Jumat, 30 Oktober 2009

Renungan Tentang Sumpah Pemuda



Di hari Sumpah Pemuda lalu, salah seorang senior saya, Eko Endarmoko, penulis Tesaurus Bahasa Indonesia, pagi-pagi sudah menulis di status facebooknya, “Delapan puluh satu tahun silam, para pemuda se-Nusantara yang berkumpul di sebuah gedung di Jalan Kramat Raya, Jakarta, elok sekali merumuskan pernyataan “menjunjung” – bukan “mengakui” – bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dan kearifan mereka itu membuat saya tak pernah habis pikir, sampai detik ini.”

Status yang membuat saya merenung, betapa dewasanya para pendahulu saya, mengakui dengan gagah berani bahwa mereka, para pemuda itu, berbeda satu sama lain, tidak hanya bahasa, suku tetapi juga agama mereka. Perbedaan yang tidak menjadikan mereka saling mencerca, namun justru menjadi pendorong untuk mewujudkan keinginan luhur mereka, Indonesia.

Suatu kebesaran hati yang mereka hadiahkan bagi generasi penerus mereka, kebesaran hati yang mampu menjembatani seluruh perbedaan yang ada. Semua ego yang mereka miliki mereka taruh di urutan paling belakang, demi mengedepankan cita-cita mulia mereka.

Kebesaran hati yang tersirat lewat pernyataan para pemuda, “menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.”

Saya tidak dapat membayangkan apa yang akan mereka pikirkan jika mereka melihat peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, di negeri yang mereka cintai.

Rasanya persatuan yang menjadi tujuan mereka dulu, perlahan mulai memudar, tepat ketika pendidikan yang juga menjadi salah satu unsur perjuangan mereka dulu, semakin terbuka, dan jumlah yang mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi semakin bertambah.

Kita cenderung melupakan unsur yang paling hakiki dari semangat “menjunjung” tinggi tadi, kita mendadak lupa makna tersirat dari "menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan" yaitu saling menghormati dan menghargai, sehingga yang terjadi kini adalah pembenaran terhadap fanatisme yang berlebihan terhadap keyakinan yang dianut, tanpa menyadari justru perbedaan itulah yang menjadikan Negeri kita Negeri yang Kaya.

Mungkin jika para pendahulu kita, yang menaruh ego perbedaan itu di urutan paling akhir untuk dikedepankan, berkunjung ke masa kini, akan terhenyak mendapati perjuangan mereka pelan tapi pasti berubah dari tujuan semula.

Pertanyaan demi pertanyaan saling berlomba untuk sampai di pemikiran saya, namun tidak ada satu jawaban pun yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Semua kembali lagi ke muaranya, tanda tanya dan bukan titik.

Betapa di hari itu saya merindukan para pendahulu saya, untuk membangunkan kami, generasi adik saya, generasi anak saya , seperti seruan Chaseiro lewat lagunya – Pemuda – pada hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2009, saat konser di Rolling Stones, Kemang, “Bersatulah semua, seperti dahulu. Lihatlah ke muka, keinginan luhur kan terjangkau semua. Pemuda mengapa wajahmu tersirat dengan pena yang bertinta belang, cermin nan tindakan akan perpecahan, bersihkanlah nodamu semua.” Lirik yang ternyata tetap menggetarkan batin saya, seperti dahulu ketika saya mendengarkan lagu ini beberapa dekade lalu.

Entah apa yang dapat menghidupkan kembali semangat yang dimiliki oleh Soegondo Djojopoespito – Ketua (PPPI), Djoko Marsaid – Wakil Ketua (Jong Java), Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen (Sekretaris), Amir Sjarifudin dari Jong Sumatranen (Bendahara), Djohan Mu Tjang (Jong Islamieten), Kontjosoengkono dari P.I, Senduk dari Jong Celebes, Leimena dari Jong Ambon dan Rohyani dari Pemoedaa Kaum Betawi, Mr Sartono, Mr.Muh Nazif, A.I.Z Mononutu, Mr.Soenario, S. Mangoensarkoro, Ki Hadjar Dewantoro dan Djokosarwono, Kartakusumah (PNI Bandung), Abdulrachman (B.O Jakarta), Karto Soewirjo (P.B Sarekat Islam), Muh. Roem, Soewirjo, Sumanang, Masdani, Anwari, Tamzil, AK Gani, Kasman Singodimedjo, Saerun (wartawan Keng Po), WR Supratman. Soerjono dan Soekawati .

Dan hari ini saya tergerak memperdengarkan lagu Pengungkapan, Chaseiro, kepada kedua putri saya, yang sangat menghayati betapa indahnya menghormati perbedaan itu.

Posting Komentar