Jumat, 03 September 2010

Di Suatu Musim

Pagi di Bali selalu tidak sama dengan Jakarta, pagi di Bali selalu pagi yang magis, yang mampu membawa aku bertemu dengan hembusan nafas Tuhan. Ya, hembusan nafas Tuhan, karena setiap kali aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju pantai, Tuhan selalu menyambutku dengan hamparan permadani bunga kamboja Bali di atas hijaunya rerumputan bersaput embun, menciumku lewat ombak yang berkejaran, memelukku dengan langit birunya, ujarmu.

Pagi ini, aku mencoba untuk bertemu dengan hembusan nafas Tuhanmu Anya. Entah apa yang kamu lihat Anya. Aku lewat di jalan setapak yang selalu kamu lewati, aku memandang langit biru, bertemu dengan sang anjing dan ombak, tapi tetap saja aku tidak bertemu dengan hembusan nafas Tuhanmu.

Mungkin mataku memang berbeda dengan matamu, Anya. Atau mungkin karena Tuhan sudah lama memendam cinta kepadamu, sehingga Ia selalu memberikan hembusan cintanya padamu. Ah betapa aku merindukan matamu, merindukan dirimu, sangat.

Jangan katakan aku tidak berusaha Anya, aku berusaha sekuat tenaga, berusaha menghilangkan bayangmu dari kehidupanku, berusaha menepis rasa itu, tetapi semakin kuat aku berusaha, semakin kuat pula rasa dan bayangan itu menghampiriku.

Mungkin jika aku melanggar janjiku kepadamu untuk tidak menemuimu, mungkin tidak seperih ini rasa kehilanganku Anya. Mungkin jika aku berusaha lebih gigih lagi untuk mendapatkanmu, aku masih bisa membisikkan betapa aku berterimakasih atas cintamu, betapa aku tidak ingin melihatmu menderita.

Tapi terlepas dari segalanya, aku tahu jauh di sudut hatimu, ada sepotong ruang yang kau sisakan untukku, ruang tempat engkau menyimpan hari-hari indah kita sebelum rasa cinta itu datang menggangu.

Aku memang salah Anya, salah karena berusaha mencuri dirimu, salah karena tetap mempertahankan rasa cinta itu, salah karena tidak menuruti kehendakmu untuk menepis rasa indah itu, salah karena tidak mampu membuang mimpiku untuk hidup bersamamu.

Aku bahkan marah kepada nafas Tuhanmu Anya, marah karena Ia tidak mendengarkan doa yang kulantunkan setiap hari, di setiap helaan nafasku, meminta-Nya memberiku kesempatan untuk memilikimu, walau hanya sesaat.

Anya, kamu masih ingat pembicaraan kita tentang pesanmu jika kau dipanggil Tuhan ? Katamu jika aku mencintaimu, tidak perduli aku ada di belahan dunia yang berbeda denganmu, aku harus datang dan melaksanakannya ?

Pagi ini aku datang Anya, di sela rasa marahku, di sela rasa rindu yang memuncak, di sela rasa kehilangan dirimu, hanya untuk memenuhi janjiku melarungmu di laut biru di pulau dimana waktu berhenti berputar dan berharap engkau melihatku dari balik awan biru itu, betapa diriku mencintaimu, amat sangat.

Terima kasih karena mengizinkan aku untuk memenuhi janjiku. Peluk aku Anya, peluk aku lewat hembusan angin, saat aku menaburkanmu untuk bersatu dengan nafas Tuhanmu.


Catatan :
Postingan ini dibuat untuk http://ceritaeka.com/
Posting Komentar