Sabtu, 30 Agustus 2014

Dunia Baru Menjadi Konsultan

Sejak saya mulai bisa bermimpi untuk menjadi 'seseorang', saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang konsultan. Bagaimana bisa bermimpi, worng kata 'konsultan' itu pun baru saya dengar dan saya pahami saat bank pemerintah dimana saya bekerja menggunakan konsultan ternama untuk perubahan besar-besaran yang hendak mereka lakukan. Saat itu bagi saya, konsultan itu tidak lebih dari si kepo alias si tukang ingin tahu.

Betapa tidak, saat saya sedang sibuk-sibuknya bekerja, si konsultan bisa tiba-tiba datang dan meminta waktu saya untuk bertanya ini-itu. Atau meminta saya memvalidasi rangkaian proses kerja dari hulu ke hilir.

Sebenarnya tidak begitu buruk juga sih, di antara pembicaraan yang nyaris membosankan dan menegangkan, ada saat-saat dimana topik pembicaraan layaknya dua orang teman lama saling berbagi cerita masa lalu.

Ironisnya, ketika saya sudah terbiasa dengan gangguan si konsultan, proyeknya pun berakhir. 

Pengalaman ini kemudian membentuk persepsi saya bahwa pekerjaan konsultan adalah pekerjaan tingkat tinggi dibandingkan pekerjaan lainnya. Apalagi jika melihat slide-slide pembahaan masalah dan solusi yang diberikan dalam bentuk grafik ataupun materi presentasinya, rasanya kepala saya langsung dipenuhi bintang-bintang - seperti yang kerap digambarkan di komik anak-anak.

Hingga tibalah suatu hari ketika sebuah perusahaan pencari kerja menemukan profil saya dan menawarkan pekerjaan sebagai seorang konsultan loyalty di suatu perusahaan multinasional.

Entah sedang kesambet setan atau memang adrenalin saya sedang membutuhkan tantangan baru, saya segera mengiyakan tawaran tersebut untuk diproses lebih lanjut.

Singkat kata, termakan bujuk rayu, website si perusahaan multinasional, dan tantangan yang membuat adrenalin saya mengalir dengan cepat, saya pun akhirnya bekerja di perusahaan tersebut, dengan title yang lumayan membuat orang keblinger membacanya - walaupun bagi saya itu hanyalah sebuah title.

Dan tibalah hari yang selanjutnya merubah perjalan hidup saya menjadi amburadul. Betapa tidak amburadul, dari sisi mobilitas, dari sisi cara berpakaian, dari sisi pekerjaan, semuanya menjadi bertolak-belakang.

Pertama, gaya berpakaian, dari semula resmi dan formal menjadi berubah seperti cara berpakaian anak-anak ahensi periklanan. Menurut teman-teman saya di tempat baru ini, cara berpakaian saya hingga saat ini masih terkesan 'resmi'. Walaupun menurut saya, cara saya berpakaian sudah jauh berubah. Dari semula sibuk dengan blazer ataupun gaun-gaun yang resmi, sekarang blazer ditinggalkan, atau dari gaun resmi sekarang pelan-pelan beralih ke gaun-gaun yang lebih 'santai' atau 'sleeveless', dari sepatu yang selalu tertutup di bagian depan aka 'pump shoes' sekarang sudah berani menggunakan sepatu yang terbuka bagian depannya aka 'high heels sandals'.

Kedua,  sisi pekerjaan, dari semula berada di kantor sepanjang masa, sesekali bepergian ke luar kota atau mengontrol pekerjaan ahensi aka vendor. Sekarang hidup saya dihabiskan dengan berkelana dari gedung ke gedung. Dari semula perjalanan ke Bandung pasti menginap 1 malam, sekarang layaknya eksekutif kelas kakap, perjalanan ke Bandung pulang-pergi, hanya untuk meeting 1,5 jam saja.  Dari semula yang mengkontrol pekerjaan si ahensi aka vendor, sekarang berbalik saya yang dikontrol oleh mereka. Hehehe dari semula, 'memarahi' sekarang menjadi 'yang dimarahi'. Dari semula dikejar 'vendor' untuk segera melunasi tagihan mereka sekarang menjadi yang mengejar 'klien' untuk segera membayar pekerjaan yang sudah diselesaikan.

