Jumat, 30 September 2016

Perempuan - Agama dan Akal Sehat



Beberapa waktu lalu,  di perbincangan grup whats app para alumni sebuah bank internasional tempat saya bekerja dulu, tiba-tiba seorang teman perempuan menulis, ‘semenjak saya berhenti, saya bergabung di taklim-taklim, sehinga jadi tahu dalilnya untuk muslimah.  Saya menemukan artikel bagus di majalah Sunnah, tentang bahaya jalan sendirian bagi wanita tanpa mahrom, dalilnya,’Tidak halal seorang wanita keluar rumah mahrom’.  Jadi sekarang saya tidak pernah keluar rumah kalau tidak ada teman sesama muslimah atau mahrom.’

Saya pun menemukan sebuah artikel tentang ‘8 Sifat WanitaTerbaik  yang sebaiknya diikuti seorang muslimah, di antaranya wanita itu sebaiknya betah di rumah, memiliki rasa malu, menjaga kehormatan anak dan suami.

Membaca pesan yang disampaikan teman melalui grup whats app dan membaca artikel yang ditulis oleh seseorang yang memiliki sederet gelar, membuat saya terhenyak. Bedanya yang satu perempuan dan yang satunya lagi laki-laki.

Saya tidak mempermasalahkan masalah pakaian yang harus dikenakan, yang saya permasalahkan adalah doktrin yang dikemukakan dalam artikel itu, dimana perempuan menjadi ‘obyek’ laki-laki dan bukan ‘subyek’

Dan yang menyedihkan, perempuan yang menerima dalil-dalil itu serta merta menerimanya tanpa berusaha menggunakan akal sehatnya, tanpa berusaha mencari tahu dari orang yang layak untuk dipercaya.

Bagi saya, ketika saya berdandan, menggunakan parfum, berarti saya menghargai diri saya sendiri sebagai seorang perempuan, yang tahu bagaimana membawa diri di dalam keluarga maupun ketika saya berada di tempat umum.

Bagi saya, ketika saya bekerja, berarti saya menghargai jerih payah orang tua saya yang sudah menyekolahkan saya, di samping membantu mereka yang bergantung kepada saya secara finansial.

Bagi saya, ketika saya harus berjabat-tangan dengan pria di kantor, bukan berarti saya ingin menggoda mereka, saya berjabat-tangan untuk menghargai mereka. Atau ketika menjadi satu-satunya perempuan di antara kumpulan para laki-laki, bukan berarti saya tidak memiliki rasa malu, salah siapakah hingga kemampuan saya membuat saya menjadi pemimpin bagi para laki-laki itu?

Bersuara merdu ketika menjawab telepon? Mungkin mereka lupa ajaran sopan-santun yang diajarkan oleh para orang tua mereka dulu jika kita hendak menyapa seseorang. Bukankah akan sangat kurang ajar jika kita menjawab telepon seseorang dengan membentak-bentak? Atau bahkan tidak menjawab telepon itu sama sekali?

Bepergian seorang diri? Jika memang dalil itu benar, tentu para wanita di Arab Saudi tidak melakukan gerakan menentang peraturan tersebut.  Apakah saya harus menunggu hingga anak saya kembali dari sekolah, atau keponakan atau suami, jika saya ingin membeli sayur di pasar, misalnya.

Memahami suatu ayat, tidaklah cukup dengan mengambil penggalan ayat tersebut dan menerjemahkannya secara buta tanpa berusaha memahami latar-belakang ketika ayat tersebut disampaikan dan juga budaya yang menjadi landasan ayat tersebut dicetuskan.

Memahami ayat dengan keyakinan semata tanpa menggunakan akal sehat, sama saja seperti perumpaan orang buta yang bercerita tentang gajah.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa Tuhan mencintai setiap makhluk ciptaannya, bahwa pria dan wanita setara di mata Tuhan.

Agama, disadari atau tidak, juga berevolusi. Sejarah membuktikan evolusi tersebut, contoh utama Galileo-Galilei, betapa Gereja Katolik mendera ilmuwan tersebut karena dianggap bertentangan dengan ajaran Gereja, dianggap merusak iman Katolik, sebelum akhirnya di tahun 1992, Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa hukuman yang diberikan kepada Galileo-Galilei salah.

Agama, disadari atau tidak, tentu saja menyatu dengan kultur dan budaya dimana agama itu berada, seperti yang disampaikan Prof. Ali Dasani,Phd, Harvard University, dalam kuliahnya tentang Islam.     

Dan pembodohan-pembodohan yang terjadi sekarang ini, yang justru diterima mentah-mentah oleh mereka yang notabene berpendidikan, bagi saya lebih karena agama saat ini menjadi bagian dari ‘status sosial’ bukan lagi bagian dari hubungan pribadi dengan Sang Pencipta.  Keengganan untuk mencari tahu dan 'berbeda pendapat' melekat erat,  mengalahkan akal sehat.
Posting Komentar