Selasa, 14 Januari 2014

Team Building vs Budaya Perusahaan

Setelah bekerja di berbagai industri dan mengalami 'team building' belasan kali dengan berbagai tema yang ujung2nya agar tercipta kerjasama team yang solid, entah kenapa kali ini saya mendadak apatis terhadap haru biru seperti itu.

Dulu, saat 'team building' masih dalam hitungan di bawah 5 kali, saya percaya bahwa 'team building' mampu membawa perubahan terhadap kerjasama antar departemen, rekan-rekan sekerja bisa saling menghargai dan semua bahu-membahu berusaha mencapai tujuan mulia perusahaan.

Tetapi setelah hitungan keikutsertaan saya di atas 5 kali, pelan-pelan kepercayaan saya terhadap acara sejenis luntur.

Bagaimana mau percaya, wong teman yang sebelum 'team building' suka pakai gaya kodok aka menendang orang supaya dia bisa naik jabatan, setelah acara itu tetap saja dengan gaya kodoknya.

Teman yang satunya lagi, tingkat egoismenya juga tidak mengalami perubahan, sikap asertifnya datar-datar saja. 

Si kelompok eksklusif, tetap saja tidak mau membuka diri untuk menerima siapa saja yang hendak bergabung

Hanya segelintir orang yang berusaha merubah diri sesuai pelajaran yang diterima, dan itupun orang-orang yang notabene dari awal masuk ke perusahaan tersebut tidak punya agenda tertentu.

Sebenarnya, punya kelompok sendiri, sah-sah saja, karena setidaknya kelompok kita bisa menjadi penyemangat di saat rasa malas atau kecewa atau sedih menimpa nasib kita.

Punya ambisi pribadi, itu harus. Soalnya kalau tidak punya ambisi pribadi, bisa-bisa kita jadi dipandang tidak berpretasi atau orang apatis. 

Tidak ada yang salah dengan itu, apalagi kalau kita melihat ke belakang, berteman secara berkelompok sudah dimulai sejak kecil, sejak kita duduk di bangku taman kanak-kanak.

Lalu kenapa sekarang menjadi salah dan harus diperlukan 'team building' agar kerjasama tim dapat terjalin sehingga ujung-ujungnya tujuan perusahaan tercapai.

Kalau direnungkan lagi, mungkin karena perusahaan yang butuh 'team building' tidak sadar budaya yang dimiliki dan diterapkan di perusahaannya sendiri.

Sehingga ketika rekrutmen dilakukan yang dicari hanyalah orang yang sesuai dengan selera pimpinan perusahaan atau selera rekruter.

Para petinggi perusahaan yang seperti itu mungkin atau tidak tahu bahwa memiliki karyawan dengan budaya yang sama setidaknya bisa memperkecil kesenjangan akibat karakter manusia yang berbeda satu dengan lainnya.

Saya ingat perbincangan saya dengan sahabat saya dulu, ketika kami membahas soal kerjasama tim.

Katanya, "soal orang yang ambisius, punya gaya kodok, itu ada di setiap perusahaan, tetapi kenapa perusahaan dimana kita bekerja bisa kompak, penyebabnya karena dengan sadar HRD-nya saat merekrut mencari personil yang memiliki budaya yang sama, tingkat ekonomi yang tidak terlalu jauh kesenjangannya, disamping tingkat pendidikannya."

Dan saya pun teringat mantan Direktur Marketing saya di perusahaan terdahulu, "Jangan lupa ya, cari orang yang punya budaya, tingkat ekonomi dan pendidikan yang sama dengan tim kita."

Jadi, kembali lagi soal acara team building, saya tetap apatis, apalagi karena tidak ada yang berubah.

Teman yang saat satu bis menjadi orang yang tanah dan bisa bercerita panjang lebar, saat bertemu kembali di kantor, melihat saya seperti baru kenal.





1 komentar:

Therry mengatakan...

Yeah, same here, apatis. Apalagi dengan model senior yang sudah bekerja lama dan berpikir orang akan secara otomatis respek dengan dia karena dia senior. Terus pas team building bukannya kerja sama malah ngolok2 sesama rekan kerja. Sayang orang macam ini tidak bisa di genocide saja.