Sabtu, 06 September 2008

Meeting ala White Board


Kemarin ketika saya harus hadir di acara workshop para "engineer" dan "marketing" team, tiba-tiba saya melihat pemandangan yang sudah 5 bulan tidak saya temui lagi, "segerombolan orang berkerumun di depan "white-board" persis seperti sedang melihat tukang obat di pinggir jalan.

Rasanya sudah lama sekali tidak melihat 'pemandangan' seperti itu, 'pemandangan' yang membuat kami - yang terlibat dalam proyek akbar - tidak bisa cuti dengan leluasa, mendadak jadi orang yang waktu tidurnya jadi terbolak-balik dan jadi orang yang bisa menggambar.

Cerita tentang pemandangan ini dimulai di akhir tahun 2006, ketika kantor saya memutuskan untuk melakukan perubahan sistem yang cukup drastis, dimana proses penentuan vendor diawali dengan RFP kemudian presentasi para vendor atas kemampuan mereka dalam menerjemahkan permintaan kami.

Ketiga vendor tersebut bukanlah orang awak, tetapi datang dari negara nun jauh disana, orang Rusia, Korea dan Cina.

Sudah bisa dibayangkan bukan ..., bagaimana jadinya ketika mereka dan kami semua berkomunikasi.

Sudah bahasa Inggris bukan bahasa Ibu masing-masing, yang didiskusikan pun bukanlah hal yang mudah. Apalagi kami, yang notabene orang Indonesia, suka lupa kalau yang diajak diskusi bukan orang sendiri.

Ketika masih dalam tahap 'pitching' , problematika bahasa tidaklah menjadi halangan, soalnya yang muncul di layar tancap, kebanyakan gambar dicampur istilah-istilah teknis.

Tetapi ketika 'pitching' sudah selesai dan pemenang sudah ditentukan, problematika bahasa menjadi masalah yang tak berkesudahan

Dan sejak saat itulah kami punya perbendaharaan hal-hal menarik untuk dikenang :

Cerita tentang 'Pitching'.

Saat si Rusia sedang presentasi, tiba-tiba kami semua mendadak jadi 'tuli' dan terampil dalam mengolah 'mata'.

Alasannya sederhana, bahasa Inggris si Rusia mendadak terdengar seperti suara radio yang diputar tetangga, sayup-sayup bikin ngantuk. Pernah dengar orang nembang nggak, nah begitulah kami mendengar si Rusia presentasi.

Alasan berikutnya, sudah bisa ditebak, dimana-mana yang namanya engineer tidak jauh dari gender pria. Karena proyek ini adalah proyek para engineer, maka di ruang meeting, wanitanya bisa dihitung dengan jari, cuma 4 orang, yang lainnya gender pria. Nah, karena yang memberikan presentasi wanita kulit putih, cantik, seksi dan muda, yang terdengar kemudian adalah celetukan konyol dalam bahasa Indonesia (nggak ada yang ngerti kan selain yang Indonesia).

Celetukannya pun kalau didengar para feminis bisa bikin marah. Saya kutip sebagian disini "Wah, cakep banget ya", "eh mereka baru tiba pagi ini ya, sudah mandi belum ya", "sayang, cantik-cantik koq belum mandi", sampai yang paling konyol, "wah belahan bajunya rendah sekali ya", "lumayan, ada pemandangan segar".

Nggak mutu banget kan ? Si Rusia pasti berpikir kita sedang mendiskusikan sistem mereka, tapi jangankan sistem, mengerti pun tidak.

Peserta kedua, Korea.
Berhubung pesan dari kantor bahwa kita harus serius dengan Korea, maka suasana 'pitching' beralih menjadi 'tahap final' dan tempat meeting pun pindah ke hotel berbintang lima.

Pertama-tama, kami semua senang, maklum ada perbaikan gizi. Tetapi kalau selama hampir 3 minggu makan di tempat yang sama dengan menu yang itu-itu saja, perbaikan gizi menjadi siksaan yang luar biasa.

Kali ini jumlah peserta wanita agak banyak, tetap tidak berimbang, tapi lumayan lah dibandingkan saat Rusia presentasi.

Problem bahasa tidak menjadi masalah yang berarti, maklum bahasa Inggris mereka jauh lebih bagus dari si Rusia, walaupun kali ini judulnya bahasa Inggris kumur-kumur tapi lumayanlah.

