Senin, 24 Februari 2014

Perusahaan dengan budaya Kodok Melompat

Pernah melihat katak atau kodok melompat ? Kedua kakinya mencari pijakan sebagai ancang-ancang sebelum melompat jauh, dengan kata lain, si katak berhasil melejit sementara tempatnya berpijak tetap ditempatnya.

Saya pernah mendengar perumpaan ini ketika salah seorang rekan saya memberikan pelatihan tentang 'Team Work". Kalimat tepatnya saya lupa, tetapi intinya seperti ini, 'Bersaing untuk peningkatan karir itu penting, tetapi jangan sampai menghalalkan segala cara, mencari keuntungan bagi diri sendiri dan mengabaikan kerjasama tim demi peningkatan karir.'

Kalau dipikir-pikir, dimana pun kita bekerja, mereka yang masuk dalam kategori jenis katak ini selalu ada, dalam setiap jenjang, baik dari mereka yang baru meniti karir hingga mereka yang sudah masuk kategori mid senior level ke atas. Tinggal dipilih jenis operandi mereka, masing-masing punya gaya khasnya sendiri-sendiri.

Sebenarnya, sah-sah saja mereka memilih gaya katak lompat ini, selama si pemimpin yang melihat pertunjukan gaya katak melompat ini bisa cermat melihat dan tidak terpana melihat lompatan si katak. Namun, karena pemimpin juga manusia, yang kadangkala juga bisa silau, lompatan si katak kadang tidak terlihat.

Sepanjang perjalanan saya bekerja di berbagi perusahaan - lokal maupun multinasional - pertemuan saya dengan mereka yang memiliki lompatan katak semakin sering saat saya menduduki posisi manajerial.

Saya nyaris tidak dapat mendeteksi modus operandi mereka - bahkan saya sendiri pun tertipu oleh keahlian mereka yang luwes itu. Hingga suatu peristiwa yang hampir menyeret saya ke dalam lubang kejatuhan, menyadarkan saya bahwa anak buah saya ini tidak semanis yang saya duga.

Sejak peristiwa itu, saya benar-benar menjaga 'hati' agar tidak terperosok dan mengakrabkan diri dengan rekan-rekan sejawat.

Namun, berdasarkan pengalaman pula, budaya katak melompat ini tidak pernah menjadi budaya perusahaan, karena pelakunya tidak memiliki power yang luar biasa, masih ada sistem lainnya yang bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut yang mementahkan kekuatan si pelaku katak melompat tadi.

Hingga tibalah saya di suatu perusahaan multinasional, yang justru memiliki budaya katak melompat untuk bertahan hidup. Anehnya, budaya tersebut tidak memilih-milih strata, dari level yang paling bawah sampai seniornya, hampir semua menerapkan budaya katak tadi.

Hanya mereka yang sanggup menerapkan budaya katak tadilah yang bertahan hidup, sesulit apa pun tekanan yang mereka miliki. Hebatnya lagi, para karyawan baru pun - terutama mereka yang memiliki gen katak melompat tadi - langsung bisa mendeteksi cara survival itu.

Mereka yang menerapkan budaya katak tersebut tidak secara otomatis langsung naik pangkat, ada yang tetap menempati posisinya, ada yang naik pangkat.

Mereka yang tidak menerapkan budaya katak, secara otomatis berada dalam kangkangan si katak, tetap berada di kotaknya, tanpa ada kesempatan untuk 'naik' karena sudah terlanjut masuk dalam 'cap tidak kompeten, tidak bisa berkembang, kemampuannya ya hanya sampai disitu'.

Kenyataan yang mampu membuat saya seperti disetrum jutaan watt listrik dan membuat saya bertanya-tanya, fenomena apakah ini.

Saya pun kemudian melakukan pengamatan dengan lebih mendalam, memperhatikan setiap intrik, mendengarkan setiap cerita, dan akhirnya memetik kesimpulan, budaya tersebut memang sengaja diterapkan si pemimpin perusahaan, agar perusahaannya tetap jaya dan agar tidak ada yang sanggup menggeser kedudukan si pemimpin.

Kekuatan super power si pemimpin rupanya telah dibangun sejak perusahaan tersebut masih berstatus 'lokal', sehingga tidak aneh jika tidak ada satupun orang yang sanggup melawannya, tidak dulu, tidak pula sekarang saat perusahaan tersebut sudah berganti wajah menjadi perusahaan multi nasional.

Tidak heran peusahaan tersebut memiliki tingkat 'turn over' yang sangat tinggi, bukan karena paketnya yang kurang menarik, tetapi lebih karena rasa aman dan penghargaan terhadap kinerja, tidak tersedia.

Akhirnya saya berkesimpulan bahwa sifat inferioritas si pemimpin perusahaan lah yang menyebabkan budaya katak melompat berkembang biak.

Sifat inferioritas ini semakin berurat-berakar karena perusahaa ini pun tidak memiliki nilai-nilai yang menjunjung tinggi manusia pekerjanya dan semakin kuat lagi ketika perusahaan multi nasional yang mengakuisisinya tidak berani bertindak karena, lagi-lagi, pertimbangan bisnis.

Jika ingin melihat komedi 'menjilat pantat atasan' datang saja ke meeting yang dihadiri oleh rekan sejawat dari regional dan si pemimpin. Begitu si pemimpin tidak kelihatan batang hidungnya, mereka sibuk mengejek si pemimpin budaya katak tadi, tetapi begitu dia menampakkan batang hidungnya di ruang meeting, senyum manis pun bertebaran seolah-olah mereka berhadapan dengan Sang Dewi.

Kenyataan yang mengharukan dan menyedihkan, karena tanpa disadari, mereka yang waras dan tidak memiliki minat menerapkan gaya katak tadi, tidak akan memberikan rekomendasi teman mereka yang berpotensi untuk bergabung di perusahaan itu.

Menjadi yang terpinggirkan tidak berarti kehilangan akal sehat ....

Posting Komentar