Sabtu, 25 April 2009

Menyimak vs Mendengarkan


Hari Minggu lalu, di akhir khotbah tiba-tiba si Romo yang sudah cukup tua itu menyelipkan suatu cerita menarik.

Dia bercerita dengan miris tentang kejadian hari Sabtu malam, ketika ada pelantikan kaum muda di gereja tempat saya beribadah. Pada saat itu, sang Ketua berbicara dengan mike yang nyaris ditelan sementara para anggota sibuk dengan urusan mereka sendiri. Atau dengan kalimat yang lebih ringkas, tidak ada yang mendengarkan.

Melihat kejadian itu, si Romo bertanya-tanya dalam hati, jika kaum muda saja tidak mempunyai kemampuan untuk mendengarkan bagaimana jadinya bangsa kita di kemudian hari. Bagaimana mau berbuat sesuatu yang nyata jika “mendengarkan” saja tidak bisa.

Sebenarnya sih bukan “Mendengarkan” tetapi “Menyimak” atau kalau dalam bahasa inggris “Hearing” versus “Listening”, Romo ...

Mendengarkan khotbah Minggu pagi itu, saya jadi teringat training “Service Excellence” mengenai “Mendengarkan” yang entah sudah berapa kali saya nyanyikan. Bahkan permainan “mendengarkan” itu pun setiap kali saya mainkan.

Orang Muda yang dikritik si Romo itu rata-rata seumuran anak SMA – Kuliahan, nah mereka yang saya training umurnya masuk kategori “Dewasa Muda” atau “First Jobber”, tetapi urusan “Mendengarkan” sama saja dengan apa yang dimiriskan si Romo.

Saya masih ingat ketika saya bertanya kepada peserta training apa bedanya Mendengarkan dengan Menyimak, mereka selalu terhenyak, sebelum akhirnya berhasil menjawab dengan benar. Itu pun tidak semua, komposisinya selalu sama, hanya sekitar 1 atau 2 orang, maksimal 3 orang.

Padahal kemampuan mendengarkan adalah salah satu hal yang paling esensial untuk pekerjaan customer service .. ; bukannya yang lain tidak, tetapi untuk urusan “mendengarkan” bagi pekerjaan yang “moment of truth”nya hitungan detik, urusannya bisa panjang.

Balik ke komentar Romo mengenai apa jadinya bangsa ini jika mereka tidak memiliki kemampuan mendengarkan, saya jadi terdiam. Saya jadi teringat para Politisi dan Petinggi bangsa ini yang sekarang sedang sibuk protes soal Pemilu kemarin.

Komentar saya pun sama dengan Romo, sampai kapan sih kita akan seperti ini ? Permasalahan soal Pemilu harusnya tidak perlu terjadi kalau saja mereka yang berkepentingan melaksanakan Pemilu ini menjadi lancar, adil dan jujur, bersedia mendengarkan keluhan-keluhan yang sudah dilontarkan di surat kabar. Sementara mereka yang protes, juga tidak bersedia mendengarkan permasalahan apa yang dihadapi si pelaksana.

Saya pun tidak habis pikir, kenapa ya ketika seseorang menduduki suatu jabatan dan mempunyai kewenangan, pada umumnya mereka mendadak kehilangan “telinganya” ? Apakah karena “power sindrom” ? atau karena mendadak jadi yang paling pintar sendiri ?

Mendengarkan itu mudah koq.

Kalau anak-anak atau remaja mendadak kehilangan “telinganya”, ya wajar-wajar saja, di usia mereka “Mendengarkan” adalah barang langka. Tetapi untuk mereka yang sudah dewasa rasanya sudah bukan barang langka lagi.

Balik ke para politisi yang memprotes peroleh suara mereka. Kenapa ya mereka tidak mencoba mawas diri dan mendengarkan bahwa para pemilih yang dengan senang hati mencontreng “Gol Put” itu hampir 50 %. Jadi, wajar-wajar saja jika suara mereka juga mengalami penyusutan.

Lagipula jika saja mereka mau melihat dan mendengar, siapa pun juga tahu bahwa peserta kampanye, orangnya ya itu-itu saja. Siapa sih yang tidak ingin dibayar. Lumayan kan dalam jangka waktu 2 minggu, dapat uang jajan tambahan ?

Sayang … jika politisi itu tidak menggunakan kemampuan mereka untuk “Menyimak” tentunya protes mereka bisa lebih terarah.

Mungkin saya harus bilang ke Romo, bahwa mendengarkan itu bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi perlu latihan yang terus-menerus.

Lalu kewajiban siapakah memberikan pelatihan mendengarkan itu ? Hehehe...tentu saja kewajiban orang tua dan kewajiban diri sendiri untuk mawas diri ....
Posting Komentar