Sabtu, 16 Mei 2009

Zeppelin vs Jeppelin


Pada suatu sore, ketika kami sedang bertukar-cerita, tiba-tiba anak tercinta saya mengeluhkan rasa kesalnya karena guru IPA-nya menyalahkan jawaban kuis yang diberikan oleh gurunya.

Menurut si kecil, kesalahan bukan terletak pada dirinya melainkan pada sang guru yang tidak dapat melafalkan huruf Z dengan baik, sehingga se-isi kelas salah mencatat nama penemu balon gas.

Saat itu si guru sedang mendiktekan catatan IPA mengenai para penemu, salah satunya penemu balon gas. Ketika itu, menurut si kecil, sang Guru melafalkan nama si penemu balon udara dan ditangkap oleh semua, sebagai Jeppelin dan sebagai anak yang patuh pada gurunya, dengan tenangnya mereka mencatat sesuai lafal, “JEPPELIN”.

Hingga tibalah saat kuis saat sang guru hendak mengecek “pendengaran” dan “perhatian” yang diberikan murid-murid kecilnya. Sang guru dengan lantangnya bertanya, siapa penemu balon udara, dan sesuai pendengaran dan perhatian para murid, mereka menulis “Jeppelin”.

Tentu saja bukan kuis namanya kalau tidak diperiksa saat itu juga dan tentu saja pemeriksaan sampailah kepada soal siapa penemu balon udara. Para murid kecil itu tidak menyangka ketika sang guru menyalahkan mereka. Menurut si Pak Guru IPA itu, jawaban yang benar adalah “Zepellin” bukan “Jepelin”.

Kontan si murid-murid kecil itu protes, mereka bersikeras Pak Guru tidak bisa sewenang-wenang menyalahkan mereka. Kata mereka, “Pak Guru yang bener dong kalau ngomong. Zeppelin dengan Jeppelin kan beda. Z itu lafalnya beda dengan “J” a.k.a. “DJ”.

Si kecil pun protes ke saya, katanya “Pak guru itu koq aneh ya, memangnya jaman dulu orang-orang itu tidak bisa bilang “Z” ya ?

Saya pun tertawa miris karena si kecil lupa, paman dan bibinya” dari pihak ayahnya sampai sekarang pun kalau memanggil anaknya “Redja” walupun tertulis “Reza”. Sampai si Reza sudah kuliah, semua memanggil si Reza dengan “Eja”.

Lebih mirisnya lagi karena saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anak saya.

Untung suami saya bisa menjelaskan bahwa kemungkinan besar karena dalam bahasa daerah, lafal “Z” itu nyaris tidak pernah disebutkan dan walaupun saat ini sudah zaman modern, tetap saja bahasa daerah tidak pernah kehilangan esensinya. Akibatnya, generasi saya pun tidak bisa menghilangkan kebiasaan mereka mengganti “Z” menjadi “J” dan parahnya lagi itu diturunkan ke generasi anak saya.

Saya jadi teringat ketika zaman kuliah Bahasa Perancis dulu, bagaimana si dosen setengah hidup harus mengajarkan mahasiswanya yang berasal dari suku X untuk melafalkan “Zye” untuk “Je” atau saya dalam bahasa Perancis. Lucunya, bahkan ketika saya mengikuti kursus Bahasa Perancis pun beberapa tahun kemudian, salah seorang peserta kursus dari suku X itu tetap masih mengalami masalah yang sama.

Hingga kini saya masih terngiang-ngiang suara si dosen dan guru kursus Bahasa Perancis saya yang dengan gigihnya mengajarkan teman saya untuk mengucapkan “Zye” .

Akhirnya saya pun menutup kuliah suami saya dengan menyampaikan wejangan saya, “Orang lain boleh tidak dapat menyampaikan lafalnya dengan baik, tetapi karena kamu tahu, kamu tidak boleh ikut-ikutan dengan mereka yang tidak dapat melafalkannya dengan baik.”
Posting Komentar