Kamis, 18 September 2008

Lik Man a.k.a. Lehman Brothers


Dua hari yang lalu ketika dalam perjalanan pulang dari berbuka puasa bersama penghuni lantai 19, tiba-tiba salah seorang team saya bertanya mengenai issue AIG dan hubungannya dengan si Lik Man a.k.a Lehman Brothers.

Masalahnya besok harinya atau lebih tepatnya kemarin, berdasarkan kesepakatan pengaturan upacara, akan ada penandatanganan kerjasama dengan pihak AIG Life di tengah-tengah acara berbuka puasa bersama dengan para sahabat media kami. Kalau urusan si Lik Man sih tidak menjadi masalah, tetapi urusan “kepercayaan” ini yang menjadi masalah.

Tanpa menunggu aba-aba lagi, saya langsung menghubungi sumber yang bisa dipercaya untuk menjelaskan urusan Lik Man dan urusan AIG. Setelah mendengar penjelasannya, saya langsung tenang dan menjelaskan kembali ke team saya, untuk persiapan berjaga-jaga menghadapi issue ini.

Nyaris saya tidak bisa tidur dengan tenang malam itu, selain sibuk membaca berita, saya pun memeloti plurk, sumber informasi utama dan gossip dunia. Bangun pagi pun, sasaran utama saya selain berita, plurk juga mendengarkan siaran TV One, mengenai Lik Man dan AIG.

Ada yang menarik mengenai komentar si pengamat ekonomi dan pasar modal, menurut dia, saham itu investasi jangka panjang, jadi sebaiknya para pemain harap bersabar dan tidak mengikuti emosi.

Saya jadi teringat mantan boss saya yang orang Amrik, ketika itu tahun 2003-2004 (kalau tidak salah tahunnya) saham di Amerika pernah mengalami “crash”, harga saham jatuh gila-gilaan dan si mantan boss saya itu, mengalami kehilangan yang cukup besar. Saya yang hanya jadi pendengar setia saja, sudah mengalami gempa di sekitar lutut, bagaimana yang si empunya saham ya ?

Tapi ternyata dia tenang-tenang saja, tidak panic, entah di dalam hatinya, tapi selama minggu itu, semua berjalan dengan aman tentram sejahtera di kantor. Si boss yang memang biang gossip, tetap melanjutkan kegemarannya bergosip soal anak-anak buahnya yang ketahuan berpacaran. Tidak ada yang berubah.

Beberapa bulan kemudian, saya memberanikan diri bertanya kepada si mantan boss, nah jawabannya juga mirip sama si pengamat pasar modal di TV One, bahwa semua harus disikapi dengan tenang, tidak emosi, sehingga keputusan yang diambil juga tidak salah. Baginya krisis akibat kehilangan sudah lewat dan dia sudah menikmati keuntungannya kembali.

Balik lagi sama si Lik Man dan AIG, ketika saya menghubungi sumber terpercaya saya, ia mengatakan bahwa di beberapa negara terjadi “rush”, termasuk Indonesia. Padahal menurutnya, tidak perlu panic, karena AIG di Indonesia menjalankan usahanya berdasarkan UU Indonesia, lagipula AIG juga mereasuransikan polis-polisnya, disamping asetnya yang cukup besar di Indonesia. “Tapi, orang Indonesia kan memang begitu, panikan melulu,” kata penutup dari dia.

Saya jadi malu sendiri mendengar kata penutup dari dia, karena saya pun panik ketika mendengar berita AIG itu, panik takut programnya tidak memenuhi target, panik karena kasihan sama AIG, pastinya mereka sasaran empuk untuk ditanya saat acara berlangsung, mengingat kami yang meminta mereka memundurkan tanggal acara seremoninya ke tanggal kemarin itu.

Untunglah semua yang ditakuti tidak terjadi, tadi malam semua berjalan aman, tentram, sejahtera dan penuh dengan tawa.

Ternyata memang benar kata si pengamat pasar modal, mantan boss biang gossip dan sumber terpercaya, jika semua disikapi dengan tenang, tentu kita bisa mencari solusinya dengan baik sehingga hasilnya tidak seburuk yang kita takuti.

Ah … ada-ada saja si Lik Man ..


Posting Komentar