Sabtu, 04 Oktober 2008

Salam Tempel dan Anak-Anak


Lebaran di mata orang dewasa tidak pernah semeriah Lebaran di mata anak-anak. Bagi mereka, lebaran itu identik dengan baju baru, kue-kue kering kesukaan mereka, makanan yang berlimpah dan tentu saja si “salam tempel”.

Nah, untuk urusan salam tempel ini, Lebaran kali ini ada sesuatu yang menarik untuk disimak, karena peristiwa ini terjadi di depan mata saya sendiri, peristiwa celoteh anak-anak saya dan sepupu-sepupu mereka a.k.a keponakan saya.

Seperti biasa, sebelum melakukan ritual salam tempel, para ibu saling bertukar informasi mengenai besarnya uang yang akan dibagikan. Biasanya kelompok tersebut terbagi dua, kelompok sosialis dan non-sosialis. Kelompok sosialis menganut asas pemerataan, sedangkan kelompok non sosialis, tentu saja kebalikannya, pembagian uang dilihat dari tingkatan pendidikan mereka.

Khusus untuk tahun ini, karena situasi ekonomi yang kurang mendukung, kami pun sepakat harus menurunkan nilai salam tempel. Maksud hati sih untuk mengajarkan mereka bahwa adakalanya prihatin itu perlu.

Nah, ketika acara salam tempel berlangsung, mereka pun seperti biasa bersorak-sorak, ternyata yang namanya anak-anak dimanapun tetap sama, selalu saja ada hal yang tak terduga yang terjadi.

Adegan I, saat salam tempel :

“Lho, koq aku dapat yang sama dengan yang SMP, aku kan sudah bukan anak kecil lagi Oom, aku kan sudah SMA. Tambahin lagi dong Oom.”

“Lho, koq Bagus yang belum bisa dapat jalan dapatnya nggak beda jauh sama aku ?”

“Aku kan belum kerja, masih kuliah, koq kali ini aku nggak dapet sih ? Nggak mau ah, aku juga harus dapat.”

Adegan II, sesudah salam tempel terjadi, ketika para pedagang kecil itu menghitung uang hasil perolehan mereka.

“Wah, tahun lalu kita bisa dapat sampai 300 ribuan, koq tahun ini 100 ribu saja tidak sampai sih ?”

“Siapa yang belum datang ya ? Tapi kalau Tante A dan Oom B datang pun, jumlahnya tidak akan sampai sebesar tahun lalu.”

“Oh, rupanya si Oom C belum ngasih, padahal tahun lalu kita semua kebagian dari Oom C”

“Mau beli apaan dong ? Main ke Time Zone saja tidak cukup uangnya.” Terus yang satu menimpali “Apalagi buat beli Tamiya”.

“Memangnya tahun ini ada apa sih sampai mereka nggak bisa ngasih salam tempelnya banyak ?”

Adegan terakhir, saat kita semua pergi berjalan-jalan, dan para orang tua menginstruksikan mereka untuk menggunakan uang hasil salam tempel, jawaban mereka, “ah, uangnya tidak sebanyak dulu, tidak cukup untuk dipakai main atau beli barang. Kita semua minta dibayarin aja deh.”

Saya tidak tahu benar-tidaknya, tetapi ketika saya sedang berdua dengan si kecil, rupanya kejadian salam tempel tahun ini berbekas dalam dirinya. Katanya,”koq lucu ya Bunda, setiap tahun jumlah uang salam tempel ku naik, kenapa tahun ini turun ya ?”

Dan ketika saya menjelaskan mengenai situasi ekonomi yang terjadi tahun ini, seperti biasa dia hanya diam dan memainkan rambutnya. Saya pikir dia sedang mencerna, tetapi ternyata caranya mencerna, cara khas anak-anak, “Tapi kita tetap nonton film Laskar Pelangi ya ? dan hadiah ulang tahun ku juga ada kan ?”

Saya hanya bisa terdiam, sambil membatin, dasar anak-anak jaman sekarang, salam tempel yang cuma tradisi koq dijadikan perhitungan seperti jual-beli barang. Tahun lalu untung X rupiah, tahun ini rugi karena pendapatannya hanya Y rupiah.

Jadi teringat salah satu pertanyaan di Dunia Plurk, “Apakah salam tempel itu mengajarkan anak-anak mengenal dunia KKN ?” dan ada yang menjawab “Yang pasti mengajarkan anak-anak menjadi peminta-minta, seperti saya ini.”

Mungkin saya harus mengkaji lebih dalam aspirasi anak-anak saat mereka mendapatkan salam tempel, siapa tahu saya bisa memberikan masukan kepada Kak Seto bahwa pendapat yang mengatakan betapa pun jumlah uang yang diberikan pada saat salam tempel di hari Lebaran, anak-anak tetap akan menerimanya dengan senang hati, sudah tidak berlaku lagi.

Anak-anak …dimana saja selalu ada hal-hal yang tak terduga …




Posting Komentar