Selasa, 23 September 2008

Ruangan Favorit


Dulu … ketika masih jaman rekiplik, saya selalu berangan-angan mempunyai ruangan ala perpustakaan - dimana saya dapat menaruh buku-buku saya yang tidak pernah rela saya buang walaupun ada yang sudah digigit tikus, tape kecil dan komputer tempat saya menulis – dan halaman yang cukup luas untuk saya melanjutkan kegemaran saya bercocok-tanam yang lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya.

Sejak kecil angan-angan itu saya pelihara dengan baik, sehingga ketika tiba saatnya saya membangun rumah, angan-angan itu saya wujudkan dalam bentuk nyata.

Sayangnya, tanah di daerah Jakarta kafir ini a.k.a pinggiran Jakarta a.k.a. Bekasi tidak seluas rumah masa kecil saya, sehingga seperti biasa, kompromi kecil-kecilan pun harus dilakukan.

Ruangan perpustakaan harus ditaruh di lantai atas, halaman belakang dijadikan halaman kering dan urusan menanam bunga cukup di halaman depan yang ukurannya hanya 10X4 meter.

Di awal-awal rumah ini berdiri, segala khayalan yang diwujudkan itu terasa indah. Tetapi, ketika si bayi perlahan-lahan merangkak remaja dan si bungsu sudah tidak menjadi bayi lagi, khayalan itu menjadi bencana.

Ruang perpustakaan tiba-tiba menjadi ruang les, lemari buku harus dibagi dua, karena si sulung koleksi bukunya pun sudah setengah lemari buku saya. Kemudian ada tambahan furniture plastik, berupa box-box plastik yang besar, isinya komik-komik mereka berdua yang isinya tidak pernah berkurang dan ruangan itu menjadi lebih tidak nyaman lagi setelah si Kakaktua menjadi penghuni rumah.

Ibu saya yang kemudian tinggal bersama saya, tiba-tiba punya ide brilian, menambah meja kecil di ruang tersebut dan di atasnya ditumpuklah semua koran dan majalah-majalah kepunyaan kami semua. Tinggal pilih deh, mau kompas, atau femina, atau her world sampai ke Bocil, Ami, Kriuk apa Kruk ya (lupa mendadak) dan yang terakhir ada tambahan baru Berani dan Sindo, dan perubahan kecil dari Bocil menjadi Bobo, Her World menjadi Go Girl, Femina menjadi Cosmo Girl.

Ruangan yang diciptakan untuk memberikan ketenangan berubah menjadi Gudang Buku dan Majalah. Disain ruangan pun jadi amburadul.

Nah, bagaimana nasibnya dengan teras dan halaman tercinta ?

Untuk yang satu ini tampaknya masih sejalan, kecuali halaman tempat saya menikmati semilir angin pagi dan sore hari. Bukan apa-apa, masalahnya si pohon belimbing suka menghalangi kamboja jepang dan bunga-bunga kecil lainnya mendapatkan kasih sayang dari sinar matahari. Akibatnya setiap saat saya harus melakukan uji coba tanaman sebelum saya menemukan formula terbaik untuk penanaman tanaman berbunga.

Apakah saya telah menemukan formulanya ? Jawabannya tidak, soalnya bolak-balik mati atau mendadak menjadi kurus, karena si empunya suka angin-anginan.

Akhirnya setelah saya menghabiskan 1 hari untuk merenung, ruangan mana yang menjadi ruangan favorit saya, saya menemukan jawabannya, yaitu kamar tidur saya sendiri.


Alasannya gampang, pulang dari kantor, masuk kamar, mandi (kamar mandi di dalam kamar, jadi tidak ada alasan untuk keluar), nonton tv (di dalam kamar juga), keluar hanya kalau ingin menikmati makan malam, kalau tidak sampai pagi di dalam kamar.

Hari Sabtu dan Minggu, apalagi kalau bukan kamar tidur. Bagaimana tidak jadi tempat favorit, bangun pagi, petualangan berkunjung di blog tidak perlu jauh-jauh, cukup dilakukan di meja tulis yang ada di kamar. Atau sedang ingin menikmati film bajakan, pemutar DVD nya juga di kamar. Atau mau baca, tumpukan buku yang belum dibaca juga sudah beralih ke sudut kamar yang jadi tempat penyimpanan buku.

Bermain bersama anak-anak dan suami ? Dimana lagi kalau bukan di kamar. Entah kenapa bagi mereka, kamar tidur kami sudah berfungsi menjadi ruang keluarga. Kalau bisa segala permainan mereka lakukan di kamar tidur saya yang tidak seluar kamar “penthouse” hotel.

Puncaknya adalah ketika si kecil tiba-tiba meminta ayahnya untuk memasukkan meja belajarnya di samping meja tulis saya dan dikabulkan. Alasannya susah kalau harus belajar bareng Kakak, “susah konsentrasi, kakak suka denger musik.”

Setelah merenung dan mendapatkan jawabannya, harus saya akui bahwa dari seluruh ruangan yang ada, memang hanya kamar tidurlah tempat favorit saya, walaupun desainnya sudah berubah menjadi “avant-garde”, karena tiba-tiba ada tempelan “kalendar Bobo” di dinding kiri dan “Miniatur Spiderman” menempel di sisi kanan, mengapit Lukisan Cat Minyak Bunga.

Saya hanya berharap tidak ada lukisan abstrak warna, seperti yang dilakukan kakaknya ketika bereksperimen dalam warna, tiba-tiba memenuhi sisi lain dari dinding kamar mandi saya.

Saya hanya berharap suara nyaring saya yang melagukan “Ini kamar Bunda, bukan kamar kalian” tiba-tiba menyadarkan mereka dan kamar saya kembali ke era keemasannya yang kalau dilihat kembali membuat saya ragu bahwa saya pernah memiliki kamar itu.

Saya hanya berharap suatu saat mereka bisa dengan rela menarik kembali pernyataan mereka bahwa saya telah melakukan pembunuhan terhadap kreatifitas anak-anak ketika saya menyanyikan lagu “Ini kamar Bunda, bukan kamar kalian …”

Semoga ….

Posting Komentar