak mampu menghitungnya, bukan karena terlalu sedikit tapi terlalu banyak.

Tadi di televisi, ada pertanyaan, hadiah apakah yang paling indah yang pernah diterima kita ? Saya pun berusaha mengingat-ingat hadiah terindah apakah yang pernah saya terima dalam kehidupan saya ?

Ternyata saya menerima banyak sekali hadiah yang indah pada waktunya. Bukan karena saya sabar meminta, bukan karena saya sabar mencintai Tuhan. Bukan, bukan karena itu semua. Saya tidak pernah sabar ketika meminta, saya seringkali tinggi hati untuk meminta kepada Tuhan. Mencintai Tuhan ? Wah seingat saya cinta saya kepada-Nya mudah sekali berubah bentuk menjadi benci.

Jawaban yang lebih tepat, menurut saya, karena Tuhan mencintai saya. Ia memberi saya nafas kehidupan tepat pada waktunya, untuk belajar menimbang cinta dan benci, untuk belajar menimbang rasa syukur dan rasa tak berguna, untuk belajar memaafkan dan belajar mencintai, untuk belajar bersabar.

Seperti yang dikatakan lyric lagu ini :


http://www.imeem.com/charlielie/music/BfWTyRAU/delon_dan_superkids_dia_mengerti_dia_peduli_ch4r_l1eyahoo/


Sabtu, 13 September 2008

Sudah Pernah Muda


Beberapa bulan yang lalu, ditengah-tengah sibuknya saya mencari cara agar bisa bekerja paruh waktu, saya bertemu dengan rekan saya jaman status kami berdua masih berstatus “single”. Pada jaman itu, walaupun masih single, dia sudah menjadi atasan saya.

Ketika kami bertemu beberapa bulan yang lalu, dia sudah menduduki posisi puncak di salah satu bank asing.

Seperti biasa, kami saling bertukar-cerita, bertukar impian yang belum terwujud dan apalagi selain rasa frustasi kami terhadap beberapa hal. Salah satunya tentang perbedaan generasi, tentang anak-anak jaman sekarang. Maklum, anak buah kami berdua umurnya terpaut antara 15 – 20 tahun dengan usia kami sekarang.

Ada beberapa hal yang membuat kami terheran-heran dengan daya juang mereka, dengan cara mereka mengerjakan pekerjaan, tanggung-jawab mereka, dan cara pandang mereka ketika memecahkan suatu permasalahan.

Ketika rekan saya itu mengajukan rasa frustasinya, saya yang tadinya merasa biasa-biasa saja dengan segala permasalahan yang terjadi dengan team saya, tiba-tiba tersadar bahwa rasa gemas saya rupanya berawal dari perbedaan tersebut.

Namun, seperti biasa, saya tetap beranggapan bahwa hal itu sebenarnya terjadi dimana saja, daya juang, mengerjakan pekerjaan, tanggung jawab, mau berapa pun umurnya pasti ada saja yang serupa.

Hingga kemarin ketika saya dan rekan-rekan sekantor sedang melakukan ”brain-storming” tentang produk yang akan diluncurkan, pihak ”agency” menyampaikan beberapa fakta menarik betapa tiap generasi mempunyai gayanya sendiri-sendiri. Tidak usah menunggu sampai puluhan atau belasan tahun, perbedaan generasi saat ini hitungannya adalah tahun bukan belas.

Perbedaan generasi tersebut tentu saja menyangkut ”life-style”, ”cara pandang terhadap kehidupan”, ”cita-cita”, dan beberapa hal lagi.

Berangkat dari diskusi kemarin sore, saya jadi ingat komentar rekan saya tentang ”anak buahnya, ”Mereka itu ketika diberitahu selalu saja ada alasannya dan tidak pernah berusaha mengerti akibatnya. Mereka pikir kita tidak tahu. Mereka lupa kalau kita pernah muda dan mereka belum pernah tua.”

Saya jadi ingat ketika kemarin saya melakukan interview untuk calon team saya, tanpa harus melihat hasil psiko-testnya, saya sudah bisa menebak bahwa anak ini kurang dalam interpersonal skillnya, hanya dari cara berjalannya, berpakaian dan berbicara. Sehingga ketika pihak HR memberitahu saya mengenai kekurangan anak itu, saya langsung berkata dalam hati, ”sudah kuduga”.

Dan saya pun teringat komentar rekan a.k.a atasan saya jaman tahun kuda itu, ”kita sudah pernah muda, mereka belum pernah tua.”

Senin, 08 September 2008

Salah Yang Tidak Salah

Kira-kira 3-4 minggu yang lalu, saya bersama kedua anak saya dan suami tercinta nonton film Wall-e di Blitz. Berhubung datangnya kepagian, jadi kami duduk.

