Senin, 22 September 2008

Akhirnya .....


Akhirnya saya bisa …

Ya, akhirnya saya bisa mengeluarkan kalimat ini, “kalau Papa masih hidup …”, kalimat yang tidak pernah bisa saya ucapkan dengan hati tegar, kalimat yang selalu saya hindari.

Sejak tanggal 14 Juli lalu, tiba-tiba ada ruang kosong di hati saya; ruang kosong yang tidak bisa merasakan berbagai macam rasa. Ruang kosong itu ada di sudut hati saya, melihat saya dengan pandangan sekosong ruang itu.

Saya berusaha menghadirkan berbagai rasa, tetapi ruang itu tetap hampa, yang ada hanyalah gambar hitam-putih tanpa suara.

Ruang itu menjadi berwarna ketika harum bunga mawar, melati dan sedap malam bercampur menjadi satu, membentuk hamparan permadani di atas tanah yang kering.

Hingga hari Sabtu malam lalu, ketika saya bersama suami dan si kecil sedang menikmati berbuka bersama di Pho Restaurant, PIM. Tiba-tiba, entah mendapat ilham dari mana, dia bilang, “Bunda,di dalam tempat HP ku kan ada foto Opa.”

Saya tiba-tiba terdiam dan kemudian bertanya, “Lho koq kamu simpan foto Opa di tempat HP ? Kan susah nanti masukin HP-nya.”

Dan berceritalah dia ,”Waktu di rumah duka, Kak Kevin (sepupunya) tiba-tiba ngasih foto Opa, karena aku cuma bawa HP, ya aku simpan aja di tempat HP. Nggak tahu tuh kenapa Kak Kevin ngasih ke aku. Habis itu aku lupa terus untuk ngeluarinnya. Biar aja deh, nggak apa-apa koq foto Opa ada disini.”

Itu adalah pembicaraan terpanjang tentang ayah saya atau kakek mereka, sepanjang ingatan saya yang suka hilang timbul.

Semenjak tanggal dia kembali ke surga, entah kenapa, sebisa mungkin kami menghindari kalimat yang bermakna tadi. “Aduh, kangen nih sama suara blender Opa” atau “Rumah koq jadi sepi ya, biasanya suara TV kenceng banget” atau “Kamarnya sudah bersih, tempat tidurnya sudah dirubah posisinya” atau “Lemari bajunya sudah dirapikan, tapi bajunya masih disana” atau “Sekarang nggak ada yang nemenin aku bikin telor kalau malam nih.”

Tidak ada tambahan kalimat penegasan, atau kalimat pengandaian, semua berhenti di pernyataan.

Tapi tadi malam, entah kenapa, saya berhasil mengeluarkan kalimat pernyataan itu dan ruang kosong di hati saya tiba-tiba tersentak dari tidurnya.

Tidak ada tangis berkepanjangan, tidak ada air mata yang tiba-tiba menguak keluar, kali ini hanya air mata yang menggenang di pelupuk mata.


Mungkin masa berduka saya telah lewat, mungkin juga berhasil memaafkan diri saya sendiri, atau mungkin juga saya berhasil menerima kenyataan bahwa kursi meja makan yang berada tepat di seberang kursi saya tidak akan pernah terisi lagi, suara yang menanyakan koran pagi tidak akan pernah kembali lagi, suara yang selalu membuat saya terpacu untuk belajar, yang selalu membuat darah saya “naik” tidak pernah akan terdengar lagi.

Akhirnya saatnya tiba juga bagi saya untuk berkenalan dengan kematian. Kata yang sering bersentuhan dengan saya, tetapi tetap terasa abstrak.

Kehidupan memang ajaib dan penuh teka-teki, tetapi setidaknya dia telah berbaik hati untuk menjadikan sesuatu yang abstrak menjadi bermakna dan nyata.

Posting Komentar