Minggu, 21 Desember 2008

Ketika Keberuntungan Datang ....


Saya hanya bisa tergugu ketika salah seorang dari tim saya membisikkan ke telinga saya bahwa salah satu dari pemenang yang mendapatkan hadiah jalan-jalan ke luar negeri berprofesi sebagai tukang sayur dan sekaligus pembuat tempe.

Bukan profesinya yang membuat saya terdiam, tetapi fakta lainnya bahwa dia belum pernah bepergian ke luar negeri bahkan belum pernah naik pesawat terbang.

Saya teringat ketika saya sedang membuat kriteria penarikan undian, salah seorang rekan menyarankan untuk berkonsentrasi kepada mereka yang memiliki nomor undian terbanyak, supaya tidak ada hal-hal yang tak terduga. Ketika itu saya menolak mentah-mentah ide tersebut, bagi saya yang namanya undian ya harus bersifat acak dan tak terduga.

Dan yang tak terduga inilah yang kemudian membuat saya harus membuat penawaran baru tanpa terkesan seperti merendahkan keberadaan mereka.

Rasanya dunia seperti berhenti berputar ketika saya menawarkan Bali sebagai kota pengganti jalan-jalan ke salah satu negara yang bahasa dan mata uangnya saja bisa membuat orang yang mampu berbahasa Inggris menjadi bisu.

Hanya kearifannya sajalah yang mampu membuat dunia di sekeliling saya berputar kembali, ketika ia menyatakan setuju dengan pilihan pengganti yang saya tawarkan.

“Kalau bisa ditukar dengan Bali, saya senang sekali. Lebih pas bagi saya jalan-jalan ke Bali,” katanya

Kearifannya bahwa keberuntungannya adalah bisa bertemu dengan si pemilik program, menawarkan acara yang hendak dirintisnya di kampung halamannya. Kearifannya bahwa uang yang harus dikeluarkannya untuk pembuatan paspor tidak sebanding dengan uang saku yang dapat dipergunakan untuk keperluan lain.

Kearifannya bahwa kadang keberuntungan datang tidak pada orang yang tepat, tetapi kegembiraan bahwa ia beruntung adalah sesuatu yang tidak ternilai.

Hari itu saya mendapat pengalaman baru, bahwa harga keberuntungan tidak sama bagi setiap orang.
Posting Komentar