Minggu, 05 Oktober 2008

Ketika Cinta Berbicara

Tante dan Oom saya sudah menikah selama 54 tahun, tanpa memiliki anak. Entah kenapa mereka pun sepakat untuk tidak mengangkat anak. Saya tidak pernah bertanya dan juga tidak pernah mempertanyakan keputusan mereka. Bagi saya, itu adalah jalan yang mereka sudah tetapkan.

Hingga tibalah hari ini, ketika Tante saya bercerita mengenai perjalanan kehidupan pernikahannya di depan adik iparnya, adiknya dan saya, si keponakannya yang hanya datang ke rumah mereka di Surabaya jika ada tugas kantor.

Menyaksikan suami tercintanya, belahan jiwanya terbaring lemah tak berdaya, dengan bantuan mesin, serta kenyataan bahwa harapan hidupnya hanya sekitar 10 – 20 %, tiba-tiba keluarlah kenyataan yang dipendamnya selama 54 tahun.

Betapa selama kehidupannya yang 54 tahun itu, dia harus mengalah, memendam perasaan karena suami tercintanya tidak pernah mendengarkan apa yang dikatakannya, betapa suami tercintanya lebih mempercayai pendapat teman-teman tenisnya. Betapa selama itu dia diam dan sakit hati.

Tapi dia tetap bertahan karena dia sadar, dalam pernikahan tidak bisa dua-duanya menang, salah satu harus mengalah, ada yang harus berjalan di depan dan dia memilih untuk berjalan di belakang.

Menurutnya, dia telah berjanji di hadapan Tuhan, bahwa dia akan menjalani kehidupan pernikahan ini dalam susah dan senang, jadi kekurangan suami tercintanya menurut dia adalah bagian dari “kesusahan” yang harus ditanggungnya dalam pernikahan.

Kemudian mengalirlah dari mulutnya betapa suami tercintanya mempunyai banyak kelebihan, sehingga jika ditimbang kelebihannya tetap lebih berat dari kekurangannya.

Sambil tersenyum, dia bercerita mengenai masa-masa perkenalannya dengan suami tercinta, jaman ketika mereka mulai berkenalan, bagaimana suami tercintanya menyusulnya meninggalkan kuliahnya di Unair.

Senyum yang dengan pasrah mengatakan, “saya ingin dia bisa bicara dengan saya, sebelum dia pergi, sebentar saja, biar saya lega”.

Senyum dan mata yang bercerita tentang cinta yang luar biasa dalamnya, cinta yang penuh dengan rasa maaf, cinta yang penuh dengan pengertian, cinta yang tak tergantikan.

Pendapatnya mungkin terasa aneh di jaman modern ini, yang menjunjung tinggi persamaan harkat wanita dan pria, tetapi mungkin memang begitulah Tuhan menciptakan pria dan wanita dimana wanita adalah tulang rusuk pria.

Kesetaraan bukan berarti merendahkan martabat wanita melainkan harus menjadikan wanita itu bermartabat.

Dalam pernikahan ? Saya masih bertanya dan belum menemukan jawabannya. Mungkin nanti lewat perenungan berikutnya.

Saat ini saya hanya terpana melihat cinta yang luar biasa dan pengorbanan yang begitu dalam …

Posting Komentar