Ketiga, absensi, dari semula absensi hampir tidak pernah kelihatan wujud nyatanya, sekarang mendadak ada dunia baru bernama 'time-sheet'. Wujud baru yang membuat saya seperti berada di dalam penjara. Rasanya tidak ada gerak langkah saya yang tidak diikuti sipir penjara. Setiap hari  saya harus mengisi elektronik 'time sheet' yang mencatat semua langkah saya pada hari itu, berapa jam yang saya habiskan dengan klien A, atau klien B, berapa jam yang saya habiskan untuk mengurus masalah administrasi atau 'internal meeting' dengan team membahas klien A atau B. Tidak harus persis tetapi dari selembar catatan itulah, keuntungan yang didapatkan dari menjadi konsultan dihitung.

Belum lagi slides-slides presentasi yang harus dikerjakan, lengkap dengan gambar-gambar canggih dan memantaskan ide-ide atau laporan yang harus disampaikan ke klien, disamping 'research' yang harus dilakukan agar tidak ketinggalan berita atau ide, membuat saya terengah-engah sendiri.

Wong biasanya slides yang saya buat bukan a la konsultan sekarang harus dengan template konsultan. Terus terang sampai sekarang saya masih bingung, koq mudah sekali ya rekan kerja saya mengerjakan puluhan slides yang rumit dan bisa-bisanya dia bisa punya ide menggunakan gambar-gambar atau chart-chart indah.

Disamping menghitung biaya atau 'retainer fee' untuk sebuah proyek, membuat saya harus mampu berimajinasi, pekerjaan tersebut sebenarnya melibatkan siapa saja, jam yang dihabiskan oleh mereka yang terlibat, komponen apa saja yang harus ada - tidak hanya manusia tetapi sistem di belakangnya. Biaya yang menjadi penentu saat saya mengajukan proposal kerja kepada si klien. Biaya yang tidak saja harus menguntungkan buat si konsultan tetapi di satu sisi juga 'murah dan berkualitas' dari pandangan si klien.

Ya dunia baru, yang membuat saya tunggang-langgang dan membuat saya kerap bertanya-tanya dimana ya perasaan gembira ketika bertemu hari Jumat.

Tapi terlepas dari dunia amburadul itu, harus saya akui, hidup saya sekarang lebih berwarna, karena walaupun hidup saya seperti orang dikejar anjing gila, namun saya berkesempatan hidup di dunia yang berbeda-beda setiap saat. Dulu bekerja di industri yang sama sepanjang masa, sekarang dalam hitungan waktu, saya bisa berada di dua industri yang berbeda, membahas masalah yang sama, dengan pendekatan yang berbeda.

Rasanya seperti dokter yang mempelajari penyakit pasiennya, mencari formula atau pilihan obat dari buku MIMS yang tebal agar penyakit pasien bisa segera disembuhkan dan pasien bisa kembali beraktifitas.

Bagaimana tidak, setiap saat, saya harus mempelajari si klien, harus mampu menanyakan pertanyaan yang tepat agar bisa mendapatkan informasi yang tepat tentang keinginan si klien, yang pada umumnya tidak tahu persis apa yang mereka inginkan.

Saya pun jadi bertambah pengalamannya menjelajah jalanan rimba kota Jakarta, pertemanan saya dengan Waze dan Google Map pun semakin erat. Suatu ketika pernah pagi hari saya harus bepergian ke daerah industri di Bekasi dan siang harinya sudah harus berada di daerah TB. Simatupang. Atau pagi hari harus meeting di daerah Senopati, pindah berdiskusi di sebuah cafe di jalan yang sama, siang hari pindah ke kantor untuk bertemu team yang berbeda dan menjelang sore hari bertemu dengan klien di daerah Sudirman.

Penjelajahan yang membuat saya berpikir, kalau nanti saya pensiun sebagai konsultan, saya bisa melamar menjadi supir taksi Blue Bird yang canggih. Bagaimana tidak, saya harus berpacu dengan waktu, memilih jalan yang efisien agar bisa sampai di tempat klien dengan dandanan yang terjaga, senyum yang selalu mengembang setiap saat - walaupun harus diakui ada saat dimana saya pernah beberapa kali terpaksa harus menyimpan senyum saya di kedua sudut mulut saya - dan tentu saja tetap fokus terhadap kemauan klien.

Dan akhirnya saya pun berkesimpulan, pekerjaan dimana saja sama, tetapi kalau boleh memilih, rasanya saya ingin kembali ke 'client side' istilah yang dipergunakan bagi pekerja dengan status konsultan. Lama-lama lelah juga menjadi penjelajah Jakarta.






Posting Komentar