Tapi kali ini yang bikin malu, bukanlah kelakuan gender pria, tapi kelakuan si gender wanita. Salah satu peserta workshop yang masih single ternyata penggemar film korea dan salah satu yang memberikan presentasi ternyata cakep buanget, sama deh dengan bintang film sinetron korea.

Komentar pun beralih menjadi "cowoq yang itu cakep banget ya, seperti bintang film korea", "eh kita nanti selesainya jam berapa ya ? jangan cepat-cepat deh, lumayan kan kalau dinner bareng dia". Dan seperti peristiwa Rusia, kali ini peristiwanya jauh lebih heboh, si peserta wanita tadi sampai bela-belain jalan sama si Korea dan foto bareng pake HP (supaya teringat terus)

Peserta ketiga, Cina.
Ternyata setelah berjalan selama hampir 3 minggu dengan peserta Korea, tiba-tiba angin segar dari kantor beralih ke Cina.

Waduh, baru istirahat dari rally panjang ngomongin sistem dengan Korea, sekarang harus rally panjang lagi dengan Cina.

Saat itulah problematika bahasa menjadi masalah yang tak kunjung selesai.

Biasanya problematika bahasa diawali dengan :

Masing-masing pihak tiba-tiba menjadi hilang ingatan. Air awet muda dari Lombok pun jadi kehilangan khasiatnya, soalnya urat emosi nggak selesai-selesai muncul di leher.

Kemudian tiba-tiba bahasa Cina atau bahasa Indonesia mulai diselipkan dalam kalimat-kalimat panjang, dan ketika rasa frustasi mulai muncul di kedua belah pihak, diskusi terbagi menjadi 2 bahasa, kelompok diskusi bahasa Cina dan kelompok diskusi bahasa Indonesia, yang dilanjutkan dengan memanggil rekan sebelah ruangan (maklum diskusinya terbagi dalam beberapa ruangan) untuk saling mendukung pendapat masing-masing pihak.

Kalau si Pim Pro tidak muncul di ruangan, bisa-bisa sampai malam kelompok diskusi itu terus saja berdebat dengan bahasa Ibu masing-masing.

Dan anehnya saat perdebatan yang nggak mutu itu terjadi, maka di setiap pintu depan ruang meeting tersebut, selalu ada saja yang pihak-pihak yang mencoba melobi (yang ini dari kedua belah pihak) dengan bahasa yang disepakati "bahasa Inggris". Kacaunya kejadian itu selalu saja terjadi di masing-masing ruangan, tinggal menunggu saat yang tepat saja.

Gencatan senjata selalu terjadi saat waktu berbuka untuk "snack" tiba. Saat itulah semua urat-urat kembali pada tempatnya dan para peserta kembali menjadi orang "Inggris", sibuk bercerita tentang hal-hal yang nggak perlu, saling bertukar perbendaharaan bahasa.

Nah, karena setiap kali seperti itu - entah siapa penemu gencatan senjata ala tukang obat - tiba-tiba ketika kami maju ke depan dan menggambarkan apa yang ada dalam kepala kami dalam bentuk kotak dan awan-awan, tiba-tiba semua kembali menjadi normal.

Sejak saat itulah, setiap kali kami berselisih pendapat dengan mereka, White Board menjadi sarana ampuh untuk mencari solusi.

Berkerumun di depan white board pun ada urutannya, pertama 1 orang yang maju, kemudian dari pihak lawan maju 1 orang. Tidak ada kata sepakat maju lagi 1 orang. Hingga akhirnya bisa 20 orang mengerubung white board.

Nggak mutu ya ? Habis mau bagaimana lagi, ketika bahasa Inggris bukanlah bahasa Ibu masing-masing, maka bahasa isyarat dalam bentuk gambar pun menjadi solusi ampuh.

Nah, kembali ke workshop kemarin, tiba-tiba saya teringat masa-masa yang dihabiskan dengan mereka selama 1 tahun 5 bulan. Rekan-rekan saya yang dulu menjadi teman seiring dalam berdiskusi sudah berganti, mereka pun demikian, tetapi tetap saja penemu solusi ala White Board tidak lekang oleh jaman.

Posting Komentar