Jumat, 10 April 2009

Cerita Di Balik TPS


Sepanjang hidup saya mempergunakan hak pilih saya sebagai seorang warga negara Indonesia, baru kali ini TPS menjadi tempat yang penuh warna, tempat dimana saya menemukan cerita-cerita lucu. Cerita yang dibandingkan dengan 4 (empat) tahun lalu tidak seunik saat ini.

Pagi itu, tanggal 09 April 2009, sambil menikmati embun pagi dan bau tanah basah, ditemani kedua anjing tercinta saya, Lady dan Whitey, saya berdebat dengan diri saya sendiri, apakah saya ingin menggunakan Hak Pilih saya atau memilih menjadi Warga GolPut. Mungkin karena suasana pagi dan tempat TPS yang hanya dihiasi kursi-kursi yang masih kosong, akhirnya saya memutuskan menggunakan Hak Pilih saya.

Alasannya sederhana, agar saya bisa memprotes jika negara ini dijalankan tidak sesuai dengan janji-janji yang telah diberikan.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi, matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya ketika saya berjalan ke lokasi TPS, tempat dimana saya memberikan suara saya.

Dalam perjalanan menuju lokasi TPS, tiba-tiba telinga saya menangkap serombongan anak kecil berceloteh

Cerita Pertama

Anak I : “Gue pikir TPS itu seperti apa tempatnya, nggak tahunya cuma begitu aja ya.”
Anak II : “ Iya, dindingnya dari kaleng lagi.”
Anak III : “ Gue males ah nemenin nyokap gue disana.”
Anak IV : “Main sepeda aja yuk, biarin aja orang tua pada milih.”


Tiba-tiba saya disapa oleh si Abang, anak tetangga saya yang masih duduk di kelas 3 SD

Abang, “Tante ... tante mau nyoblos ya ?”
Saya , “Bukan nyoblos Abang, tapi contreng.”
Abang, “Tante mau nyontreng siapa ?”
Saya, “Rahasia dong Bang, menurut Abang, Tante harus milih siapa ?”
Abang, “Tante harus contreng Demokrat ya, ingat lho Demokrat.”

Saya jadi tersenyum mendengar pesan si Abang, setelah sebelumnya saya dititipi untuk memilih teman yang menjadi caleg dari Partai A dan B, kali ini saya malah dititipi pesan sponsor dari si Abang, yang ada di rombongan peninjau TPS.

Ketika saya tiba di lokasi TPS, ternyata petugas masih sibuk memilah-milah surat suara yang lumayan banyak.

Makan waktu sekitar 30 menit kemudian barulah waktu memilih dibuka dengan Assalamualaikum, diiringi permintaan maaf, bahwa waktu untuk memilih terpaksa harus mundur sekitar 1 jam. “Maklum Bapak/Ibu, surat suaranya banyak sekali, mudah-mudahan 4 tahun lagi, mereka yang partai kecil sadar, nggak usah bikin partai lagi.”kata si Ketua TPS

Benar-benar kalimat pembuka yang ampuh, kontan para pemilih berkomentar menanyakan bagaimana cara mencontreng.

“Bapak/Ibu, mumpung masih ada waktu sedikit, silakan melihat-lihat gambar caleg dari partai-partai yang ada, supaya bisa mencontreng dengan yakin.”kata si Ketua menimpali

Tanpa diberi aba-aba lagi, para Bapak/ibu yang sudah masuk kategori “Dewasa” tadi, langsung menyerbu ke papan tempat dimana foto para caleg terpampang.

“Ah …sudahlah, kalau susah, contreng saja partainya. Atau cap-cip-cup saja nama orang dari Partai yang kita pilih,” terdengar suara seorang Bapak. “Ayo Pak, kita mulai saja deh, daripada tambah pusing,” sahut seorang Ibu-ibu

Dan sambil menunggu giliran saya, inilah hasil rekaman saya :

Cerita Pertama

Si Anak : “Papa .. aku boleh nyontek Papa nggak ? Aku sama Papa aja deh contrengnya, boleh
nggak ?
Si Ayah : “Lho, nggak boleh dong sayang. Kamu harus milih sendiri.”
Si Anak : “Aku bingung nih Pa, aku nggak tahu harus contreng yang mana.”

Cerita Kedua

Si Istri : “Ingat lho Mas, kalau bisa contreng Partai Anu ya Mas.”
Si Suami : “Iya ..sudah saya mau contreng dulu.”

Tiba-tiba ketika suami sedang di Bilik Suara, si Istri datang …

Si Istri : “Mas ..lihat dong pilihannya, biar aku nggak salah”
Si Suami : “Hus …sana, balik ke tempatmu. Sudah .. kamu milih sendiri”

Cerita Ketiga

Istri, “Pak..aku koq deg-deg-an ya .., aku boleh nyontrengnya deket kamu nggak ?
Suami, “Ya sudah, sini di belakangku saja, Bu.”

Saat sedang mencontreng

Istri, “Pak, tolong periksa kertasku, bener nggak aku nyontrengnya. Milih yang ini kan ?
Suami, “Iya sudah, nggak usah aku periksa lagi, sudah bener koq Bu.”

Cerita Keempat

Ibu-ibu, “Pak ..aku koq nggak bisa ngelipetnya sih. Heran ini bagaimana sih yang bikin suratnya, koq susah banget sih.”
Petugas TPS, “Susah ya Bu, sini saya bantuin lipat. Saya petugas pelipat kertasnya.”

Tak lama kemudian, terdengar suara ketua TPS :

“Bapak/Ibu, kalau kesulitan untuk melipat kertas suaranya, kami sudah menyediakan petugas khusus pelipat kertas suara.”

Akhirnya tibalah giliran saya a.k.a cerita penutup :

Saya, “Pak, ada ballpoint lain Pak ?”
Petugas TPS, “Lho, kenapa Bu, ballpointnya macet disana ?”
Saya, “Bukan Pak, tapi karena saya kidal, bapllpointnya kan diikat, talinya tidak sampai Pak, saya nggak bisa nyontrengnya Pak."
Petugas TPS, “Hahahaha….ada yang punya ballpoint merah nggak ? Harus warna merah lho.” Ini Bu, pakai yang ini saja dulu.”

Akhirnya saya pun menggunakan Hak Pilih saya dengan ballpoint warna merah …..


Saya pun pulang ke rumah, mensyukuri keputusan saya menggunakan Hak saya sebagai seorang warga negara sehingga bisa menikmati sejumput cerita di Balik Bilik TPS.
Posting Komentar