Jumat, 01 Januari 2010

Lembaran Baru ?


Saya teringat pertanyaan salah seorang teman saya yang ditanyakan kepada saya beberapa hari menjelang datangnya tahun 2010.

"Lima tahun dari hari ini, bagaimana kamu melihat hidupmu ?’’ tanyanya

Saya tergelak, ”Lima tahun dari sekarang ? Dari hari ini ? Wah itu panjang sekali ceritanya, karena hingga hari ini, detik ini, saya masih menyimpan keinginan saya yang saya tulis dengan tinta darah sejak tahun 2006 bahkan ada yang saya tulis sejak saya masih mahasiswa.”

“Wah … akan panjang sekali ceritanya. Tapi saya senang bertemu dengan orang yang tahu apa yang akan dicapainya 5 tahun ke depan. Saya malas kalau bertemu teman dan saya bertanya hal yang sama, kemudian bingung karena belum sempat berpikir.”katanya kemudian

Perbincangan kecil kami kemudian beralih ke hal lain, karena saat itu kami sepakat untuk melanjutkan diskusi di lain kesempatan, karena perbincangan kecil tentang topik cita-cita hidup bukanlah perbincangan di tengah-tengah kemacetan lalu lintas.

Dan ketika kami memutuskan untuk menutup telepon masing-masing, saya pun teringat kalimat guru fotografi saya, “Apa yang kamu lihat dengan mata telanjang belum tentu sama dengan hasil foto yang kamu ambil. Ada bagian-bagian lain yang tersembunyi yang tanpa kamu sadari mempengaruhi hasil foto kamu. Untuk mendapatkan momen yang tepat, kamu harus sabar menunggu.”

Melihat perjalanan hidup saya sepanjang tahun 2009, rasanya hidup saya kali ini sangat berwarna.

Beberapa resolusi saya yang saya tuliskan dengan semangat 45 di
www.43things.com, agar website tersebut selalu mengingatkan saya untuk menghidupkan cita-cita tersebut, tiba-tiba bisa terwujud dengan caranya yang ajaib.

Cita-cita yang sangat sederhana, cita-cita yang ternyata memampukan diri saya menghadapi semua kepahitan yang terjadi selama 1 tahun terakhir ini. Cita-cita yang jauh dari sisi finansial, tetapi cita-cita yang mampu mengembalikan diri saya yang dulu atau lebih tepatnya ”Past Me” menurut website 43things.

Hidup ini jika dilihat dengan mata telanjang, apalagi dengan kepahitan didalamnya, terlihat akan sangat pahit. Tetapi tanpa kita sadari ada banyak warna yang ternyata membuat penggalan kehidupan yang pahit itu menjadi indah. Warna-warna yang mungkin selama ini tersembunyi ketika kita melihatnya dengan mata telanjang.

Pagi ini di tengah semilirnya angin pagi yang membebaskan helaian anak rambut saya, saat saya berlutut bertemu dengan Sang Pencipta, saya hanya mampu berkata, ”Terima kasih Tuhan, karena memberikan saya 1 tahun hidup yang penuh warna dan kesempatan untuk menapaki lembaran baru.”

Saya tidak mampu meminta, entah kenapa ada sesuatu yang menahan saya.



Posting Komentar