Rabu, 10 September 2008

PJKA a.k.a. Pulang Jumat Kembali Ahad

Di kantor saya ada istilah PJKA dan istilah itu diberikan kepada mereka yang hidupnya bersama keluarga hanya dihabiskan di akhir pekan.

PJKA itu singkatan dari Pulang Jumat Kembali Ahad dan umumnya para anggota PJKA adalah para gender pria, maklum pria kan terkenal dengan usahanya yang gigih, lautan ku seberangi, mau untuk urusan yang berbau cinta-cintaan hingga mencari sesuap nasi.

Tapi ada juga anggota PJKA yang wanita, tidak banyak sih hanya 2 orang dan saya termasuk yang di antara 2 orang itu. Bukan sebagai peserta tetapi sebagai korban PJKA.

Menjadi korban PJKA di kantor lebih ringan celaannya dibandingkan mereka yang menjadi anggota PJKA. Sudah bukan pemandangan asing lagi di kantor kalau peserta PJKA selalu terlihat gelisah setiap hari Jumat, terlebih setelah jam makan siang, kalau bisa semua meeting dibuat lebih cepat di hari Jumat. Mereka bahkan punya alasan ampuh kalau diajak meeting di jam 4 sore. Apalagi kalau jam kantor menunjukkan pukul 05.00 sore, tidak ada pemandangan seru mendengarkan teriakan dari cubicle-cubicle tetangga yang agak menyerempet telinga, “Makanya jangan pake oli top one dong,”, “Seperti si Pak X dong, olinya cukup tahan 1 bulan” .. (yang ini dari gender pria) atau ..”Nanti aku telp ya, ntar aku bilang dari pacar jauh.” ..”Lho koq habis manis sepah dibuang, begitu jumat aku ditinggal deh.” .. (yang ini dari gender wanita) atau “travelnya nunggu di tempat biasa ya ..”, “cepetan lho, jalanan macet nanti terlambat sampai di stasiun, nanti ketinggalan kereta lho.” (nah ini komentar netral).

Banyak orang yang setelah mengetahui status saya yang korban PJKA selalu melihat dengan pandangan sedih dan berpartisipasi atas penderitaan saya, sementara saya sendiri yang jadi korban tidak merasa apa-apa.

Setelah saya merenungkan kembali pandangan mereka yang penuh arti, mungkin ada perlunya saya membuat tabel pro dan kontra hidup sebagai korban PJKA.


Untungnya ....
Lebih Mandiri.
Punya waktu luang buat menyenangkan diri sendiri, ke gym atau kongkow 2 sama teman.
Tahu cara ”ngirit”, soalnya kalau ada hal-hal yang mendadak, nggak bisa minta suami, apalagi kalau malam-malam ada pengeluaran mendadak.
Kalau week-end, tuntutan jalan-jalan selalu dijatuhkan kepada sang ayah, maklum anak-anak ngerti banget ibunya dari Senin – Jumat selalu ada bersama mereka (minimal pagi dan malam sebelum tidur).
Bisa bermanja-manja kalau week end, alasannya capek seminggu harus konsentrasi jadi orang tua tunggal.
Jarang berantem, bagaimana mau berantem, jaraknya saja susah.
Inovatif, berhubung berantem susah dan mahal, jadinya punya cara baru, pertama pake provider dower trus dilanjutkan dengan sms (sakit-sakit deh si jempol).



Susahnya ....

Suka kelupaan kalau bukan “single mom”
Susah minta uang mendadak, soalnya harus telpon dulu, harus ke bank (hiii.. ribet), sementara mencari waktu untuk urusan di luar jam kantor membutuhkan keahlian balap mobil
Kalau mendadak ada tugas sekolah si anak, beli ini, beli itu, ngerjain PR matematika, sementara meeting kantor nggak selesai-selesai
Nggak ada yang mijitin kalau kaki kram atau badan pegal-pegal, nggak ada yang ngurusin kalau lagi sakit, semua judulnya ”All Alone”.
Unek-unek disimpan seminggu dan setiap minggu berikutnya, daftar unek-unek nggak pernah berkurang
Boros, bagaimana tidak boros, kompor harus punya dua, TV harus punya dua, rumah harus punya dua, persediaan baju harus punya dua. Satu-satunya yang hanya punya 1 ya itu DVD (maklum yang ini kan bisa gantian nontonnya).


Saat ini peserta PJKA sudah mulai berkurang, karena sekarang mereka sudah bisa tersenyum sambil bilang kalau sang istri sudah diboyong ke Jakarta, kecuali saya dan rekan wanita saya yang satunya lagi.

Rekan saya memang wanita perkasa, setelah melahirkan anak pertamanya yang ditunggu-tunggu, dia tetap berstatus PJKA dengan membawa anaknya yang menggemaskan itu. Si kecil setiap pagi dititipkan di tempat penitipan anak yang bikin saya ngiri, soalnya jaman kedua putri saya kecil, tempat penitipan sejenis belum ada.

List Pro dan Kontra dia lebih panjang dari saya, tapi kami, peserta maupun korban PJKA, punya banyak cerita dan kenangan yang tidak terlupakan urusan PJKA.
Posting Komentar