Rabu, 15 April 2009

Catatan yang tertinggal dari Misa Paskah Anak-Anak


Hari Minggu lalu, 12 April 2009, adalah hari Paskah bagi seluruh umat kristiani di dunia. Bagi pemeluk agama Katolik, Misa Paskah bahkan lebih penting dari Misa Natal.

Paskah adalah perayaan terakhir dari 3 hari suci (Trisuci), Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah (Upacara Cahaya). Sehingga, mengingat panjangnya rangkaian upacara itu, maka khusus pada Hari Paskah (hari Minggu) diadakan misa tersendiri bagi anak-anak.

Diharapkan dengan diadakannya Misa Paskah bagi Anak-anak maka anak-anak dapat mulai belajar mengenai tata cara ibadah dan mendapatkan pemahaman yang sesuai dengan kapasitas umur mereka.

Maklum saja, jika bukan Misa Paskah Anak-Anak, tentu liturgi dan khotbahnya dikonsumsikan bagi para orang tua, yang akan sangat membosankan bagi anak-anak. Alih-alih mereka duduk dengan tenang, yang ada malah mereka mencari cara untuk keluar dari aura kebosanan. Akibatnya, orang tua sibuk menyuruh anak untuk duduk manis dan tidak mendengarkan khotbah atau mengikuti liturgi dengan baik.

Saya seumur-umur baru 1 kali menghadiri Misa Paskah Anak-Anak, bukan karena tidak sempat tapi karena malas. Maklum saja, pengalaman pertama menghadiri Misa Paskah Anak-Anak ketika si sulung masih berumur 6 tahun dan yang kecil baru 1 tahun, dan harus mengawasi mereka seorang diri, membuat tenaga saya terkuras habis.

Maka dari itu, ketika putri bungsu saya, jauh-jauh hari menginformasikan bahwa dia terpilih sebagai anggota Paduan Suara untuk Misa Paskah, pengalaman masa lalu terbayang kembali. Tetapi kalau diingat si kecil sekarang sudah berumur 11 tahun dan posisinya saat ini adalah “Anggota Paduan Suara”, maka saya membulatkan tekad untuk menghadiri Misa Paskah Anak-Anak untuk mengikuti Misa Paskah sekaligus memberi semangat baginya.

Sebagai Ibu, tentu saja saya ingin duduk di tengah di barisan terdepan. Tetapi karena kali ini gereja diprioritaskan untuk anak-anak, saya harus duduk di pinggir di barisan Lansia. Walaupun harus tebal muka karena wajah saya belum sekeriput si Inang boru Simanjuntak yang duduk di sebelah saya, demi anak saya acuh saja.

Mengingat namanya misa anak-anak, tentu saja suasananya hingar bingar, apalagi banyak orang tua yang tidak ingin meninggalkan zona kenyamanannya, sehingga bolak-balik petugas tata tertib harus memberikan pengumuman agar para orang tua sadar bahwa misa pagi itu adalah misa anak-anak.

Keributan kecil khas anak-anak pun mulai terdengar. Dari anak-anak yang tidak dapat duduk diam hingga keluar dari bangku dan mulai berlari-lari di dalam gereja saat Misa dimulai sehingga membuat seorang Ibu lari-lari mengerja si anak, hingga memberitahu anak-anak sikap berdoa saat upacara berlangsung.

Keributan ini hanya berhenti saat Pastor berkhotbah. Maklum saja, khotbah dibuat dalam bentuk sesi tanya-jawab, sehingga mereka harus menyimak pertanyaan si Pastor. Pada saat itulah, tiba-tiba saya teringat masa-masa ketika kedua putri saya seumur anak-anak itu.

Judulnya saja Anak-Anak tentu bisa dibayangkan bukan jawaban mereka, polos dan tidak berdosa. Kejujuran mereka juga luar biasa, kejujuran yang sesuai dengan pemahaman mereka.

Ada 1 anak yang menarik perhatian saya, bukan karena dia semangat menjawab, tetapi karena dia semangat mengangkat tangannya, tanpa memperdulikan benar atau salah. Ketika Pastor bertanya siapa yang suka berkelahi, dengan tenangnya dia mengangkat tangannya, sementara anak-anak lainnya duduk manis menyembunyikan tangannya.

Ketika Pastor bertanya “Siapa yang cinta Tuhan Yesus ?” semua anak termasuk si anak itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Kemudian ketika sang Pastor bertanya lagi, “Siapa yang mencintai Iblis ?” hanya 1 tangan yang teracung; pemiliknya siapa lagi kalau bukan si anak itu.

Bisa dibayangkan bukan suasana di dalam gereja saat Pastor dan para orang tua melihat adegan itu.

Jawaban mereka pun juga lucu-lucu, jawaban yang jujur dan sesuai dengan pemahaman mereka.

Saat Pastor bertanya, “Anak-anak, kita harus rajin apa ?” Dengan spontan anak-anak itu menjawab, “Harus rajin berdoa. Harus rajin ke gereja. Harus rajin belajar.” Dan ketika Pastor bertanya lagi, masih kurang satu harusnya, si anak kecil yang rajin mengacungkan tangannya dengan sigap berkata “Rajin makan Pizza, Romo”.

Ketika dilanjutkan “Siapa yang rajin membantu orang tua”, hanya sebagian yang mengangkat tangan. Ketika dilanjutkan dengan pertanyaan membantu orang tua yang seperti apa, dengan tenangnya salah satu anak yang cukup gembul menjawab, “membantu orang tua menghabiskan makanan.”

Atau ketika Pastor bertanya, “Siapa yang sudah melihat telur Paskah raksasa ?” mereka berebut ingin melihat. Tapi ketika Pastor mengatakan bahwa telur Paskahnya sudah tidak ada dan bertanya kenapa sudah tidak ada, dengan tenangnya mereka menjawab “Telur Paskahnya dicuri..!”

Dan orang tua yang sudah tidak sanggup lagi menahan tawanya, serempak tertawa mendengarkan jawaban anak-anak mereka.

Khotbah yang bagi orang dewasa kadang menjadi bagian yang mengantukkan, ternyata di mata-anak-anak seperti mendengarkan dongeng. Tetapi justru dengan cara seperti itu, ketika Pastor bertanya mengenai arti Paskah, mereka dapat menjawab dengan benar, dan serempak pula.

Melihat suasana hari Paskah anak-anak pada hari itu, membuat saya tiba-tiba rindu celotehan putri sulung saya yang sebentar lagi memasuki masa remaja, membuat saya terhenyak menghadapi kenyataan bahwa sebentar lagi si bungsu menjadi ABG. Rasanya baru kemarin saya mengandung mereka. Rasanya baru kemarin saya menggendong mereka dalam pelukan saya saat menghadiri Misa, mencatatkan khotbah Pastor untuk tugas agama mereka. Rasanya baru kemarin saya mengajarkan mereka cara beribadah. Dan saat itu rasanya saya ingin memeluk mereka erat-erat dan tidak ingin melepaskan mereka.

Tahun ini Paskah saya menorehkan catatan tersendiri di dalam hati saya dan saat ini ketika saya menuliskan kembali catatan yang tertinggal di benak saya, sekelebat kutipan puisi Kahlil Gibran melintas di depan saya, “Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri Sang Hidup, ......”
Posting Komentar