Tiba-tiba ada sepasang kekasih, sesama jenis, duduk di belakang saya atau tepat di depan mereka. Namanya juga sejoli, jadi wajarlah jika tindak-tanduk mereka menunjukkan betapa dunia milik mereka berdua, walaupun agak terganggu juga dengan suara dan ketawa mereka yang cekikan, tapi berhubung tempat ini milik umum, ya .. sudahlah

Sampailah saat ketika waktu untuk menonton tiba, ternyata sepasang kekasih itu duduk di deretan yang sama dengan saya dan keluarga, hanya terpaut 2 atau 3 kursi dari suami saya. Berhubung saya termasuk "fanatik" dalam menonton, jadi saya pun tidak menoleh ke kanan-kiri, konsentrasi penuh ke layar tancap yang di depan mata.

Semua berlangsung aman tentram hingga minggu lalu, ketika anak tertua saya berkata, "Bunda, 'Gay' yang disebelah ayah ciuman lho pas mereka lagi nonton. Mana berisik lagi. Kan film anak-anak ya, kenapa sih mereka ciuman segala." Saya waktu itu hanya berkomentar, "ya nggak apa-apa, kan cuma ciuman." Tapi kemudian dia protes, "kalau ciuman itu artinya ciuman di bibir., Bunda" dan saya pun saat itu hanya berkomentar ,"Oh, ya sudah."

Hehehe, saya termasuk ibu yang konservatif, bagi saya jika belum waktunya mereka menonton adegan ciuman yang "hot", maka adegan itu terlarang bagi mereka. Kedua anak saya pun sudah paham, jadi ketika adegan ciuman yang "hot" itu terjadi, mereka langsung menoleh ataupun menutup mata dengan bantal, dan bertanya "sudah belum ?". Jadi sungguh wajar bagi saya, ketika si putri tertua melihat adegan terlarang itu, tentu saja dia jadi bertanya-tanya, apalagi hal tersebut terjadi ditengah-tengah suasana yang jumlah anak kecilnya lebih banyak dari orang dewasanya.

Sebenarnya saya pun sudah mulai lupa dengan topik itu, hingga minggu lalu ketika saya sedang ngobrol hal-hal yang ringan dengan rekan saya dan bercerita tentang peristiwa Wall-e a.k.a peristiwa komentar putri tercinta, saya saat itu mengakhiri cerita dengan berkata, "Aduuh, untung dia nggak nanya, kenapa sesama jenis bisa berciuman, kalau ya bagaimana menerangkannya ya ?"

Rekan saya kemudian membalas dengan menanyakan pertanyaan yang cukup mengusik pikiran saya, "menurut kamu, sesama jenis itu salah nggak ? kalau menurut kamu tidak salah, ya tentunya akan dengan mudah kamu menjelaskan itu ke anak kamu."

Saat itu saya hanya terdiam, kaget dengan pertanyaan teman saya.

Setelah merenung selama beberapa hari, akhirnya saya memutuskan untuk membawa topik itu dalam perbincangan makan malam di akhir pekan bersama keluarga, maklum makan malam di akhir pekan merupakan satu-satunya saat kita semua berkumpul.

Saya melontarkan pertanyaan yang cukup mengganjal hati saya selama beberapa hari, dengan harapan bahwa anak-anak akan bertanya atau setidak-tidaknya meresapi dalam hati mereka, sehingga jawaban kami bisa menjadi dasar cara berpikir mereka dalam menilai "dunia" yang akan mereka temui nanti.

Mengingat ayah mereka adalah penentu kata akhir, maka bertanyalah saya kepada dia sambil harap-harap cemat, takut pernyataannya tidak sesuai dengan kata hati saya, "menurut ayah hubungan sesama jenis itu bagaimana ?".

Saat itu, saya melihat bola mata kedua anak saya membesar, rupanya mereka pun menunggu saat-saat terjadinya diskusi yang cukup seru (maklum kalau diskusi sedang seru, mereka bisa mencari alasan untuk tidak menghabiskan makanan).

Tetapi ternyata jawaban ayah mereka di luar harapan mereka berdua, karena sejalan dengan kata hati saya. Jawabannya ,"Salah yang tidak salah. Salah karena melanggar norma-norma agama. Tidak salah, karena pada dasarnya mereka juga tidak menginginkan hal itu terjadi pada mereka."

Bagi saya sendiri, hubungan sesama jenis menjadi salah jika mereka yang "Bi" (aduuh, istilah bahasa Indonesianya apa ya), tiba-tiba memilih menjadi "gay" hanya karena ikut-ikutan. Atau karena hanya sekedar mengikuti zaman (nah untuk yang ini saya agak susah mengerti). Siapa sih yang tidak ingin menjadi "straight" dalam kehidupan mereka.

Sebagai orang tua, sudah sepatutnya kami memberikan jawaban berdasarkan norma agama, tetapi kami pun tidak bisa meniadakan fakta bahwa ada hal-hal yang terjadi di luar sana. Pada saat itulah, mungkin mata hati lebih tepat untuk memberikan penilaian dan bukan penghakiman.