Senin, 01 Desember 2008

Berbeda itu Indah


Ada yang menarik di Koran Tempo terbitan hari ini, tepatnya di halaman A19, di kolom kecil sebelah kanan, dengan judul “Pada Mulanya Kata”.
Sebuah renungan kecil tentang perbedaan yang seharusnya menjadi perekat seluruh umat manusia di muka bumi namun karena “ego” manusia justru menjadi petaka.

Ya, bagi saya, seperti yang saya ulas di blog bahasa Inggris saya, Lalita, agama yang seharusnya menjadi perekat seluruh umat manusia, karena “ego” manusia kemudian menjadi alat pembenaran terhadap kekuasaan, terhadap terror, terhadap pembunuhan umat yang dianggap bertentangan dengan ideologi ataupun idealisme yang dianut.

Mengapa “ego manusia”, contoh kecil saja, Yoga dilarang di Malaysia karena mengajarkan atau mengandung unsur penyembahan terhadap “Tuhan” agama lain. Atau, Vatican baru saja memaafkan personil Beatles atas pernyataan mereka berpuluh tahun lampau bahwa mereka lebih popular dari Yesus. Atau soal kartun Nabi Muhammad.

Kebetulan saya belajar Yoga, kebetulan pula saya mempunyai pemahaman yang cukup tentang agama saya, dan hingga saat ini saya tidak melihat Yoga mengajarkan penyembahan terhadap Tuhan “agama” lain.

Beatles lebih popular dari Yesus ? Sah-sah saja mereka mengklaim diri mereka lebih popular dari Yesus. Apakah dengan demikian agama Kristen/Katolik menjadi berkurang popularitasnya ? Apakah dengan demikian, saya, yang beragama Katolik, kemudian menyembah Beatles. Jawabannya, tidak.

Tuhan tidak pernah popular, karena jauh sebelum popularitas itu terbentuk, Tuhan sudah menjadi bagian dari diri kita sendiri. Tuhan sudah berwujud dalam pergaulan kita dengan sesama.

Soal kartun ? Wah, saya sering menemukan kartun tentang Yesus maupun Nabi-nabinya yang diplesetkan. Reaksi saya, ya tertawa. Apakah kemudian itu berarti saya tidak menghormati Yesus dan Nabi-nabinya ? Jawabannya tidak.

Mana yang lebih nista, tertawa atas kartun yang lucu atau korupsi sambil menghujat si kartunis ?

Mungkin memang dunia semakin tua, sehingga pemahaman tentang Tuhan dan ajarannya menjadi semakin jauh dari ketika “agama” tersebut diciptakan.

Mari kita renungkan kembali “pada mulanya kata” yang saya kutip dari Koran Tempo, 30 November 2008.

Kahlil Gibran
Aku mencintaimu ketika kamu bersujud di masjid, bersembahyang di pura, berdoa di dalam gereja, karena kamu dan aku anak-anak dari satu agama, dan itu adalah spirit.

Richard Burton
Semakin dalam aku mempelajari agama, semakin aku yakin bahwa manusia tak pernah menyembah apapun selain dirinya

Arthur C. Clarke
Aku tak percaya pada Tuhan tapi aku tertarik padanya.

Dalai Lama
Ini adalah agama sederhanaku. Tak membutuhkan pura, tak membutuhkan filosofi yang rumit. Otak kita, hati kita, adalah pura kita; filosofinya adalah kebaikan.

Isaac Bashevis Singer
Keraguan bagian dari semua agama. Semua pemikir agama adalah para penyangsi.

H.L. Mencken
Kita harus menghormati pemeluk agama lain, namun hanya dalam kaitan dan kepentingan bahwa kita menghormati teorinya bahwa istri mereka cantik dan anak mereka cerdas.
Posting Komentar