Senin, 23 Agustus 2010

Renungan Puasa

Satu hari menjelang Ramadhan, di antara berbagai kicauan burung mengenai puasa dan razia ormas untuk menciptakan suasana kondusif saat Ramadhan, tiba-tiba mata saya berhenti di salah satu kicauan teman saya yang mengomentari kicauan tentang Ucapan Selamat Berpuasa.


Tepatnya kicauan tersebut bunyinya seperti ini ”Selamat berpuasa bagi yang berpuasa dan Selamat menghormati mereka yang puasa bagi yang tidak puasa.”

Rekan saya kemudian mengomentari kicauan tersebut bahwa mereka yang meminta kepada yang tidak berpuasa untuk menghormati mereka yang berpuasa adalah mereka yang jiwanya tidak percaya diri, kalau mereka percaya diri tentu mereka tidak akan minta dihormati, mereka akan dihormati dengan sendirinya.

Saya pun tersenyum di samping merasa miris membaca komentar tersebut. Tersenyum karena komentar tersebut tepat sekali dan miris karena mereka yang memiliki pemikiran seperti itu hanyalah segelintir orang, bahkan pemerintah pun tidak memiliki pemahaman sedalam itu. Buktinya, semua tindakan yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan selalu diakhiri dengan embel-embel untuk menciptakan suasana kondusi selama bulan puasa.

Sebenarnya, puasa bukanlah milik segolongan agama, semua agama di dunia mengenal puasa walaupun cara dan lamanya berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Juga tidak ada puasa yang satu lebih berat dari yang lain, semuanya sama beratnya dan sama ringannya.

Hanya satu hal yang sama dari berpuasa itu, pendekatan diri dengan Sang Maha Kuasa, kesempatan untuk merenung, kesempatan untuk menahan diri, kesempatan untuk melihat ke dalam diri sendiri dengan lebih intensif, kesempatan untuk memperbaiki relasi yang kurang baik, kesempatan untuk melihat sesama kita yang selama ini luput dari perhatian kita.

Dan justru karena makna puasa tersebutlah maka tidak selayaknya kita menciptakan suasana kondusif untuk mempermudah pendekatan diri kita dengan Sang Maha Kuasa. Jika suasana dibuat sekondusif mungkin, bagaimana kita bisa bergulat dengan Setan yang selama ini selalu menjadi penghuni setia di dalam diri kita, yang mampu mengusir Sang Maha Kuasa dari kehidupan kita ?

Menahan lapar dan haus adalah hal yang mudah, bukan hal yang sulit. Menahan lapar dan haus menjadi hal yang sulit justru ketika Setan sedang berkeinginan untuk bermain dengan kita. Bukankah kemenangan yang gemilang justru ketika musuh di medan perang dapat kita kalahkan, dan berbicara mengenai medan perang, tidak ada medan perang yang sepi dari tembakan senjata. Kalau tidak ada tembakan senjata berseliweran, pasti namanya bukan perang.

Sehingga menjadi hal yang ironis saat tempat hiburan malam, atau lokalisasi atau VCD porno menjadi hal pertama yang harus diamankan demi terciptanya suasana kondusif saat ramadhan dan bukan karena alasan moral lainnya.

Dan terasa menggelikan karena mendadak negara ini menjadi negara yang alim, bukan karena sebagian besar rakyatnya berhasil mengalahkan setan tetapi karena setan dikerangkeng untuk sementara.



PS :
Rasanya tidak sabar menanti ramadhan tahun depan, pasti nyanyian yang sama terulang kembali. Entah jika para ormas nantinya sadar bahwa Berpuasa adalah Saat hening kita bersama Sang Khalik
Posting Komentar