Jumat, 20 November 2009

Hidup ini Pilihan ...


Klise ? Mungkin, tetapi ketika kalimat itu dipergunakan di saat yang tepat, maka akan terasa kebenaran maknanya.

Coba kita hitung berapa kali pilihan yang kita ambil dalam jangka waktu 1x24 jam ? Dari sejak Tuhan mengizinkan kita membuka mata hingga saat Tuhan membiarkan kita tidur ?

Rasanya tak terhitung, dari mulai memutuskan bangun, mandi, berangkat kantor, kerja atau main, marah atau diam, makan siang di luar atau di dalam, pulang cepat atau sesuai aturan, makan malam atau tidak, tidur cepat atau tidak, menonton siaran stasiun A atau B, nyaris tidak ada yang tidak harus dimulai dengan pilihan.

Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa ketika kita memilih, ketika kita memutuskan, kita juga memikirkan dampaknya terhadap relasi kita dengan rekan sepermainan, rekan sekerja, atau pun keluarga kita ?

Jawabannya bisa ya, bisa tidak.

Beberapa waktu lalu, ketika terjadi perubahan kepemimpinan di tempat saya bekerja, salah seorang rekan saya dengan gencarnya melakukan gerakan ’menjilat atasan’. Saya tidak tahu apakah dia sadar atau tidak, tetapi tindakannya itu bisa dilihat dengan mata telanjang. Entah memang Tuhan yang sedang berpihak kepadanya, tetapi setiap kali dia melakukan gerakan ”menjilat atasan” selalu saja berhasil.

Bahkan gerakan itu tidak berhenti sampai disitu saja, dia pun dengan tenangnya menyatakan berhak atas salah satu bagian pekerjaan yang sebenarnya bukan hak miliknya.

Gerakannya yang menghebohkan itu tentu saja mengundang angin segar untuk berdiskusi, diskusi yang berujung pada sebuah kesimpulan bahwa jika kami ingin berhasil, kami harus bisa seperti dia.

Saat diskusi mencapai kata akhir, saya hanya diam dan tersenyum.

Bukan karena saya setuju atau tidak setuju, tetapi lebih semata karena saya tidak memiliki keahlian penjilat. Namun setelah saya renungkan lebih dalam lagi, rasanya bukan karena saya tidak memiliki keahilan itu, jawaban yang lebih tepat adalah karena saya memilih untuk tetap menjadi diri saya sendiri. Memilih untuk hidup tenang, tidak harus berpikir gerakan apa yang harus yang harus saya ambil jika terjadi perubahan mendadak atau berusaha menutupi ketidakmampuan saya mencapai hasil yang ditargetkan.

Dan salah seorang rekan saya yang menahan kekesalan hatinya akibat tingkah laku sang ahli gerakan penjilat itu pun tiba-tiba berkata, ”Setelah saya pikir-pikir, untuk apa saya sakit hati, malah akan merugikan kesehatan saya.” dan sambil tersenyum ia melanjutkan, ”Saya sudah memilih, saya tidak akan sakit hati lagi. Minimal dengan pilihan ini saya bisa hidup tenang, tidak menyakiti hati orang lain.”

”Bukannya hidup itu adalah pilihan” ujarnya lagi.

Saya pun mengiyakan kalimat klise yang mendadak kehilangan rasa kadaluwarsanya, kalimat yang meninggalkan seribu makna di luar kekliseannya.

Sepanjang sisa hari itu, dan keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, maknanya meninggalkan seribu satu cerita, tentang hari yang dimulai dan diakhiri dengan pilihan, tentang dampak yang ditimbulkan dari pilihan-pilihan yang kita buat dalam hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan atau tahun.

Saya pun mencoba menghitung, mencoba menginventarisasi berapa banyak jiwa yang menderita, yang sakit hati, yang menangis, yang mengutuk, yang bergembira, yang berterima kasih, yang tertawa, yang mendoakan, akibat pilihan-pilihan yang saya buat dalam hidup ini.

Namun, hingga tulisan ini dibuat, saya tidak bisa mencatatnya.

Dan saya pun berkesimpulan, hanya Tuhan yang tahu karena Tuhanlah yang memberikan kita Hidup dengan Pilihan.



.... Renungan untuk sebuah cerita yang tidak pernah selesai ....

Posting Komentar