Sabtu, 07 Februari 2009

Ketika Makam pun Tergusur ...


Beberapa hari yang lalu ada satu buah pesan masuk di ponsel saya, pengirimnya adik saya, bunyinya “Gw lihat di TV, katanya ada 3.500 kuburan di Menteng Pulo mau digusur. Oma sama Bokap gimana ?”

Berhubung akhir-akhir ini sedang musim hujan dan walaupun jarak kuburan tersebut cukup dekat dari kantor, rasanya saya malas sekali untuk pergi ke kantor pemakaman umum di Menteng Pulo. Bukan apa-apa, macetnya itu lho yang tidak tertahankan.

Saya pun tenang-tenang saja, sampai 2 hari yang lalu, sepupu saya mengirimkan pesan ke ponsel saya, dengan jenis pertanyaan yang sama. Tiba-tiba saya jadi teringat penggalan kisah di bukunya Budiman Hakim, “Sex After Dugem, Catatan Seorang Copy Writer”, ketika ia bercerita tentang pengalaman dirinya ketika makam almarhum ayahnya digusur dari Karet ke Tanah Kusir. Bagaimana perasaannya ketika penggalian makam almarhum ayahnya dilakukan dan masalah yang timbul sesudah makamnya dipindahkan ke tempat yang ditentukan oleh pemerintah.

Budiman Hakim saja, yang almarhum ayahnya sudah meninggal selama 8 tahun, masih merasa sedih. Bagaimana saya yang 1 tahun pun belum.

Budiman Hakim miris hatinya melihat tulang-belulang almarhum ayahnya;

Saya ? Membayangkannya saja pun saya tidak sanggup, apalagi saya harus memindahkan makam 2 orang yang sangat dekat di hati saya, nenek tercinta saya, yang memanjakan saya seperti seorang putri raja dan ayah saya, yang kepergiannya pun hingga kini masih saya tangisi.

Belum melangkah ke kantor pemakaman umum pun untuk menanyakan kebenaran berita itu lutut saya sudah lunglai; entah bagaimana nanti.

Saat ini saya hanya sanggup mengirimkan pesan balasan ke sepupu saya, “Kalau Oma dan Bokap harus digusur, saya bawa saja ke Menado, dikubur di makam keluarga di Tondano saja.”

Memang jaraknya jauh sekali, tetapi minimal saudara-saudara saya ada di sana. Mungkin juga tidak ada yang berkunjung, tetapi setidaknya kemungkinan digusur tidak ada, karena pemerintah tidak memiliki hak atas tanah itu. Di samping itu keinginan ayah saya untuk dimakamkan di Menado tercapai dan nenek tercinta saya bisa kembali ke tanah kelahirannya, berdampingan dengan kakek saya.

Setidaknya, jika anak dan cucu saya pulang ke kampung halaman ibunya, mereka masih bisa melihat makam nenek moyangnya.

Bagaimana kalau saya meninggal nanti. Rasanya saya berpikir logis saja, daripada menyusahkan mereka, harus mencari lahan untuk kemudian digusur lagi, menyaksikan upacara penggalian jasad saya, lebih baik saya dibakar saja dan abunya dilarung di laut.

Beberapa tahun yang lampau saat suami sepupu saya yang beragama Hindu Bali meninggal, ada upacara Pelebon. Saya masih ingat sepupu saya menceritakan makna dari Upacara Pelebon itu, bahwa ketika meninggal tugas manusia di dunia ini sudah selesai dan ketika jiwanya berangkat menghadap sang Pencipta, maka abunya pun di larung ke laut, sehingga tidak ada lagi yang tersisa di dunia ini dan yang ditinggalkan dapat melanjutkan hidupnya.

Arti dari upacara Pelebon itu begitu melekat di hati saya.

Mungkin saya salah, tetapi bagi saya itu jalan terbaik. Hidup mereka akan lebih ringan. Makan hanyalah alat perantara mereka mengenang saya. Tetapi sesungguhnya kenangan mereka akan saya bukanlah karena melihat "alat perantara" itu, yang membuat keterikatan mereka akan diri saya adalah kenangan mereka tentang saya yangterus hidup di dalam hati mereka.

Jadi ketika waktunya tiba, saya memilih makna dari Upacara Pelebon. Semuanya kembali lagi kepada Sang Pencipta, tak ada yang tersisa di dunia ini, dan yang ditinggalkan pun dapat melanjutkan hidupnya dengan ringan ....
Posting Komentar