Minggu, 10 April 2011

Renungan tentang Pertemanan

Ketika foto wajah yang cantik dan mulus beredar di milis bbm saya beberapa waktu lalu, jantung saya berhenti berdetak. Rasanya wajah itu tidak asing lagi bagi saya, rasanya mata saya masih bisa mengenalinya.

Wanita yang dijadikan bahan gunjingan seantero Indonesia itu adalah salah satu rekan saya ketika saya masih bekerja di bank asing tersebut. Bahkan bukan hanya rekan sekerja, kami bertiga – Linda, begitu saya memanggilnya – bekerja di bagian yang sama, senasib dan sepenanggungan.


Sehingga ketika berita tersebut beredar, hingga hari ini, tidak habis-habisnya saya berpikir, apa yang membuat ia nekad melakukan perbuatan seperti itu.


Saya masih ingat pertemuan saya tanpa sengaja dengan dirinya beberapa tahun lalu, ia masih menegur saya dengan ramah, bertukar-cerita tentang masa-masa dimana kami bekerja di bagian yang sama, saling bercerita tentang keluarga masing-masing.


Saat itu, tidak ada yang berubah dari dirinya, wajahnya masih sama seperti saya mengenalnya puluhan tahun lalu. Kecantikan dan keramahannya tidak memudar walaupun saat itu usianya sudah tidak semuda belasan tahun lalu.


Sehingga ketika salah satu petinggi kepolisian mengatakan bahwa yang ada di badannya tidak ada lagi yang ‘asli’, saya jadi tergugu. Apalagi ketika membaca cercaan yang dialamatkan kepadanya, baik di media elektronik maupun di milis bbm, rasanya saya tidak sanggup menanggapinya. 


Di grup milis bbm saya, beberapa di antaranya juga mengenalnya semasa kuliah, bahkan ada juga yang mengenalnya semasa SMA. Membaca hujatan yang mereka tujukan kepadanya membuat saya hanya bisa mengusap dada. Linda bukan teman dekat saya, pertemanan kami hanyalah karena kami bersama-sama bekerja di bagian yang sama, selama beberapa tahun, sebelum akhirnya saya pindah ke divisi lain dan akhirnya mengundurkan diri dari bank ternama itu.


Namun melihat bagaimana dengan sekejap teman-temannya berpaling, membuat saya mengamini apa yang disampaikan para bijak bahwa teman yang sesungguhnya adalah teman di kala kesusahan sedang menghampiri kita dan bukan di kala kita sedang berada di puncak kejayaan.


Saya tidak hendak menjadi si manusia paling suci ataupun super hebat, tetapi entah kenapa ada sesuatu dalam diri saya yang menahan saya untuk menghujat dirinya.


Saya hanya merasa bahwa kehidupan ini penuh dengan misteri yang tidak dapat diketahui oleh manusia, kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan akan membawa kita di masa mendatang, kita tidak pernah tahu apakah kita selamanya akan bertahan untuk berjalan di jalan yang lurus.


Justru dari peristiwa itu, ada pelajaran yang bisa dipetik, betapa kita tidak pernah bisa menaksir seberapa kuat diri kita menghadapi tekanan sekeliling kita, seberapa rentan kita terhadap godaan yang ada dan seberapa cepat diri kita menyadari kesalahan yang kita perbuat.


Kita tidak pernah tahu dan tidak akan pernah tahu …


Jika ada yang bertanya kepada saya mengenai apa yang dilakukannya, dengan lantang saya akan berkata bahwa apa yang diperbuatnya salah dan tentunya dia harus dihukum atas perbuatannya itu.


Tetapi apakah saya harus ‘membuang’ ia dari daftar teman yang saya miliki, rasanya tidak. Dia pernah menjadi rekan sekerja yang menyenangkan dan penuh pengertian.


Bagaimana dengan mereka yang menghujat  ? Bukan hak saya untuk mengadilinya. Mereka pun tentu punya alasan untuk amnesia dan menghujat.


Posting Komentar