Sabtu, 27 September 2008

Si Pembuat Onar - Kakaktua Jambul Kuning


Ini cerita tentang si pembuat onar di rumah kami, Kakaktua Jambul Kuning,
Burung yang semula dilecehkan karena tidak seimut dan selucu almarhum Burung Beo namun setelah perjuangan panjang akhirnya diterima menjadi penghuni rumah.

Kami memberi nama si Kakaktua Jambul Kuning, si “Kakak” atau si “Kakaktua”, soalnya ketika pertama kali kami berkenalan dengannya, ia menamakan dirinya “Kakak” atau sesekali dia memanggil dirinya sendiri “Kakaktua”.

Dari awal kedatangannya ke rumah kami, Si Kakak sudah membawa kehebohan sendiri, belum apa-apa dia sudah membuat kawah kecil di jok mobil suami tercinta. Sejak saat itu, si Kakaktua tidak diperkenankan naik mobil, kalau bisa dia ditaruh di bawah saja dan tidak boleh naik mobil saya. Soalnya nggak ada asuransi kerusakan mobil akibat Kakaktua kan ?

Ketika tiba di rumah, setelah rasa malunya hilang dan mulai merasakan aura kenyamanan, barulah dia mengeluarkan kalimat-kalimat ajaibnya, tanpa menyisakan belah kasihnya kepada si penghuni rumah lainnya.

Kelihatannya sebelum Kakaktua diberikan kepada kami, tampaknya si Kakaktua dipelihara oleh ABRI, sehingga ketika dia baru menjadi penghuni rumah saya, teriakannya tidak jauh dari “Ampun Bapak, Sakit”.

Ya kalau teriakannya ala burung beo, teriakan si Kakaktua bisa terdengar oleh penghuni blok rumah saya dan dia tidak pernah pandang bulu kalau teringat pengalaman indahnya berkumpul bersama si Abri, pernah dia teriak-teriak pagi hari sekitar pukul 05.00 pagi, bayangkan saja, itu kan jamnya tetangga rumah sedang menikmati jalan pagi di taman depan rumah. Lainnya lagi, pukul 02.00 siang, jamnya anak-anak kecil menikmati tidur siang mereka.

Tapi hebatnya, akibat teriakan si Kakak, anak-anak kecil kemudian menjadikan rumah saya sebagai persinggahan dikala pengasuh mereka kesulitan memberikan makanan kepada anak asuhnya. Maka jadilah rumah saya menjadi rumah favorit anak-anak, berwisata bersama kakaktua sambil makan siang, judul tamasyanya.

Nah, setelah tinggal cukup lama dengan kami, Kakak mengikuti irama rumah kami, teriakannya sudah terpola, dimulai tepat pada pukul 04.30 pagi, jadwal saya membangunkan putri tercinta, yang otomatis akan diikuti oleh Si Kakaktua dengan kalimat khasnya “Kakak bangun” atau “Astra, Astra” dengan suara teriakan orang hutan.

Tepat pukul 05.00, ketika tukang cuci mobil saya datang, maka si Kakak akan mengeluarkan tipuan batuknya ala Pak Timin si tukang becak. “Uhuk, uhuk, batuk yang kronis karena sering kena angin malam.” Pertama-tama kami heran, mencari di antara penghuni rumah siapa yang menderita batuk seperti itu, hingga suatu pagi saya mendengan Pak Timin batuk, barulah saya mengerti, siapa panutan Kakaktua pada pukul 05.00 pagi.

Pukul 05.30, ketika jadwal membangunkan sibungsu tercinta, maka Si Kakaktua mendadak bisa menjadi lirih suaranya “Andari, Andari”. Dan akhirnya ketika saya sedang menikmati waktu pagi hari untuk menulis – kalau malamnya terlalu lelah untuk menulis – maka dia mengelurkan kalimat ampuhnya, teriakan tanpa ampun, yang tidak seorangpun bisa mengerti.

Kakak pun punya kebiasaan aneh lainnya, suatu ketika, saat saya sedang menonton acara TV kesukaan saya di ruang keluarga yang menjadi satu dengan halaman belakang yang kecil tempat kami menaruh si kakak, tiba-tiba ada batu kecil mendarat tepat di samping saya. Spontan saya melihat ke atas, karena tepat di halaman belakang tersebut, kami biarkan terbuka. Tapi tidak ada siapa pun di sana.

Setelah ada kerikil kedua mendarat, saya pun menoleh ke Kakak, dan tepat pada saat itu, dia sedang menjatuhkan badannya, mengambil kerikil dengan paruhnya serta melemparkannya ke arah saya.

Acara TV kesayangannya adalah Film di HBO atau acara diskusi seperti Kick Andy, dia bisa diam berjam-jam, sambil menatap lurus ke arah TV. Mungkin dia sedang berpikir, orang-orang itu ngomong apaan sih, atau bagaimana ya dia bisa mengikuti adegan berantem di TV.

Saya adalah orang di rumah yang selalu ditatapnya dengan penuh kecurigaan. Pernah suatu saat ketika saya sedang mengecat pot air mancur di halaman belakang, adegan saya dan dia persis seperti adegan film India kalau si artis ketemu tiang. Bukan itu saja, si Kakak kemudian menakuti saya dengan mengambil ancang-ancang hendak terbang, karuan saja cat yang ada dikuas mengenai muka dan baju kaos saya. Si Kakak kemudian terkekeh-kekeh melihat muka dan baju kaos saya yang kena cipratan cat hitam.

Yang lebih memalukan ketika ada acara sembahyangan di rumah, si Kakak kami taruh di halaman depan, dengan memberikan Marie Regal kesayangannya. Eh .. ketika tiba di bagian berdoa, bukannya diam, dia malah ketawa-ketawa dengan suara nyaringnya. Saya hanya bisa mesam-mesem, habis mau bagaimana, dibuang tidak bisa, disuruh diam malah semakin menjadi.

Dulu, ketika ayah saya masih ada, rumah terasa sekali ramainya. Sekarang, setelah ayah saya tidak ada lagi, rumah saya menjadi sepi. Tapi untung si Kakak masih ada, kalau tidak pastinya terasa sekali sunyinya rumah saya ketika kedua putri kecil saya sekolah dan saya bekerja…

Kunjungan wisata ke rumah ? Oh itu masih, anak kecil yang lahir dari angkatan yang berbeda tetap mengidolakan si kakak.

Posting Komentar