Selasa, 27 Juli 2010

Dear SBY


Menarik sekali membaca kicauan burung yang dialamatkan kepada SBY walaupun SBY yang dimaksud disini adalah SBY Bayangan mengingat Bapak Presiden kita tidak mempunyai akun di twitter.

Apalagi jika yang menyampaikan kicauannya adalah generasi masa kini. Kicauan mereka selalu membuat saya terhenyak dan sekaligus tertawa. Terhenyak karena kagum dengan kekritisan mereka, tertawa karena keterusterangan mereka.

Bayangkan, mereka dengan polosnya berkicau soal Ujian Negara, soal listrik yang mati tepat ketika mereka sedang belajar, soal pelajaran bahasa Sunda, lebih tepatnya persoalan yang berkaitan dengan diri dan kehidupan di sekitar mereka.

Contohnya, kemarin ada kicauan menarik, bunyinya “Dear SBY, Pak tolong pelajaran bahasa Sunda dihilangkan, sumpah saya nggak ngerti .. “

Bagi mereka yang bertempat-tinggal di Jakarta, kurikulum untuk muatan lokalnya bukanlah pelajaran Bahasa Betawi, tetapi bagi mereka yang bertempat-tinggal di daerah perbatasan Jakarta – Jawa Barat, seperti Bekasi misalnya, kurikulum muatan lokalnya adalah pelajaran Bahasa Sunda.

Bisa dibayangkan bukan, bagaimana si anak harus berusaha keras agar tidak mendapat nilai merah untuk pelajaran Bahasa Sunda, jika sang anak lahir dari keluarga yang tidak berasal dari daerah Jawa Barat atau yang sehari-harinya tidak pernah berbahasa Sunda.

Atau hari ini, kicauan menarik lainnya “Dear SBY, masa udah 9 jam sekolah masih aja dikasih PR ?” atau tentang mendapatkan buku gratis “Dear SBY, pak presiden buku sekolah diganti dengan iBook dong”

Benar-benar ide cemerlang bukan ? Kalau dipikir secara mendalam, benar juga kicauannya, sudah sekolah 9 jam lamanya, lalu masih harus mengerjakan PR, sementara jarak dari sekolah ke rumah minimal harus ditempuh selama 30 menit, kapan dia akan beristirahat dan menggali ilmu dari kehidupan di luar sekolah mereka ?

Bukan itu saja, mengunduh buku secara gratis dan minta seluruh anak Indonesia diberi iPad gratis – terlepas dari idenya - toleransi serta pengamatan sosial mereka cukup diacungi jempol.

Sebagai orang tua yang harus membelikan buku-buku pelajaran setiap tahun ajaran baru, terasa sekali mahalnya buku-buku pelajaran mereka. Saya tidak membayangkan bagaimana nasib anak-anak yang bersekolah saja susah, apalagi harus membeli buku. Mengunduh buku pun tidak mudah, apalagi di tempat terpencil yang jaringan internetnya saja masih byar pet, tetapi setidaknya para anak itu sudah mendapatkan ide bagaimana mendapatkan buku gratis.

Seringkali kita sebagai orang tua menyampaikan keluhannya tentang anak-anak jaman sekarang, anak-anak yang dengan berani menentang orang tuanya, menyuarakan protes mereka untuk sesuatu yang menurut nalar mereka tidak benar.

Namun sebenarnya, sudah sepatutnya kita tersenyum bangga; bangga bahwa mereka berani menjadi diri mereka sendiri, bangga bahwa mereka berani menyampaikan pemikiran mereka, bangga bahwa ide mereka cemerlang.

Jadi, ketika mereka membalas teguran kita, seharusnya yang kita lihat adalah caranya dan bukan isinya. Cara atau tindakan merekalah yang harus kita luruskan – jika cara tersebut menyimpang dari etika sopan-santun.

Karena ketika mereka beranjak dewasa, saat dimana mereka harus menyuarakan sikap mereka, maka tindakan atau cara mereka dalam berpendapatlah yang membuat mereka masuk dalam kategori orang yang santun dan berbudi.

Anak Indonesia – Selamat Hari Anak
Posting Komentar