Rabu, 01 Oktober 2008

Catatan Kecil Lebaran


Lebaran tahun ini merupakan lebaran pertama bagi keluarga suami saya tanpa kehadiran kedua orang tuanya, setelah almarhum ayah mertua saya meninggalkan anak-anaknya, para menantu dan cucu-cucunya, 6 (enam) bulan yang lalu.

Enam bulan yang lalu, tepat di hari kedelapan setelah beliau berpulang, keluarga suami saya segera mengadakan rapat keluarga, untuk memutuskan peringatan hari ke-40, ke-100 dan yang terpenting tradisi keluarga ketika memasuki ramadhan dan lebaran.

Saat itu, berdasarkan rapat keluarga, disepakatilah bahwa setiap hari raya Lebaran maupun hari terakhir menjelang ramadhan, maka kami semua akan berkumpul di rumah induk, rumah milik almarhum mertua saya, mengingat rumah kami-kami tidaklah sebesar rumah almarhum mertua (maklum, kami semua masuk dalam kategori keluarga kecil).

Keputusan yang sangat tepat, mengingat setiap acara yang selalu melibatkan para kakak-beradik, selalu saja ada yang tertinggal atau lupa dikerjakan. Apalagi jika peristiwa itu peristiwa akbar seperti lebaran, selalu saja tidak pernah sempurna. Sehingga, jika peristiwa akbar itu dilakukan di rumah induk, setidaknya kami semua bisa memperkecil tingkat ketidaksempurnaan kami.

Semua bermula ketika para adik ipar saya belum menikah, lebaran dilewati dengan aman-tentram, maklum yang merayakan masih dalam jangkauan. Tetapi, ketika kakak-beradik tersebut sudah menikah semua dan generasi penerus mulai bermunculan, mulailah ketidaksempurnaan saat Lebaran terjadi. Bagaimana akan sempurna, total jumlah anak-menantu dan cucu sekitar 38 orang, kalau ditambah mertua menjadi 40 orang, dan itu belum termasuk tamu yang datang, maklum mertua kami termasuk dalam kategori kerabat yang dituakan.

Pertama, ketika tiba-tiba kami sadar bahwa setiap lebaran, jumlah piring dan gelas yang harus dicuci tidak selesai-selesai, sehingga kami harus meminta bantuan pembantu infal untuk membersihkan piring dan gelas yang berpuluh-puluh. Keputusan untuk menggunakan piring dan sendok plastik pun diambil di saat baju Lebaran berganti dengan daster dan celana pendek.

Lebaran berikutnya, ketika urusan piring dan sendok makan selesai, tiba-tiba kami semua tersadar, ada yang terlupa dipikirkan, yaitu jumlah gelas yang dari tahun lalu sudah menempati urutan yang sama dengan piring dan sendok. Dan seperti lebaran sebelumnya, kesepakatan pun dilakukan pada saat kostum lebaran berganti menjadi kostum rumah, yaitu Lebaran berikutnya gelas sudah harus berganti dengan gelas aqua.

Setelah masalah lebaran yang terjadi selama 2 (dua) tahun berturut-turut terselesaikan, masalah berikutnya adalah urusan “salam tempel” bagi para keponakan. Setiap kali pembagian THR dimulai, selalu saja ada huru-hara, maklum para tante dan oom kalau membagi tidak pernah bergiliran, selalu serentak. Jadi bisa dibayangkan bukan, hukum anak kecil lebih pintar dari orang tua kerap terjadi pada saat THR. Kalimat seperti, “Lho kamu kan tadi sudah”, “Kamu tadi kemana waktu tante bagi THR”, “Kamu memang sudah kelas berapa sekarang”, bukanlah sesuatu yang asing.

Akhirnya dicarikanlah jalan keluar bahwa untuk urusan pembagian THR akan dilakukan secara bergantian. Sebelum pembagian THR dilakukan para orang tua akan menghitung jumlah keponakan berdasarkan tingkatan sekolah.

Dampak dari keputusan tersebut, maka pemandangan sejumlah orang dewasa berkumpul dengan uang seribuan, lima ribuan, sambil berhitung dan menyebut nama, di kamar almarhum mertua, bukanlah pemandangan yang asing.

Tidak ada masalah yang tidak terselesaikan bukan ?

Contohnya ketika Lebaran dua tahun yang lalu, entah kenapa opor ayam sepanci mendadak basi. Bisa dibayangkan bagaimana paniknya kami semua. Bukan apa-apa, soalnya tanpa opor ayam, lauk yang tersisa menjadi tidak sebanding dengan tamu yang datang.

Entah ilham darimana, akhirnya kami memutuskan untuk menggoreng opor tersebut, sehingga judulnya berubah dari Opor Ayam menjadi Ayam Opor Goreng dan kami semua terselematkan dari rasa malu.

Catatan dari Lebaran tahun ini ?

Ternyata kami lupa menyewa pembantu infal untuk membersihkan rumah. Maklum jumlah anak-anak jauh lebih besar dari para orang tua.

Ternyata untuk pertamakalinya, kami menghindar bercerita tentang kebiasaan almarhum ayah mertua kami, seperti yang kerap kami lakukan ketika rasa rindu kami datang menyengat.

Ternyata rasa rindu kami kepada mereka tak juga selesai ….
Posting Komentar