Senin, 17 Maret 2014

Parkir Khusus Perempuan

Akhir-akhir ini marak disediakan tempat parkir khusus bagi pengemudi perempuan, Fasilitas yang beberapa tahun lalu bahkan oleh para perempuan tidak pernah terpikirkan akan ada.

Saya tidak tahu siapa yang memulai menyediakan tempat parkir khusus untuk perempuan, tetapi siapa pun itu, idenya patut untuk dihargai. Minimal dengan disediakannya tempat parkir khusus itu, setidaknya para pengemudi wanita yang terpaksa pulang larut malam, bisa merasa aman.

Tapi sejalan dengan fasilitas yang menguntungkan perempuan, di satu sisi fasilitas tersebut tampaknya menimbulkan rasa iri kaum pria.

Buktinya, semakin banyak kaum pria yang mendadak berubah jenis kelaminnya menjadi perempuan demi memperebutkan sepotong lahan parkir. Dan mendadak belagak acuh ketika tertangkap basah oleh kaum perempuan.

Bagi mereka, daripada harus berputar-putar menghabiskan bensin dan tenaga, lebih baik menjadi perempuan sejenak.

Ironis tapi nyata.

Namun itu belum seberapa dibandingkan dengan peraturan yang setengah hati dijalankan demi sepotong pengakuan.

Gedung Menara Jamsostek di jalan Gatot Subroto, salah satu contohnya. Entah ingin sekedar dianggap sebagai gedung yang mengikuti trend gedung perkantoran lainnya atau ingin berbela-rasa terhadap kaum perempuan, manajemen gedung tersebut menetapkan memberi sepertiga lahan parkirnya khusus bagi kaum perempuan.

Usaha yang patut dihargai sebenarnya, jika dilihat dari kebaikan hati memberikan  sepertiga dari satu lantai, tetapi jika dilihat dari apa yang terjadi dari 2/3 area lantai tersebut, tetap terasa sebagai keputusan setengah hati.

Mengapa setengah hati ? Karena  2/3 dari lantai yang dikhususkan sebagai area parkir tersebut menjadi area mushola yang pada hari jumat, sepertiga lahan area parkir khusus perempuan mendadak hilang sontak, direlakan menjadi area sholat jumat.

Sebenarnya sih - sebagai kaum perempuan yang merasa mendadak didiskriminasi oleh perlakuan setengah hati itu - tidak apa-apa juga pengelola gedung menerapkan hal itu, tetapi mbok ya pada saat area itu berubah mendadak jadi arena sholat jumat, ya jangan goler-goleran lah para kaum pria tadi.

Lagipula, kalau ingin menjadikan area tersebut sebagai area sholat atau mushola, pilihlah lantai yang memang diperuntukkan khusus untuk kaum pria.

Tindakan setengah hati tadi menunjukkan betapa perempuan tetap dianggap sebagai kaum marjinal, kaum yang tidak layak mendapat perlakuan sebanding dengan kaum pria. Perlakuan khusus yang diberikan pun hanya sekedar mengikuti trend - agar tidak dianggap sebagai gedung yang ketinggalan jaman.

Di satu gedung perkantoran yang menjadi satu dengan mall, khusus di lantai parkir perkantorannya disediakan parkir khusus kaum perempuan sementara musholanya berada di area parkir lantai yang berbeda, dimana jika hari Jumat tiba maka yang mendadak kehilangan hak parkir tentu saja kaum prianya.

Sebenarnya ada atau tidak area parkir khusus untuk perempuan tidak menjadi masalah bagi saya, karena sejak bekerja di kantor terdahulu pun, jarang sekali saya menggunakan area khusus perempuan. Bukan karena sombong, tetapi karena tanpa harus menggunakan area khusus tersebut, kedatangan saya yang selalu lebih awal dari yang lain, membuat saya selalu mendapatkan spot yang terbaik.

Dan bagi saya, jika memang ingin memberi tempat parkir khusus untuk perempuan, berikanlah dengan ikhlas, jangan setengah hati.

Posting Komentar